Pemilu 2019

Soal Ada Konglomerat di Balik PSI, Dedek Prayudi: Kalau Titip Kepentingan, Ngapain ke Partai Kecil?

Jubir PSI Dedek Prayudi jawab pertanyaan soal adanya konglomerat di balik partainya yang mengeluarkan uang banyak untuk menitipkan kepentingannya.

Soal Ada Konglomerat di Balik PSI, Dedek Prayudi: Kalau Titip Kepentingan, Ngapain ke Partai Kecil?
Instagram @uki_dedek
Jubir PSI Dedek Prayudi 

Menurut Dedek, akan lebih menguntungkan dan jauh dari resiko besar jika konglomerat menitipkan kepentingannya pada partai besar.

Namun, Dedek tidak menampik jika ada pihak-pihak yang memberikan sumbangan dana pada PSI.

PSI menegaskan, mekanisme yang digunakan dalam hal ini adalah skema politik partisipatif yang memberikan ruang bagi publik untuk menjadi bagian penting partai politik.

Menurut Dedek, skema seperti itu akan menghindarkan PSI dari politik oligarki atau politik dinasti.

Berikut kicauan lengkap Dedek mengenai hal tersebut:

"Kalau yang dimaksud adalah ada konglomerat yang mengendalikan kami, atau ada konglomerat yang menitipkan kepentingannya melalui @psi_id, jawabannya adalah: TIDAK ADA.

Gantikan Romahurmuziy, Suharso Monoarfa Dikukuhkan sebagai Plt Ketum PPP Lewat Mukernas

Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedek Prayudi jawab pertanyaan soal adanya konglomerat di balik partainya yang mengeluarkan uang banyak untuk menitipkan kepentingannya.
Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedek Prayudi jawab pertanyaan soal adanya konglomerat di balik partainya yang mengeluarkan uang banyak untuk menitipkan kepentingannya. (Twitter @Uki23)

Mari pakai logika bisnis, kalau memang ada konglomerat yang mau menitipkan kepentingannya, ngapain ke partai kecil, partai baru yang investment nya besar, risk nya juga besar. Kenapa konglomerat itu tidak titipkan kepentingannya ke Partai Besar yang sudah tinggal petik?

Kalau pertanyaannya apakah ada yang menyumbang ke @psi_id, ya ada. Mekanisme kami juga jelas dengan skema politik partisipatif. Mereka yang menyumbang ke kami, terlepas angka nya berapa, tidak dibedakan.

Skema politik partisipatif memberikan ruang bagi publik untuk menjadi bagian penting partai politik. Skema yang mirip digunakan juga di AS. Publik diberi ruang untuk bersuara dan mengawasi kebijakan partai. Skema ini justru menghindarkan @psi_id dari politik oligarki/dinasti," tulis Dedek.

Suharso Monoarfa Komentari Penangkapan Romahurmuziy: Kuda saja Tak Pernah Jatuh ke Lubang yang Sama

Sementara itu, dalam acara Mata Najwa bertajuk 'Transaksi Haram Politik' yang tayang di Trans7, Rabu (20/3/2019) malam, Donal menyampaikan, ada beberapa kelas politik di internal partai.

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: Ananda Putri Octaviani
Editor: Rekarinta Vintoko
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved