Rusuh di Papua
Di Mata Najwa KontraS Singung Kasus Kemanusiaan di Papua: Kita Lihat Apa yang Dilakukan Jakarta
Sekjen Federasi KontraS, Andy Irfan Junaedi menyinggung mengenai kasus kemanusiaan yang terjadi di Papua. Di Nduga, ada ratusan pengungsi meninggal.
Penulis: Roifah Dzatu Azma
Editor: Mohamad Yoenus
Najwa Shihab tampak mengangguk kecil mendengar ucapan Andy tersebut.

Dijelaskan Andy, bahwa Papua membutuhkan guru, bukan senjata.
Bahkan ia menyinggung jika masyarakat non Papua yang datang ke Papua Human Development Index (Indeks Pembangunan Manusia) lebih meningkat dibanding masyarakat Papua sendiri.
"Yang dikirim tentara, orang Papua butuh guru. Bukan butuh senjata. Orang Papua butuh ilmu, bukan dicaci. Itu yang penting," ungkapnya.
• Ungkap Alasan Mahasiswa Papua Tolak Risma hingga Fadli Zon, KontraS: Mau Kasih Apa? Perjelas Dulu
"Atau kita cek hasil pembangunan, Human Development Index di Papua, orang Papua asli HDI-nya rendah. Orang non-Papua yang datang ke Papua HDI-nya meningkat. Itu fakta," sebut Andy.
Gubernur Papua, Lukas Enembe lalu menambahkan.
"Orang Papua butuh kehidupan. Bukan pembangunan," ujar Lukas.
"Ya butuh kemanusiaan," tambah Andy.
"Itu bukan untuk orang Papua, orang Papua tidak pernah lewat jalan yang dibangun. Orang Papua tidak butuh apa-apa. Mereka perlu kehidupan," paparnya," pungkas Lukas.
Lihat video dari menit ke 5.10:
Konflik Nduga Papua
Dikutip TribunWow.com dari BBC.com, Rabu (14/8/2019), Tim Kemanusiaan yang dibentuk Pemerintah Kabupaten Nduga, menyatakan 182 pengungsi meninggal di tengah konflik bersenjata.
Sedangkan korban meninggal dari 182 orang, 113 orang adalah perempuan.
"Anak-anak ini tidak bisa tahan dingin dan juga ya makan rumput. Makan daun kayu. Segala macam yang bisa dimakan, mereka makan," kata John Jonga, Rabu (14/08/2019).
"Ini sudah tingkat pelanggaran kemanusiaan terlalu dahsyat. Ini bencana besar untuk Indonesia sebenarnya, tapi di Jakarta santai-santai saja," tambahnya.