Breaking News:

Rupiah Tembus Rp 14.644, Muncul Kekhawatiran Bank Sentral AS Naikkan Suku Bunga

Isu mengenai kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS Federal Reserve menyebabkan dolar AS terus menguat.

Penulis: Qurrota Ayun
Editor: Fachri Sakti Nugroho
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Melemahnya rupiah terhadap dolar AS 

TRIBUNWOW.COM - Rupiah pada pasar spot melemah menjadi Rp 14.644 per dolar Amerika serikat (AS).

Penguatan dolar AS masih menjadi sentimen utama melemahnya mata uang rupiah.

Dilasir TribunWow.com dari Kontan.co.id pada Rabu (15/8/2018), ada kemungkinan Bank Sentral AS Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada bulan depan, terhitung ketiga kalinya dalam tahun ini.

Tanggapi Mahfud MD, Teddy Gusnaidi: Yang Kita Pilih di TPS Bukan yang Suka Merengek

Isu mengenai kenaikan suku bunga tersebut menyebabkan dolar AS terus menguat.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal menjelaskan bahwa melemahnya rupiah masih merupakan efek penguatan dolar AS setelah krisis yang terjadi di Turki.

"Faktor dari krisis Turki masih cukup besar terhadap negara-negara berkembang dan Indonesia masuk ke salah satunya," ujar Faisyal kepada Kontan.co.id, Rabu (15/8/2018)

Sementara, saat ini pasar dalam negeri masih menanti data neraca perdagangan yang diperkirakan akan mengalami defisit.

Faisyal Menambahkan, menurutnya Bank Indonesia masih akan mempertahankan suku bunga saat ini dan ada kemungkinan terjadi kenaikan suku bunga sebagai langkah antisipasi saat The Feed menaikkan suku bunga.

Sebelumnya diberitakan oleh Kontan.co.id, Selasa (14/8/2018), Analis Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra memaparkan pasar obligasi Indonesia menurun akibat melemahnya rupiah yang ditimbulkan oleh merosotnya nilai tukar lira Turki terhadap dolar AS.

Komentari Penyataan Mahfud MD di ILC, Masinton Pasaribu: Cambuk Buat Politisi Lama Mental Kardus

Made menjelaskan, melemahnya kurs rupiah menyeret kinerja obligasi dalam negeri, padahal Jumat (10/8/2018) lalu, kondisi makroekonomi Indonesia masih cukup baik sebelum terpapar krisis keuangan Turki.

Melemahnya rupiah membuat investor asing lebih rentan melakukan aksi jual di pasar obligasi domestik karena investor tidak mau mengambil risiko dengan investasi di negara dengan tingkat ekonomi menengah yang dihadapkan pada kondisi seperti ini.

Investor asing jadi cenderung memburu surat utang AS yang dinilai lebih aman dan stabil sehingga permintaan surat utang AS menjadi meningkat dan stabil.

Kemudian pada Senin (13/8/2018), di ujung hari perdagangan IHSG anjlok 215,93 poin (-3,55%) sebelum masuk ke angka 5.861,25.

Menurunan sebesar 3,55 persen dalam satu hari menjadi rekor terburuk selama 1,5 tahun terakhir.

Pemerintah Serahkan Rp 59,55 Miliar Bantuan Untuk Korban Gempa NTB

Semua sektor yang ada pada indeks saham juga mengalami penurunan.

Saham Industri dasar, agrikultur, finansial dan aneka industri merosot.

Kepala riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengungkapkan bahwa merosotnya IHSG disebabkan oleh merosotnya mata uang Turki, lira.

"Tampaknya, penguatan IHSG pekan ini sulit berlanjut menyusul krisis mata uang yang terjadi di Turki," ujar Edwin kepada Kontan.co.id, Senin (13/8/2018). (*)

Tags:
RupiahDolarEkonomi
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved