Pilpres 2019
Andi Arief: Demokrat, PAN, PKS Harus Bekerja Ekstra untuk Meyakinkan Rakyat Memilih Prabowo-Sandi
Andi Arief mengatakan jika tidak dengan seni tinggi maka keuntungan elektabilitas hanya akan masuk ke Gerindra.
Penulis: Laila N
Editor: Claudia Noventa
TRIBUNWOW.COM - Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat, Andi Arief, menyoroti strategi koalisi partai pengusung untuk memenangkan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.
Dilansir TribunWow.com, hal tersebut ia sampaikan melalui akun Twitter pribadinya, @AndiArief_, pada Selasa (11/9/2018).
Andi Arief mengatakan jika Demokrat, PAN, dan PKS di pemilu berbarengan akan menjadi berat.
Lantaran harus mencari dukungan agar partainya lolos dan bertahan di parlemen, sekaligus harus mencari dukungan untuk Prabowo dan Sandiaga.
• Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi PCPM Bank Indonesia 12 September 2018, Cek Linknya di Sini
Menurut Andi, Demokrat, PAN, PKS harus bekerja ekstra untuk meyakinkan rakyat memilih pasangan Prabowo-Sandiaga.
Andi Arief juga mengatakan jika tidak dengan seni tinggi maka keuntungan elektabilitas hanya akan masuk ke Gerindra.
Selain itu, ia meminta pada Partai Gerindra untuk berlapang dada, tidak egois dan memikirkan 3 partai koalisinya.
Lebih lanjut, Andi Arief juga membahas mengenai politik dua kaki, yang ia maksudkan satu kaki di Pileg, dan satu kaki di Pilpres guna mendapatkan hasil yang maksimal.
"PAN, PKS dan Demokrat di pemilu berbarengan berat.
Di satu sisi sedang mencari dukungan agar partainya tetao lolos dan bertahan di Parlemen, di sisi lain harus mencari dukungan untuk Preaiden dan wakilnya bukan dari partai sendiri.
Harus ada seni Agar Gerindra tak besar sendirian.
Demokrat, PAN dan PKS harus benar-benar bekerja ekstra terutama untuk meyakinkan memilih Prabowo-Sandi ke rakyat.
Kalau tidak dengan seni tinggi maka keuntungan elektabikitas akan masuk hanya ke gerindra.
Karena itu setiap partai harus punya seni tinggi.
Koalisi Gerindra, Demokrat, PAN dan PKS harus mendiskuaikan seni yang tinggi itu agar keuntungan elektoral bisa proporsional di tengah capres dan cawapresnya berasal dari satu partai ini.
Partai Gerindra yang pasti mendapat berkah elektoral harus berlapang dada tidak egois, harus memikirkan 3 partai koalisinya.
• Kesaksian Korban Selamat Kecelakaan Bus di Sukabumi: Tiba-tiba Melayang Dua Kali, Dar, Dar gitu
Demokrat mungkin di zone aman, tapi berdasarkan survey posisi PAN dan PKS harus berjuang soal lolos PT (20 persen).
Soal2 ini harus dibicarakan di koalisi.
Soal Demokrat dua kaki jadi rame. Perintah Ketua Umum SBY itu jelas memang dua kaki.
Satu Kaki di pileg, Satu kaki di Pilpres.
Justru yang main satu kaki itu yang aneh dalam pemilu berbarengan.
ujung tombak pileg adalah Caleg, Ujung tombak pilpres adalah Pengurus Pusat.
Sosialisasi pemilu berbarengan masih minim, banyak yang belum tahu konsekuensi2nya.
Itulah mengapa peristiwa politik baru April 2019 pileg dan pilpres berbarengan belum masuk menjadi imajinasi politik --bahkan oleh partai2 sendiri-- bahwa ada konsekuensi," tulis Andi Arief.
• Reaksi Presiden Korea Selatan saat Ajudan Jokowi akan Membayar Semua Belanjaan

Sebelumnya, Andi Arief juga sempat mengatakan jika pihaknya berat untuk memenangkan Prabowo dan Sandiaga Uno di Jawa.
Hal tersebut ia sampaikan melalui laman Twitter, @AndiArief_, yang diunggah pada Sabtu (11/8/2018).
Andi Arief mengatakan, meski telah mendapat dukungan dari Demokrat, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno masih sulit menang di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Tak hanya itu, mereka juga masih harus berjuang keras untuk menang di Jawa Barat.
Menurut Andi Arief, penyebabnya adalah pasangan cawapres yang dipilih oleh Prabowo Subianto.
Andi Arief mengatakan jika Prabowo lebih memilih cawapres berbasis logistik daripada data survei.
Selain itu, kendala lain yang diungkapkan oleh Andi Arief adalah Prabowo bukan ahli strategi perang dalam Pilpres.
Hal tersebut lantaran ia telah gagal 2 kali dalam peperangan Pilpres sebelumnya.
• Daniel Zhang Jadi Pengganti Bos Alibaba, Dia seperti Clark Kent sedangkan Jack adalah Superman
"Pilpres dan pemilu di Indonesia riwayat kemenangan itu ada di tiga Jawa yaitu jabar, jateng dan Jatim.
Meski Partai Demokrat mengusung Prab-Sandi, jujur saja potensi menang di jateng dan Jatim sangat berat.
Perlu kerja keras Prab-Sandi untuk memenangkan pertarungan di jabar, jateng dan Jatim.
Apa boleh buat karena Prabowo lebih mementingkan cawapres berbasis logistik ketimbang data saintific survey.
Prabowo saat ini elekt di jateng hanya 14 persen di jateng dan di Jatim hanya 24 persen.
Sementara gerindra saat ini elekt di jatwng hanya 7 persen di jatim 9 persen.
Entah logika logika logistik dalam benak Prabowi apakah bisa membuatnya menang di dua jawa ini. entahlah.
Prabowo bukan ahli atrategi perang pilpres, Ia gagal dalam 2 kali peperangannya karena abai membaca dua pertempuran di jateng dan jatim.
Kita buktikan nanti apakah strategi kardus Sandi Uno bisa ubah pertempuran di jatim dan jateng atau tidak. Kami tetap dukung, meski berat.
PAN bukan faktor di jatim dan jateng, PKS juga lemah di dua jawa itu.
Dua partai ini hanya akan mementingkan hidup mati keluar dari zone partai stabilo, meski PKS dapat jatah wagub DKI. Pertanyaan dari demokrat: Mengapa Prabowo abaikan ini semua.
Memang nanti Prabowo akan berargumen bahwa waktu maaih 8 bulan lagi.
Tapi bukankah Jokoowi juga akan bekerja juga dalam waktu yang sama dalam dua bulan itu. Kardus cuma alat yg tidak dapat mengubah semua keadaan.
Prab-Sandi mudah2an bisa keluar dari ilusi bahwa Pilpres 2019 adalah ulangan pilkada Jakarta dimana sentimen agama akan membuat kemenangan.
Cliffort Geertz sudah menulis lama bahwa fenomena agama di Jawa tinur dan Jawa tengah punya karakteristik sendiri.
Saya skeptical dengan Prabowo-Sandi sebagai pasangan tepat yang dinanti tagar #2019GantiPresiden. Namun Kami akan tetap komit ikut memperjuangkannya," ungkap Andi Arief.
• Sandiaga Uno: Rp 100 Ribu Dapat Apa Sekarang? Bandingkan dengan 4 Tahun Lalu, Jujur ke Diri Sendiri

(TribunWow.com/Lailatun Niqmah)