Pilpres 2019
Rachland Nashidik: Silakan Gerindra-PKS-PAN bila Tak Suka, Bujuk Prabowo untuk Tendang Demokrat
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Rachlan Nashidik membela rekan satu partainya, Andi Arief.
Penulis: Maria Novena Cahyaning Tyas
Editor: Astini Mega Sari
Hal ini ia utarakan melalui akun Twitternya @AndiArief.
• Prabowo Ngaku Takut Jarum Suntik, Sandiaga: Kalau Saya Mending Lari Marathon
Andi menyimpulkan bahwa kegagalan Mahfud MD mendampingi Jokowi di Pilpres 2019 murni karena ada tekanan politik yang tidak bisa ditukar dengan uang.
Ia menambahkan beda dengan kasus mahar Rp 500 miliar dan Sandiaga Uno.
@AndiArief__: "Saya menyaksikan Penjelasan Pak Prof @mohmahfudmd semalam kesimpulan saya murni pertarungan kegagalannya. Ada tekanan politik yg serius dan tidak biaa ditukar dengan uang. Beda dengan Tekanan politik ditukar Mahar dalam kasus Sandi Uno."

Lebih lanjut, Andi Arief memberikan analogi terkait koalisi Partai Demokrat dan Partai Gerindra.
• Gerindra: Merenung Kami Melihat Kesaksian Mahfud MD
Menurutnya Partai Demokrat bak istri setia yang tetap mempertahankan bahtera rumah tangga padahal sang suami ketahuan selingkuh dan memiliki istri muda yang mata duitan.
@AndiArief__: "Meneruskan koalisi dengan Prabowo ini bagi Demokrat Ibarat Istri setia meneruskan bahtera rumah tangga dimana suami yang baru menikah tertangkap selingkuh dan diam-diam punya istri muda yg mata duitan."
Andi Arief juga menjelaskan bahwa gerakan #2019GantiPresiden ini tujuannya tak murni untuk mengganti presiden.
Dirinya menyebut hal ini adalah taktik 'dua istri muda' untuk menaikkan uang belanja.
• Tanggapan Sejumlah Tokoh terkait Pernyataan Mahfud MD di Program ILC
Andi tak menyebut siapakah yang dimaksud dengan 'dua istri muda' tersebut.
"Gerakan #2019GantiPresiden bukan untuk mengganti Presiden, tapi itu hanya taktik dua istri muda untuk menaikkan uang belanja.
Rakyat dimobilisasi, elitenya bagi-bagi uang," tulis Andi Arief.

Diketahui sebelumnya, hubungan antara Partai Demokrat dan Partai Gerindra memanas jelang tenggat waktu pendaftaran calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) pada Jumat (10/8/2018).
• Ketua DPP Demokrat: Pasca Pendaftaran Pilpres, Kedua Kubu Masih Muncul Drama dan Sumber Panas
Hal ini disebabkan oleh nama Sandiaga Uno yang tiba-tiba masuk dalam bursa cawapres Prabowo hingga memancing reaksi Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Andi Arief yang menyebut Prabowo sebagai 'jenderal kardus'.
Keputusan Prabowo Subianto memilih Sandiaga Uno sebagai pendampingnya di Pilpres 2019 ini sempat membuat Partai Demokrat membatalkan koalisi dan mengadakan pertemuan darurat pada Jumat (10/8/2018) pagi untuk menentukan sikap selanjutnya.