Kabar Tokoh
Tulis soal Refleksi di Tahun 2018 Menurut Kementrian Keuangan, Sri Mulyani: Bukan Tahun yang Mudah
Dalam catatan refleksi tahun 2018, Sri Mulyani mengatakan tahun lalu merupakan tahun yang tidak mudah bagi kementrian keuangan.
Penulis: Tiffany Marantika Dewi
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
TRIBUNWOW.COM - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati memberikan catatan refleksi di akhir tahun 2018.
Tulisan itu diunggah Sri Mulyani melalui Facebook Sri Mulyani Indrawati pada penghujung tahun 2018, Senin (31/12/2018).
Dalam tulisannya ia mengatakan bahwa tahun 2018 bukan tahun yang mudah bagi kementrian keuangan (Kemenkeu).
Dikarenakan adanya ekonomi global, hingga gejolak nilai tukar rupiah.
Selain itu ada juga faktor yang tidak bisa diprediksi seperti bencana alam.
Di luar peristiwa tersebut, Sri Mulyani mengklaim APBN 2018 ditutup dengan capaian yang baik.
Berikut ini tulisan refleksi tahun 2018 dari Sri Mulyani.
• Sri Mulyani Sindir Pengamat yang Kritik Jokowi soal Freeport: Semakin Kosong Semakin Jumawa
"Refleksi akhir tahun.
Seluruh jajaran Kemenkeu yang saya cintai dan banggakan, tahun 2018 baru saja kita lalui. Alhamdulillah, tugas pengelolaan APBN dan Keuangan Negara telah kita tunaikan dengan baik. Tahun 2018 bukanlah tahun yang mudah : ekonomi global, harga komoditas, arus modal dan nilai tukar bergejolak tinggi, suku bunga global dan dalam negeri mengalami kenaikan; perdagangan global masih lesu dan tidak menentu, dan ancaman kejahatan perpajakan, penyelundupan narkoba, dan perdagangan illegal terus mengancam.
Bencana alam menimpa di beberapa daerah dan Kemenkeu juga mengalami musibah tewasnya 21 jajaran Kemenkeu dalam kecelakaan pesawat. Semua itu dapat menjadi alasan kita untuk patah semangat.
Namun kita dan Indonesia tidak pernah menyerah! Indonesia bahkan menjadi tuan rumah event internasional bergengsi : Asian Games dan Para Games, dan Pertemuan Tahunan IMF/World Bank yang semuanya berjalan dan berhasil sukses. Dunia menghargai dan menghormati Indonesia.
APBN 2018 kita tutup dengan capaian sangat baik.
(1) Penerimaan negara baik pajak, bea cukai, dan penerimaan negara bukan pajak tumbuh tinggi dan sehat, terimakasih pada seluruh jajaran yang mengelola penerimaan negara.
(2) Belanja negara juga terealisir dengan baik, di pusat maupun daerah.
(3) Pembiayaan mengalami kontraksi, dengan defisit APBN sebesar 1.72% dari PDB, jauh lebih rendah dari angka UU APBN 2018 sebesar 2,19%. Ini adalah defisit terkecil sejak 2012.
(4) Keseimbangan primer adalah sebesar Rp 4,1 Triliun, ini surplus keseimbangan primer sejak 2011. Prestasi..!!
Kita akan terus menjaga APBN dan Keuangan Negara secara profesional, hati-hati dan bertanggung jawab. Kita terus melakukan pembiayaan yang inovatif baik melalui kerja sama pemerintah dan Badan Usaha/ Swasta maupun dengan "Blended Finance". Agar Partisipasi swasta dan masyarakat terus meningkat, sehingga mereka ikut memiliki proses dan proyek pembangunan.
APBN dan Kebijakan Fiskal telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat : membantu keluarga miskin untuk makan, sekolah, kesehatan, mendukung operasi sekolah dan madrasah, meningkatkan pendidikan vokasi dan beasiswa bagi dosen, santri, murid/mahasiswa miskin, dan mereka yang berprestasi.