Pilpres 2019
Pengamat Politik Beberkan Alasan Pertemuan Prabowo dan Jokowi Sulit Terjadi, Minta Publik Bersabar
Pengamat politik Adi Prayitno membeberkan apa faktor yang menyebabkan pertemuan antara Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto sulit terjadi.
Penulis: Ananda Putri Octaviani
Editor: Claudia Noventa
TRIBUNWOW.COM - Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno membeberkan apa faktor yang menyebabkan pertemuan antara calon presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dan lawan politiknya Prabowo Subianto sulit terjadi.
Diberitakan TribunWow.com dari Kompas.com, Adi menilai, sulitnya pertemuan tersebut disebabkan oleh fragmentasi politik yang besar di masyarakat.
Adi memaparkan, fragmentasi politik di masyarakat ini dampaknya jauh lebih besar saat Pilpres 2019 jika dibandingkan dengan Pilpres 2014.
• Sandiaga Uno Beberkan Agenda Selanjutnya dengan Prabowo Subianto setelah Kalah di Pilpres 2019
Karena fragmentasi politik yang ekstrim itulah, ungkap Adi, Prabowo jadi mempertimbangkan masak-masak rencana pertemuannya dengan Jokowi.
Hal ini, menurut Adi, demi menghormati para pendukung Prabowo-Sandi yang masih menganggap bahwa terjadi kecurangan di Pemilu 2019.
"Prabowo ingin menghormati pendukungnya yang sejauh ini masih menganggap pemilu 2019 curang," kata Adi, Senin (1/7/2019).
"Jadi, kalau tiba-tiba Prabowo bertemu Jokowi dan memberikan ucapan selamat, pendukungnya akan menganggap hal itu tidak wajar," tambah dia.
• Serukan Gerindra, PKS, dan PAN Tetap Jadi Oposisi, Politisi Nasdem: Itu akan Baik bagi Rakyat
Namun, Adi meyakini, rencana pertemuan antara Jokowi dan Prabowo tentu akan tetap terjadi.
Sehingga, dirinya meminta publik untuk bersabar sedikit lebih lama agar dapat menyaksikan pertemuan tersebut.

"Publik juga harus sabar karena fragmentasi politik membuat pendukung Prabowo juga tidak bisa langsung move on. Kalau Pilpres 2014 memang lebih mudah bagi Prabowo dan Jokowi bertemu karena fragmentasi politiknya tidak ekstrem," papar dia.
"Sekarang logikanya dibalik, Prabowo dan Sandi harus mengucapkan selamat kepada Jokowi-Ma'ruf, kan pemilu sudah selesai, hormatilah rakyat Indonesia," sambung dia.
• Nilai Gerindra Bosan Jadi Oposisi, Pengamat Politik Bandingkan Sikap Prabowo pada Pilpres 2014
Sementara itu, Anggota Dewan Penasiha DPP Partai Gerindra, Raden Muhammad Syafi'i, memberikan penjelasan soal kemungkinan pertemuan antara Jokowi dan Prabowo.
Mengutip Kompas.com, Syafi'i menyebutkan, pertemuan antara Jokowi dan Prabowo sangat mungkin terjadi.
"Pertemuan antar tokoh nasional saya kira itu sangat mungkin terjadi. Tapi konten pertemuan itu seperti apa saya kira itu masih menjadi sebuah tanda tanya," kata Syafi'i di Gedung DPR, Senin (1/7/2019).
Ia menjelaskan, pertemuan antara Jokowi dan Prabowo itu belum tentu berupa rekonsiliasi yang berwujud bagi-bagi jabatan.
Pasalnya, Syafi'i meyakini Gerindra akan mengambil posisi sebagai oposisi dan tak akan menerima tawaran jabatan dari koalisi Jokowi-Ma'ruf.
"Apakah isi pertemuan itu tentang rekonsiliasi seperti dimaksudkan para pengamat politik, saya kira itu saya belum bisa memberi jawaban, karena saya belum melihat Pak Prabowo punya pemikiran ke arah itu," ujar Syafi'i.
(TribunWow.com)
WOW TODAY: