Terkini Nasional
Eko Kuntadhi Blak-blakan Ungkap Fenomena Buzzer Politik Bagian dari Bisnis, Lihat Hasil Riset Oxford
Pegiat media sosial Eko Kuntadhi blak-blakan membahas soal fenomena buzzer yang kini marak diperbincangkan.
Penulis: Laila N
Editor: Mohamad Yoenus
TRIBUNWOW.COM - Pegiat media sosial Eko Kuntadhi blak-blakan membahas soal fenomena buzzer yang kini marak diperbincangkan.
Dilansir oleh TribunWow.com dari tayangan YouTube Talk Show tvOne, Eko bahkan menyebut bahwa buzzer telah menjadi bagian dari bisnis, Senin (7/10/2019).
Dikutip dari Kompas.com, pengamat media sosial Enda Nasution menyebut bahwa buzzer merupakan akun-akun di medsos yang tak punya reputasi.

• Dituding sebagai Buzzer karena Masalah Ratna Sarumpaet, Rocky Gerung: Saya di Atas Gunung
• 5 Poin Kuasa Hukum 02 soal Polisi dan BIN Tak Netral, singgung Tim Buzzer hingga Cuitan Karni Ilyas
"Buzzer biasanya lebih ke kelompok orang yang tidak jelas siapa identitasnya," ujarnya, Jumat (8/10/2019).
"Lalu kemudian biasanya memiliki motif ideologis atau motif ekonomi di belakangnya dan kemudian menyebarkan informasi."
Buzzer biasanya menyebabkan dampak kebingungan di masyarakat.
Selain itu, rakyat juga menjadi terjebak dalam popularism, dalam artian mengganggap apa yang paling populer itulah yang benar.
Sementara itu, Eko mengatakan bahwa informasi yang disebar oleh buzzer dimanfaatkan oleh pebisnis.
"Buzzer ini fenomena global dan bisnis itu, ketika media sudah tersebar, akhirnya dimanfaatkan oleh para pebisnis," kata Eko.
"Jadi buzzer ini awalnya bagaimana mengkampanyekan sesuatu."
"Dia bisa manusia, dia bisa bot, tapi fungsi dia cuma mendengungkan."
• Bantah Tuduhan Andi Arief soal Buzzer, Andre Rosiade: Sampaikan Langsung, Tidak Cuit di Media Sosial
"Pesannya sudah ada, mereka cuma mendengungkan, itu fungsinya, jadi dia tidak menulis ide, dia tidak punya opini, cuma mendengungkan."
Eko lantas membandingkan buzzer dengan influencer.
Menurut Enda Nasution, influencer merupakan akun yang jelas orang di baliknya.
"Kalau influencer itu mereka memiliki nama asli dan latar belakang yang jelas, contohnya Denny Siregar," ucapnya.
Sementara itu, menurut Eko, influencer menuliskan pikiran dan tulisannya di media sosial.
"Influencer itu dia menuliskan opininya, dia menuliskan pikiran-pikirannya di media sosial," tutur Eko.
"Kemudian terdistribusi ke pengguna media sosial, jadi ini memang berbeda dengan buzzer," imbuhnya.
Eko mengungkapkan, bahwa selama ini buzzer rata-rata tidak memiliki banyak followers atau pengikut.
"Buzzer itu enggak punya banyak followers," kata Eko.
Mendengar hal itu, pembawa acara langsung kaget.
"Oya? Lalu bagaimana kemudian buzzer itu begitu ramai, komennya terlihat di lalu lintas di Twitter dan sebagainya, sehingga memengaruhi opini publik?," tanya pembawa acara.
Eko lantas kembali menyinggung soal bisnis buzzer.
"Karena dia aktif, karena dia juga bagian dari bisnis, dia enggak punya followers, dia asal komen saja di mana-mana," jawab Eko.
"Bisnis artinya ada yang membayarnya?," ujar pembawa acara kembali bertanya.
"Oya, ini kan sebenarnya fenomenya bukan di politik awalnya, di bisnis biasa," kata Eko.
• Titelnya Dipertanyakan Ruhut, Rocky Gerung Akui Tak Lulus di 4 Fakultas: Tapi Saya Ngajar sampai S3
"Di arus politik selama politik kontestasi yang juga mirip mendagangkan ide, mendagangkan sesuatu kan, memilih orang, kan kita memilih langsung, jadi ini bagian dari marketing politik."
"Mungkin ada yang pakai, seperti risert Oxford, yang pakai politisi, partai, itu kan yang menggunakan," lanjutnya.
Eko menyingung soal riset Oxford yang dilakukan pada tahun 2018 dan diterbitkan pada 2019, di mana saat penelitian, Indonesia sedang dalam kondisi ramai politik.
"Itu Indonesia lagi ramai-ramainya kampanye politik, pilpres, pileg, jadi para kandidat itu mungkin saja menggunakan baik pilpres maupun pileg."
"Ini proses marketing biasa saja menurut saya," kata Eko.
• Balas Sindiran Ruhut Sitompul, Rocky Gerung: Ruhut Enggak Usah Jawab, Buka Google Saja
Data Hasil Riset Oxord
Media sosial yang paling banyak digunakan buzzer:
Jenis akun media sosial:
- Akun Manusia
- Akun Bot
Strategi Buzzer:
- Menyebarkan informasi yang menyesatkan (disinformasi)
- Memperkuat pesan dengan membanjiri media sosial dengan tagar (hastag) supaya menjadi topik populer (trending topic)
Pengguna Buzzer:
- Politikus
- Partai Politik
- Kontraktor swasta
Profil Buzzer di Indonesia:
- Bekerja secara temporer
- Multiple contract
- Bayaran Rp 1-50 juta
- Kapasitas rendah (tim kecil dan aktif pada momen tertentu)
• Bandingkan Dirinya dengan Rocky Gerung, Denny Siregar Mengaku Influencer Beretika dan Tak Kasar
Simak videonya di bawah ini mulai menit awal:
(TribunWow.com/Lailatun Niqmah)