Breaking News:

Soal Pernyataan AHY Terkait Politik Dua Kaki, Teddy Gusnaidi: Faktanya Demokrat Tidak Bernyali

Teddy Gusnaidi memberikan tanggapan soal pernyataan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terkait politik dua kaki yang dilakukan Partai Demokrat.

Penulis: Ananda Putri Octaviani
Editor: Wulan Kurnia Putri
Kolase / TribunWow.com
Teddy Gusnaidi dan Agus Harimurti Yudhoyono 

TRIBUNWOW.COM - Dewan Pakar PKPI Teddy Gusnaidi memberikan tanggapan soal pernyataan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terkait politik dua kaki yang dilakukan Partai Demokrat.

Dilansir TribunWow.com, hal tersebut disampaikan Teddy Gusnaidi melalui laman Twitter miliknya, @TeddyGusnaidi, Kamis (13/9/2018).

Dalam kicauannya, Teddy menyebutkan, pernyataan AHY tidak menjawab pertanyaan soal adanya tokoh Demokrat yang mendukung Jokowi di Pilpres 2019.

Teddy menyebutkan, Partai Demokrat tidak bernyali untuk menindak tegas kadernya yang berpaling.

Lebih lanjut, Teddy menganggap Caleg Partai Demokrat sama saja diajarkan untuk menang dengan cara yang tidak pantas.

Berikut cuitan lengkap Teddy Gusnaidi mengenai hal tersebut.

"1. Sebenarnya yang terjadi adalah, ketika para tokoh penting Partai Demokrat mendukung dan akan memenangkan Jokowi menjadi Presiden 2019-2024, Partai Demokrat tidak berani memberikan sanksi pada para tokoh tersebut. Jadi ini gak ada urusannya dengan Pemilu Legislatif.

2. AHY mengamini politik dua kaki ini, dia mengatakan, kaki kanan mereka ingin Pilpres menang, kaki kiri Pileg juga tidak boleh ditinggalkan. Pernyataan ini tidak nyambung dengan pertanyaan terkait adanya para tokoh Demokrat yang mendukung dan akan memenangkan Jokowi.

3. Tapi anehnya jawaban ini dipakai untuk menjawab perihal politik dua kaki dimana para tokoh besar Demokrat mendukung Jokowi. Mungkin karena alasan itu keluar dari mulut AHY, jadi dianggap jawaban yang paten. Padahal ngak nyambung sama sekali.

4. Faktanya, Demokrat tdk bernyali menindak kadernya. Akui saja itu karena memang begitu faktanya. Apa yg diucapkan oleh AHY itu beda kasus. Dan jika hal itu dilakukan dlm konteks Pemilu Legislatif yg dihubungkan dgn dukungan Kader demokrat ke Jokowi, jelas sangat tdk pantas.

5. Kok tidak pantas? Begini.. Caleg Partai Demokrat sama saja diajarkan untuk menang dengan cara yang tidak pantas. Kalau di daerah basis Jokowi, maka mereka mengaku pendukung Jokowi. Kalau di daerah basis Prabowo, maka mereka mengaku pendukung Prabowo. Ini jelas tidak pantas.

6. Caleg seperti diarahkan memanfaatkan situasi ini agar bisa memenangkan Pemilu Legislatif. Caleg tfk diajarkan bagaimana meyakinkan masyarakat memilih Prabowo di basis pendukung Jokowi, tapi seperti diarahkan utk bermain dua kaki, yg penting bisa memenangkan pemilu legislatif.

7. Statement AHY bisa jadi kampanye buruk bagi Caleg Demokrat. Ketika mereka datang ke masyarakat di basis Prabowo, mereka tidak akan dipercaya, karena pendukung Prabowo akan bilang, disini kalian bilang dukung Prabowo, disana kalian akan bilang dukung Jokowi.

8. Masyarakat akan bilang, Caleg lain berjuang mengkampanyekan Prabowo atau Jokowi dimanapun mereka berada, sedangkan Caleg Demokrat tidak perlu berjuang. Disini mereka bilang dukung Prabowo, disana mereka bilang dukung Jokowi. Tidak jelas identitasnya.

9. Hal ini akan digunakan oleh Caleg dari Partai lain untuk mengalahkan Caleg Partai Demokrat. Mereka akan kampanyekan, jangan pilih caleg Demokrat yang bermain dua kaki. Pendukung Prabowo dan Jokowi jangan pilih caleg Demokrat, Karena mereka gak punya identitas yang jelas.

10. Kan begitu membacanya.. Karena AHY ngak bilang bahwa seluruh Caleg Partai Demokrat akan diarahkan untuk memenangkan Prabowo-sandiaga, tapi malah mengakui dua kaki untuk memenangkan Pileg dalam konteks kader demokrat mendukung Jokowi di berbagai daerah.

11. Semakin AHY beralasan utk menutupi ketidakmampuan Demokrat bertindak tegas pada kadernya, maka semakin tdk jelas identitas Demokrat, dan tentu menjadi mimpi buruk bagi caleg demokrat di lapangan. Mrk akan dikenal sebagai caleg bunglon, caleg tanpa identitas. Tentu itu buruk.

12. Masyarakat pendukung Prabowo, akan memilih caleg dari Partai yang identitasnya jelas. Dan masyarakat pendukung Jokowi akan memilih caleg dari Partai yang identitasnya jelas. Kalau identitasnya gak jelas, siapa yang mau memilih?

Terima kasih," tulis Teddy.

Diberitakan sebelumnya, Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimuri Yudhoyono (AHY) menegaskan Partai Demokrat akan terus memberikan suaranya untuk pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Dilansir TribunWow.com, hal tersebut disampaikan AHY seperti yang tampak dalam video yang diunggah oleh Politisi Partai Demokrat Cipta Panca Laksana di laman Twitternya, @panca66 pada Kamis (13/9/2018).

AHY menyebutkan, setiap partai punya kedaulatan, begitu pula dengan Partai Demokrat juga punya kedaulatan.

Untuk itu ia ingin agar urusan internal yang terjadi di Partai Demokrat untuk diselesaikan secara internal.

"Urusan internal biarkan kami yang akan membahasnya dengan baik sesuai dengan meknisme dan juga kelaziman yang berlaku di Partai kami," kata AHY.

"Yang jelas tidak berubah, sampai dengan hari ini, dan insya allah sampai akhir masa kampanye pemilu 2019 ini, Partai Demokrat akan terus bersama Pak Prabowo dan Bang Sandi untuk bisa menyukseskan beliau, mengantar beliau-beliau ini menjadi pemimpin yang amanah yang adil utk kita semua," tegasnya.

Terkait isu politik dua kaki yang beredar, AHY menjelaskan, kaki kanan digunakan untuk menyukseskan pemilihan presiden, sedangkan kaki kiri untuk pemilihan legislatif yang tidak boleh ditinggalkan.

"Yang jelas kalau ada yang bicara dua kaki, ya memang harus berjalan dua kaki. Kalau satu, pincang dong?" kelakar AHY yang kemudian disambut tawa oleh orang-orang yang mendengarkan.

AHY meyebutkan, tahun 2019 merupakan momentum yang berbeda.

Menurutnya, hal tersebut dikarenakan pada pemilu pada tahun ini memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan pemilu sebelum-sebelumnya.

"Mudah-mudahan tidak usah terlalu panjang kita membicarakan urusan internal yang harus di tabrak-tabrakkan satu sama lain, nanti tidak produktif, sayang waktu kita terbatas, kita lebih baik membicarakan apa yang dibutuhkan rakyat Indonesia hari ini," pungkasnya.

(TribunWow.com/ Ananda Putri Octaviani)

Tags:
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)Teddy Gusnaidi
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved