Ternyata Masyarakat Gemar Berbagi Konten Negatif di Youtube Demi Jumlah 'Like'
Youtube membawa pengaruh besar bagi masyarakat ketika hendak mengunggah konten. Konten yang menarik akan membuahkan jumlah like yang banyak.
Editor: Mohamad Yoenus
Jumlah sebanyak itu harus diblokir dalam waktu empat hari karena waktu kerja masing-masing anggota ICT Watch untuk memblokir adalah dua hari per minggu.
Sosiolog Daisy Indira Yasmine menjelaskan alasan sosiologis mengapa banyak orang lebih senang mengunggah konten negatif.
Menurutnya, secara sosiologi sesuatu yang berbeda dari norma umum memang tampak lebih menarik.
Ia mencontohkan, humor.
Sebuah humor seringkali dianggap lucu ketika menampilkan nilai yang berbeda atau berlawanan dengan nilai utama masyarakat umum.
Sama halnya dengan konten di internet.
Hal ini memang menjadi paradoks.
Sebab konten-konten negatif sebetulnya sudah dilarang untuk tayang.
Misalnya, konten kekerasan.
"Semakin kekerasan dilarang, di satu sisi kita tahu bahwa kalau ada yang menyajikan kekerasan dalam sesuatu yang biasa, itu pasti akan jadi sesuatu yang viral, menarik, dan pasti orang ingin lihat," kata Ketua Pusat Kajian Sosiologi-LabSosio LPPSP UI ini.
Fenomena ini menurutnya menjadi kritik bagi kita dalam memproses konten di media sosial. Tidak cukup hanya berhenti pada melihat isi konten saja, tapi perlu melihat nilai di belakangnya.
"Seakan orang itu cuma stop di situ. Seru nih, kalau bunuh diri di-videokan, itu kan jarang. Tapi moralitasnya gimana kalau bunuh diri direkam?" ucapnya.
Menurut Daisy, penting ada keseimbangan regulasi sebagai salah satu kontrol sosial yang paling bisa dipegang dalam berbagai sisi.
Regulasi yang dimaksud adalah cuma dari sisi pemerintah, tapi juga norma dan nilai umum.
Penting untuk ada internalisasi dan dijelaskan alasan (reasoning) kepada masyarakat secara umum, mengapa kekerasan adalah hal yang buruk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/youtube_20171204_143022.jpg)