Pembunuhan Satu Keluarga
Akhirnya Terungkap Motif HS hingga Nekat Bunuh Satu Keluarga di Bekasi, Pelaku Coba Hilangkan Jejak
Alasan HS, tersangka pembunuhan satu keluarga di Bekasi terkuak, HS mengaku selama ini kerap dimarahi oleh korban yang masih memiliki hubungan kerabat
Penulis: Laila N
Editor: Wulan Kurnia Putri
TRIBUNWOW.COM - Pelaku pembunuhan satu keluarga di Bekasi telah berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian pada Kamis (15/11/2018).
Dilansir TribunWow.com dari Wartakota, pria berinisial HS itu telah ditahan di Polda Metro Jaya.
Alasan Pelaku
Saat diperiksa, HS mengaku telah membunuh Diperum Nainggolan dan istrinya, Maya Ambarita, serta kedua anak mereka, menggunakan linggis.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono menyebutkan, HS membunuh satu keluarga itu lantaran dendam.
Hingga kini, HS masih menjadi tersangka tunggal dalam kasus yang menewaskan empat orang itu.
Kepada polisi, HS mengaku sering dimarahi oleh korban.
"Sering dimarah-marahin," kata Argo Yuwono pada awak media seusai apel Tanggap Musim Penghujan Tahun 2018/2019 di Lapangan Promoter Dit Lantas Polda Metro Jaya, Jumat (16/11/2018).
• Turut Tanggapi Kasus Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi, Ketum PDIP Megawati: Ke Mana Kemanusiaan?
Upaya Hilangkan Jejak
Setelah melakukan aksinya, HS membuang senjata yang digunakan untuk membunuh di kawasan Kalimalang.
Hujan yang mengakibatkan air jadi keruh membuat petugas kesulitan mencari barang bukti itu.
Kronologi Penangkapan HS
1. Mobil Hilang
Penangkapan HS berawal dari rumah korban yang berada di Bojong Nangka II, Jatirahayu, Pondok Melati, Kota Bekasi, di mana dua mobil korban yang biasa diparkir di rumah korban tidak ada.
Pada Rabu, (14/11/2018), polisi menemukan satu di antara dua mobil itu di kawasan Cikarang.
Mobil itu Nissan Xtrail bernomor polisi B 1075 UOC yang ditinggal di kontrakan Ameera di Desa Mekar Mukti, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.
Setelah melakukan penyidikan dan pemeriksaan, diketahui bahwa orang yang mengendarai mobil tersebut seorang pria bernama HS (30).
"Setelah kita dalami dan penyelidikan berkaitan dengan mobil itu bisa berada di kos-kosan berasal dari penyelidikan manual tim yang di sana.
Kita mendapatkan kendaraan itu ternyata dibawa oleh saudara berinisial HS, kemudian HS ini kita cari, kita lidik keberadaannya di mana," kata Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Kamis (15/11/2018).
2. HS Hendak Mendaki Gunung
Dari hasil pelacakan, pelaku HS ditemukan berada di Garut, tepatnya di kawasan Kaki Gunung Guntur, Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (14/11/2018) malam, sekitar pukul 22.00 WIB
"Dia berada di satu rumah atau saung. Dia di sana mengaku hendak naik gunung. Kita geledah dan ditemukan kunci mobil, HP dan uang Rp 4 juta," jelas Argo.
Meski HS sempat mengelak tak bersalah, polisi tetap menggelandang HS ke Mapolda Metro Jaya untuk didalami kasusnya.
"Kita tarik ke Polda, penanganan kita ambil. Tapi tetap Bekasi Kota bekerja," ujar Argo.
Johan (55), pemilik kontrakan, mengungkapkan, terduga pelaku HS baru mengontrak dengan membayarkan uang muka kontrakan sebesar Rp 400.000, Selasa (13/11/2018), beberapa jam setelah ditemukan satu keluarga tewas di Bekasi.
"Tanggal 13 November pukul 10.30 WIB HS datang. Dia baru bayar Rp 400.000 seharusnya Rp 900.000.
Katanya besok harinya sisanya dibayar," katanya kepada wartawan, Kamis (15/11/2018).
Kemudian, pada sore harinya HS menitipkan kendaraannya jenis Nissan X Trail warna silver bernopol B 1075 FOG itu kepada dirinya.
“Jadi baru datang beberapa jam saja di kontrakan ini. Dia langsung nitip meninggalkan mobilnya, bilang mau ambil barang nanti balik lagi tetapi ternyata tidak balik lagi," ucapnya.
Menurut Johan, dia belum sempat meminta identitas HS.
3. Temuan dalam Mobil
Pada hasil pemeriksaan mobil, Argo Yuwono menuturkan dua ponsel milik korban tewas ditemukan.
Dalam mobil tersebut polisi juga melihat ada darah.
Polisi kemudian menggelar olah TKP di mobil, pada Kamis (15/11/2018) pagi.
"Tadi pagi kita sudah melakukan olah TKP di mobil, ternyata kita temukan HP korban 2 buah ada di situ, ada darahnya di HP tersebut. Artinya kita ambil untuk labfor," kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Kamis (15/11/2018).
"Kemudian di gagang pintu kanan juga ada darah, di sana itu juga kita ambil. Kemudian di karpet bawah sopir juga ada darah, kita ambil juga."
"Lalu di pedal gas ada darah. Itu juga kita ambil semuanya. Kemudian juga ada di seatbelt ada darah, kita ambil," katanya lagi.
Argo Yuwono mengungkapkan dari hasil penggeledahan tersebut, juga ditemukan celana hitam panjang bersimbah darah di kamar HS, dikutip dari TribunJakarta.com, Kamis (15/11/2018).
"Setelah kita lakukan olah TKP pada mobil dan mengamankan HS, kita juga menggeledah kos HS yang ada mobil diparkir di sana. Dikamarnya ditemukan celana warna hitam panjang yang ada darahnya," ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, Kamis (15/11/2018).
Polisi juga mengambil sampel darah tersebut untuk dilakukan proses identifikasi oleh Puslabfor Mabes Polri.
• Guru Korban Pembunuhan di Bekasi: Sehari Sebelum Meninggal Sarah Keluhkan Tangannya Bau Amis
4. Hubungan Pelaku dengan Korban
Argo Yuwono menyatakan, HS ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan satu di antara korban pembunuhan, Maya Ambarita.
"HS ini masih ada hubungan saudara dengan korban yang perempuan," ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, Kamis (15/11/2018).
Pria berusia 30 tahun ini sejak 3 bulan lalu menjadi pengangguran.
Terakhir, HS diketahui bekerja di sebuah perusahaan di daerah Cikarang.
Diberitakan sebelumnya, penemuan korban pertama kali ditemukan oleh tetangganya yang bernama Feby Lofal, dilansir dari Tribun Jakarta.
Berawal dari kecurigaan Feby saat melihat gerbang rumah korban yang masih terbuka dan televisi yang juga masih dalam kondisi menyala pada pukul 03.30 WIB pagi.
Feby Lofa mencoba memanggil korban, namun tidak ada jawaban.
"Saya sempat lihat gerbangnya kebuka, saya panggil tidak nyahut, padahal TV nyala, kira saya tidur kali. Ya sudah saya pulang ke kontrakan," ucap Febby.
Sekitar pukul 06.30 WIB, Feby Lofa kembali mencoba mengetuk pintu rumah korban karena korban belum berangkat kerja.
Namun kembali tidak ada jawaban, Feby Lofa memberanikan diri berusaha membuka jendela rumah.
Feby yang berhasil membuka jendela, menemukan korban telah bersimbah darah dan langsung melaporkan kejadian tersebut ke ketua RT kampungnya.
"Biasanya korban ini (suaminya) kan kerja suka berangkat sekitar pukul 06.30 WIB. Tapi belum bangun juga, saya lihat lewat jendela ternyata penghuni rumah tergeletak penuh darah," tambahnya.
"Saya kasih tahu warga lain dan Pak RT. Terus langsung nelpon polsek Pondok Gede," ujarnya. (TribunWow.com/Lailatun Niqmah)