Kabar Tokoh
Novel Baswedan Tanggapi Laporan Dewi Tanjung: Saya Khawatir Dia Ngerjain Polisi
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan memberikan tanggapan soal pelaporan kader PDIP Dewi Tanjung.
Penulis: Tiffany Marantika Dewi
Editor: Ananda Putri Octaviani
Dewi mengatakan aksi yang dilakukannya bukan karena dirinya ingin terkenal.
"Ini bukan Nyai pengen ngetop atau terkenal," kata dia.
Ia mengatakan dirinya tidak perlu mencari sensasi untuk jadi terkenal.
"Buat apa cari sensasi, orang-orang sudah kenal siapa Dewi Tanjung," jelasnya.
"Jadi enggak perlu lagi cari-cari sensasi," sambungnya.
Lalu dia berkata ada pihak yang menuduh dirinya mencari sensasi hingga memfitnahnya.
"Cuma biasa bagian-bagian sana selalu menuduh Nyai mencari sensasi, memfitnah, padahal enggak memfitnah," katanya.
Dewi menegaskan dirinya hanya ingin mengungkap fakta soal kasus Novel.
"Nyai hanya membuka fakta kebenearan, dan logika kita dalam berfikir," tambahnya.
Ia kemudian membahas ada kemungkinan kasus yang dialami Novel adalah rekayasa, untuk menyelewengkan anggaran berobatnya sebesar Rp 3,5 miliar.
"Novel ini setelah memakai anggaran negara 3,5 miliar, kalau sampai ini adalah rekayasa, dan bohong-bohong, alangkah jahatnya novel," jelas dia.
Menurut Dewi jika benar kasus Novel adalah rekayasa, maka Novel telah membohongi presiden dan rakyat Indonesia.
"Karena dia telah membohongi pertama presiden, kedua seluruh rakyat Indonesia hampir 285 juta jiwa penduduk Indonesia terbohongi," katanya.
Dewi bersikeras untuk membuktikan kebenaran kasus Novel.
"Kalau sampai ini tidak benar (kasus Novel), makannya Nyai mendorong pihak kepolisian untuk membuka fakta kebenaran," lanjutnya.
Kemudian ia menyindir Novel apakah kasusnya benar-benar disiram air keras atau sekadar diteteskan air keras.
"Bahwa ini adalah kasusnya riil, disiram atau ditetesin sama air keras?," tutur Dewi.
Video dapat dilihat mulai menit 0.40:
Kasus Penyiraman Novel Baswedan
Dilansir TribunWow.com dari Tribunnewswiki.com, Selasa (5/11/2019), Penyerangan terhadap Penyidik Senior KPK Novel Baswedan terjadi pada tahun 2017
Saat ia menangani kasus korupsi E-KTP, pada 11 April 2017, usai salat subuh di Masjid Al Ikhsan, Jakarta, Novel disiram dengan air keras oleh orang tak dikenal.
Cipratan air keras tersebut mengenai muka dan matanya.

Teror tersebut tak membuat gentar Novel.
Ia pun menyadari risiko pekerjaannya dan justru ia semakin yakin akan pekerjaanya membongkar kasus korupsi adalah bagian jalan hidupnya.
Perjalanan kasus Novel Baswedan belum menemui titik temu hingga saat ini.
Bahkan, perbincangan tentang kasusnya masih ramai diperbincangkan terutama akhir-akhir ini.
Penyerangan air keras terhadap Novel Baswedan, membuat publik begitu geram.
Tidak hanya itu, fotonya yang tengah mengantre di sebuah bandar udara beredar luas di media sosial Twitter.
Fotonya tersebut diunggah salah satu akun di Twitter dengan diikuti narasi bahwa Novel disebut mau jalan-jalan.
• Kasus Penyerangan Dirinya Dituding Rekayasa, Novel Baswedan Beri Penjelasan
Dilansir dari Tribun Batam, namun hal tersebut dibantah pihak KPK, dan dijelaskan Novel berangkat ke Singapura untuk melakukan melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kesehatannya.
Ketua Wadah Pegawai KPK, Yudi Purnomo menilai terpaan isu miring di media sosial, terutama terkiat Novel mencerminkan jalan pemberantasan korupsi tidak mudah.
Yudi memandang terpaan isu miring itu tak lepas dari peran Novel dalam menangani kasus-kasus besar.
Novel diketahui menangani sejumlah kasus besar, mulai dari kasus e-KTP, suap hakim MK Akil Mochtar, suap wisma atlet SEA Games, kasus Simulator SIM hingga kasus cek pelawat yang melibatkan Nunun Nurbaeti.
Puncaknya adalah saat Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 silam.
Namun hingga kini pengusutan kasusnya masih gelap.
Belum ada satu pun pelaku lapangan yang terungkap.
(TribunWow.com/Tiffany Marantika/ Anung Malik)