Liga Indonesia

Surat Terbuka Bonek kepada Jokowi, Ajak Presiden Mbonek hingga Singgung Larangan Dukung Persebaya

Seorang Bonek mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Surat Terbuka Bonek kepada Jokowi, Ajak Presiden Mbonek hingga Singgung Larangan Dukung Persebaya
SUCI RAHAYU/BOLASPORT.COM
Pendukung Persebaya Surabaya, Bonek, memenuhi Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Jawa Timur (23/01/2018) Selasa malam, untuk mendukung Persebaya Surabaya saat melawan Perseru Serui pada pekan kedua Piala Presiden 2018 Grup C. 

Jika ada bencana di negeri ini, kami pun tak kalah sigapnya bereaksi. Sudah berapa banyak uang yang kami himpun dan kami salurkan untuk para korban bencana tersebut. Semua kami lakukan tulus demi rasa kemanusiaan. Tak lebih.

Bahwa semuanya jauh dari publikasi dan riuh tepuk tangan yang mengiringi, tak masalah. Karena kami percaya, kerja kebaikan ini, transaksinya langsung sama Tuhan.

Maaf Pak, jenengan mungkin pernah dengar Dolly kan? Dulu, kawasan ini pernah disebut sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Beberapa tahun lalu, sama Bu Risma, Dolly ditutup dan sekarang berubah fungsi, Alhamdulillah.

Bonek yang di sana pun ikutan berubah. Kini, mereka mulai belajar sholat, baca Al-Quran, mengikuti pengajian dan syiar kebaikan lainnya. Bolehlah, kalau nanti bapak jadi ke sini, bersama menyapa teman-teman Bonek Jarak Dolly City (BONJARLITY).

Pak Jokowi. Masih banyak kerja kebaikan yang telah kami jalani. Ada Bonek Hijrah, Bonek Shalawatan dan elemen-elemen lain yang terus berlomba-lomba dalam menanam kebaikan. Tapi, rasanya dzolim bila disebutkan semua, di tengah kesibukan bapak yang berjibun seperti sekarang ini.

Kami tahu, kerja-kerja kebaikan seperti itu tak boleh ditunjuk-tunjukkan. Guru-guru kami pun mengingatkan akan hal itu. Tetapi, ijin kami menyampaikan pada Bapak. Sebagai orang nomor satu di Republik ini.

Kenapa? Pak, kami risau.

Disaat kerja kebaikan terus kami gelorakan, kami sangat kecewa dengan perlakuan yang kami terima. Gerak kami dibatasi. Bukan oleh warga biasa, tetapi institusi pemerintahan dan Negara. Kami dengar selentingan, tak boleh mendukung Persebaya main di wilayah tertentu di Indonesia. Salah kami apa?

Jika memang ada pengalaman kelam di masa lalu, apakah pelarangan ini menjadi jalan keluar? Bukankah ini semacam cara instan lari dari masalah dan kenyataan?

Karena itu, kepada bapak kami mengadu.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: Maria Novena Cahyaning Tyas
Editor: Lailatun Niqmah
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved