Terkini Internasional
China Dituduh Ambil Paksa Organ Narapidana Pengikut Falun Gong dan Uighur, Ini Faktanya
Tiongkok dituding mengambil paksa organ anggota kelompok sipiritual Falun Gong dan Uighur untuk transplantasi.
Penulis: Laila N
Editor: Astini Mega Sari
TRIBUNWOW.COM - Isu perdagangan organ manusia di China kembali menjadi sorotan dunia.
Tiongkok dituding mengambil paksa organ anggota kelompok sipiritual Falun Gong dan Uighur untuk transplantasi.
Dikutip TribunWow.com dari Abc.net.au, sebuah panel pengacara dan para ahli mengatakan ada kemungkinan potensi genosida dalam kasus ini, Selasa (18/6/2019).
Mereka mengatakan telah mendengar bukti yang jelas, bahwa pengambilan organ secara paksa terjadi selama setidaknya 20 tahun.
Sementara itu, Beijing telah berulang kali membantah tuduhan tersebut.
• Awas, Penumpang Cancel Order Grab Kini Bakal Didenda, Segini Jumlah dan Ketentuannya
Mereka mengatakan berhenti menggunakan organ dari tahanan yang dieksekusi pada 2015.
Akan tetapi, kelompok independen yang meneliti kasus ini menyebut bahwa praktik pengambilan organ tahanan masih berlangsung.
Falun Gong adalah kelompok spiritual berbasis meditasi yang dilarang Tiongkok 20 tahun lalu, setelah 10.000 anggotanya muncul di kompleks kepemimpinan pusat di Beijing dalam demo diam-diam.
Ribuan anggota telah dipenjara.
Tidak terlalu jelas apakah minoritas Muslim Uighur juga menjadi korban, pengadilan menemukan, mereka rentan terhadap "digunakan sebagai bank organ".
• Fenomena Baru Mahasiswi di China Jual Sel Telurnya seharga Ratusan Juta
"Kesimpulannya menunjukkan bahwa sangat banyak orang yang mati mengerikan tanpa alasan," kata pengadilan independen di London yang diketuai oleh Sir Geoffrey Nice, yang bekerja di Pengadilan Kejahatan Internasional untuk Bekas Yugoslavia dan memimpin penuntutan mantan presiden Serbia Slobodan Milosevic dalam putusan.
Peraturan pemerintah Tiongkok mengatakan donasi organ manusia harus sukarela dan tanpa pembayaran, kata juru bicara kedutaan Tiongkok di London.
"Kami berharap rakyat Inggris tidak akan disesatkan oleh desas-desus," kata jurubicara itu dalam pernyataan yang dikirim melalui email sebelum putusan pengadilan terakhir dikeluarkan.
Skeptisisme tentang temuan pengambilan organ
Tiongkok di masa lalu mengatakan bahwa "organ-organ yang ditransplantasikan sesuai dengan prinsip-prinsip etika" dan "kami bersikeras bahwa warga Tiongkok secara sukarela menyumbangkan organ-organ mereka setelah kematian".