Kabar Tokoh
SBY Singgung Masalah BBM, Ruhut: Percayakan kepada Jokowi
Ruhut menuliskan memanglah Jokowi menjadikan presiden era-era sebelumnya seperti Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY sebagai pedoman.
Penulis: Roifah Dzatu Azma
Editor: Fachri Sakti Nugroho
TRIBUNWOW.COM - Mantan anggota DPR, Ruhut Sitompul menanggapi usul Presiden Indonesia ke enam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait harga BBM sekarang yang tidak dinaikkan oleh Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi)
Dilansir TribunWow.com dari akun Twitter Ruhut Sitompul, @ruhutsitompul, Selasa (18/9/2018), SBY mengatakan dalam pidatonya saat 17 tahun Demokrat, mengenai kebijakan menaikkan BBM yang harus dilakukan seorang presiden meski berat untuk menyelamatkan fiskal negara.
Menanggapi hal itu, Ruhut menuliskan memanglah Jokowi menjadikan presiden era-era sebelumnya seperti Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY sebagai pedoman untuk memimpin.
Namun, Ruhut meminta SBY, terkait harga BBM untuk mempercayakan kepada Jokowi.
• SBY Sebut Program-programnya Diganti Nama oleh Pemerintah Sekarang, Apa Saja Program Tersebut?
Menurutnya, tim ekonomi Jokowi memiliki strategi sendiri.
"Pak SBY yg baik diera Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie Gus Dur & Bu Mega serta Pak SBY dijadikan Pedoman Oleh Presiden RI ke 7 Pak Joko Widodo, “Tapi mengenai Harga BBM sekarang Percayakan Kepada Pak JOKOWI kenapa tdk dinaikkan, Tim Ekonominya mempunyai Cara Sendiri” MERDEKA," tulis akun @ruhutsitompul.
Sebelumnya, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pidato politiknya dalam rangka 17 tahun Partai Demokrat.
Dalam pidatonya SBY berbicara mengenai pelemahan rupiah yang saat ini sedang dihadapi Indonesia, sebagaimana dilansir dari petikan Pidato SBY yang dibagikan oleh akun Facebook Demokrat TV, Senin (17/9/2018).
Menurut SBY, perlunya harga BBM dinaikkan untuk menyelamatkan fiskal dari harga minyak.
SBY juga mengatakan memang hal itu merupakan keputusan yang sulit dan kaku.
• Komentari Pidato SBY, Suryo Prabowo: Sebagai Presiden Dia Enggak Plonga-plongo
"Saya masih ingat, untuk menyelamatkan fiskal kita dari meroketnya harga minyak, harga BBM harus beberapa kali dinaikkan. Ini keputusan yang sulit dan tidak populer secara sosial dan politik," ujar SBY.
Lanjutnya, SBY menengok saat dirinya menjadi presiden dan terpaksa menaikkan BBM pada tahun 2008 yang hanya beberapa bulan sebelum Pemilihan Presiden dilaksanakan.
Dan menurutnya hal itu membuat ekonomi Indonesia selamat pada saat itu.
"Bagi seorang presiden, ini juga mendatangkan resiko tersendiri, seperti yang saya alami ketika harus menaikkan harga BBM pada tahun 2008, beberapa bulan sebelum Pemilihan Presiden dilaksanakan. Alhamdulillah, setelah kebijakan menaikkan harga BBM diambil, ekonomi kita selamat. Jadi, sebesar apapun faktor eksternal, selalu ada solusinya.
Demikian juga ketika Indonesia mendapatkan pukulan dan tekanan dari krisis ekonomi global 2008. Saat itu, kita takut kalau nasib Indonesia sama dengan krisis yang terjadi 10 tahun sebelumnya. Tanda-tanda kepanikan juga sudah muncul.