Reuni Akbar 212
Rocky Gerung dan Effendi Gazali Tanggapi Kolase Foto Prabowo-Jokowi di ILC terkait Aksi Reuni 212
Rocky Gerung dan Effendi Gazali tanggapi sebuah kolase foto Jokowi dan Prabowo dengan background reuni akbar 212 Minggu (2/12/2018). Ini Beda Keduanya
Penulis: Nila Irdayatun Naziha
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
"Bayangkan misalnya kalau TV One, pada waktu itu gensetnya mati, listriknya korslet, maka enggak ada yang memberitakan peristiwa sejarah itu,"
"Jadi kalau pers nasional tidak memberitakan itu, itu artinya pers memalsukan sejarah, karena orang enggak pernah tahu, ada satu peristiwa, mau dikasih nama apa saja itu, dengan kumpulan orang sebanyak itu, dengan ketertiban intelektual tapi tidak dimuat oleh pers," lanjutnya.
Rocky lantas menegaskan jika pers tidak memberitakan tentang aksi reuni 212, maka pers indonesia dikatakannya telah melakukan penggelapan sejarah.
"Karena itu kalau saya lihat berita-berita itu, akhirnya pers kita itu sekedar jadi humas pemerintah, baca pers mainstream itu sama saja baca brosur pemerintah," jelas Rocky.
• Debat soal Politisasi Reuni 212 dengan Boni Hargens di ILC, Dedi Gumelar: Saya Boleh Pulang Enggak?
Rocky kemudian membandingkan kolase foto tersebut dengan kejadian lampau di tahun 1963 di Washington.
"Bayangkan orang asing, kalau dia lihat video itu, imajinasinya kemana? Monas itu imajinasinya pergi pada satu peristiwa tahun 1963 di Washington ketika Martin Luther King bicara tentang 'I Have a Dream' dalam pidato itu."

Rocky lantas menjelaskan ada kesamaan antara kolase foto Prabowo-Jokowi dengan kejadian tersebut.
"Persis sama itu fotonya itu, Martin Luther King di sebelah kanan dalam posisi Jokowi, dan itu jadi foto yang ada dimana-mana di semua galeri, di toko, di cafe," jelasnya.
"Jadi kita diingatkan jika 212 itu memang sesuatu yang sebut saja momen itu memang di 2016 gitu, tapi kemudian dia menjadi sebuah monumen dipindah dia dari momen menjadi monumen,".
"Itu soalnya, saya sebut 212 lepas dari segala interpretasi, itu adalah suatu reuni akal sehat, kalau bukan karena akal sehat, ada itu orang iseng buat ngasih komando itu, selesai itu istana di depan itu berantakan itu Jakarta" lanjut Rocky.
• Sering Diinterupsi saat Berargumen di ILC, Rocky Gerung Beri Ucapan yang Disambut Tepuk Tangan
Namun, pendapat Rocky yang menyamakan aksi 212 dengan Martin Luther King dibantah oleh pengamat politik yang sekaligus mantan relawan Joko Widodo, Boni Hargens.
Menurutnya, tidak bisa menyamakan gerakan 212 dengan langkah yang dilakukan oleh Martin Luther King.
"Pertama, menganalogikan ini dengan gerakan Martin Luther King ini ada sebuah ketersesatan yang sungguh fatal, yang dilakukan oleh Luther King sebuah protes terhadap penindasan sebuah etnik, sebuah ras,".
"Disini pertanyaannya adalah 212 siapa yang ditindas di sana? Siapa yang menindas umat Islam di republik ini, 32 tahun orde baru itu adalah sejarah penghancuran terhadap hak-hak sipil dan hak politik masyarakat,".
"Kalau hari ini kita paksakan Jokowi empat tahun berkuasa menutup semua kegagalan orde baru, itu sebuah kekejian yang tidak masuk akal, atau ada sistem berfikir yang rusak dari cara berfikir kamu, terimaksaih" tegas Boni menginterupsi pernyataan Rocky.
(TribunWow.com/Nila Irdayatun Naziha)