Gejolak Rupiah
Faldo Maldini Sebut Rupiah Jadi Mata Uang Terlemah di Asia Tenggara
Faldo Maldini juga menyebut ekonom ketakutan untuk berpendapat mengenai nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS.
Penulis: Qurrota Ayun
Editor: Fachri Sakti Nugroho
Terkait dengan hal ini, Kepala Riset MNC Sekuritas, Edwin Sebayang menyarankan pemerintah untuk mencabut subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik, atau dengan kata lain menaikkan harga.
Edwin Sebayang menuturkan adanya sentimen krisis global bukanlah menjadi penyebab utama merosotnya nilai tukar dan indeks saham, dilansir TribunWow.com dari Kontan.co.id, Rabu (5/9/2018).
Menurutnya, permintaan impor subsidi BBM dan listrik menjadi satu diantara penyebab utama indeks saham dan nilai tukar rupiah melemah.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), defisit neraca berjalan mencapai 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak semester II tahun 2014.
Defisit neraca berjalan sepanjang semester II tahun 2018 mencapai 8 miliar dolar AS.
"Kita tak perlu jauh-jauh melihat sentimen eksternal. Saat ini yang perlu dilakukan pemerintah adalah mencabut subsidi BBM dan listrik atau dengan kata lain menaikkan harga BBM dan listrik sehingga bisa perbaiki dan sehatkan perekonomian indonesia yang selama ini defisit karena masih banyak aktivitas impor dan maka dengan begitu kinerja rupiah terhadap dollar akan membaik serta pergerakan IHSG akan kembali membaik," ujar Edwin Sebayang.
Edwin Sebayang menyarankan pemerintah berani menerapkan kebijakan tersebut.
Sehingga neraca perdagangan Indonesia stabil dan rupiah maupun indeks saham kembali menguat.
"Dengan begitu, kinerja emiten-emiten di bursa bisa bertumbuh dan tingkat kepercayaan para pelaku pasar makin bertambah," tambah Edwin Sebayang.
Edwin Sebayang juga menargetkan pergerakan IHSG hingga akhir tahun 2018 berada di range 5.800 hingga 6.200. (TribunWow.com/ Qurrota Ayun)