Perang Cuitan 'Caleg Demokrat dan Caleg PSI' terkait Angka Kemiskinan World Bank dan BPS
Juru Bicara Bidang Kepemudaan, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berkomentar terkait angka kemiskinan dengan caleg dari partai Demokrat
Penulis: Tiffany Marantika Dewi
Editor: Fachri Sakti Nugroho
TRIBUNWOW.COM - Juru Bicara Bidang Kepemudaan, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedek Prayudi terlibat tweet war dengan seorang netizen bernama akun @TopeRendusara.
Tweet war tersebut berkaitan tentang perbedaan pandangan akan angka kemiskinan.
Oleh Dedek, akun @TopeRendusara itu dipanggil dengan nama caleg (calon legislatif) Partai Demokrat. Namun belum diketahui pasti apakan pemilik akun tersebut benar-benar bacaleg dari Partai Demokrat atau bukan.
Tweet war bermula ketika Dedek Prayudi selaku Juru Bicara PSI mengunggah data tentang kemiskinan menurut World Bank.
"Data cuma bisa dilawan dengan data lain. Namun ketika semua data menunjukkan indikasi yang sama, apa lagi mau yang diperdebatkan?Kemiskinan itu memang menurun.
Ingat, meskipun pantas apresiasi disematkan kepada pemerintah, kita tidak boleh cepat puas!
Sumber data: World Bank," tulis Dedek Prayudi melalui Twitter @Uki23, Selasa (17/7/2018).
• Ali Mochtar Ngabalin: Selamat Datang TGB di Istana untuk Memperkuat Sistem Demokrasi
Mengomentari hal tersebut, akun netizen bernama @byykevv kemudian mention ke akun @TopeRendusara.
"Menurut caleg PSI pakai data Variable kemiskinan BPS dengan perbandingan data World bank menunjukan kemiskinan menurun
Gimana bang @TopeRendusara ?
Boleh dong nih sesama caleg di 2019 beradu gagasan," tulis akun @byykevv.
Menanggapi tweet itu, caleg yang disebut Dedek Prayudi sebagai caleg Demokrat, @Toperendusara memberikan bantahan.
"Saya ulang deh :
Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan absolut sebagai hidup dengan pendapatan dibawah USD 1/hari dan Kemiskinan menengah untuk pendapatan dibawah 2 dolar per hari.
So, kenapa asumsi masih pakai Rp. 11.000/hari jika APBN pakai asumsi 1US dolar = Rp. 13.000 ?," jawab akun @Toperendusara.
• Jokowi Imbau Rastra Jangan Terlambat ketika Disurvei, Fahri Hamzah: Modus Lama Tipuan Statistik
Dedek pun menjawab perbandingan terkait angka kemiskinan versi BPS dan World Bank berbeda.
"Caleg @PDemokrat ini mempertanyakan soal operational definition kemiskinan versi BPS dan World Bank yang berbeda.
Ok, tapi sebelum bahas topik itu, aku pastikan dulu bahwa beliau tau bahwa menurut World Bank kemiskinan juga menurun, angkanya juga mirip. Dan hening," tulis Dedek Prayudi.
Atas tweet itu, perang cuitan pun terjadi antar kedua caleg tersebut.
@TopeRendusara: Orang kalau kepepet minta bantuan wajar, cuma bisa ngandelin data 'Trend dunia' gak berani pakai standard nasional. Katanya saya pancasila, saya Indonesia, piye jal ?
@Uki23: Standard nasional yang anda maksud itu apa? UU 146 tahun 2013 ga ada, adanya 2014 dan itu tentang pendidikan usia dini mas. Mas do you really understand what youre talking about?
@TopeRendusara: Kemensos itu mengeluarkan UU No 146 tahun 2013. Coba aja di searching tanya mbah google, gue males capture capture kasih tahu orang males
@Uki23: Masih tentang si caleg @PDemokrat ini, setelah saya berkali-kali menanyakan point argumen beliau apa dan tak pernah dijawab, kecuali UU 146/2013 yang ternyata ngga ada (adanya 2014 ttg pendidikan usia dini), beliau mencerahkan saya dengan sesuatu yg baru. Kemensos KELUARIN UU!!

Perang Cuitan caleg Demokrat dan PSI (Capture Twitter)
Sementara itu, diberitakan sebelumnya dari Tribunnews, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat untuk pertama kalinya persentase angka kemiskinan di Indonesia mengalami titik terendah, yaitu sebesar 9,82 persen pada Maret 2018.
Dengan persentase kemiskinan 9,82 persen, jumlah penduduk miskin atau yang pengeluaran per kapita tiap bulan di bawah garis kemiskinan mencapai 25,95 juta orang.
"Maret 2018 untuk pertama kalinya persentase penduduk miskin berada di dalam 1 digit. Kalau dilihat sebelumnya 2 digit. Jadi ini memang pertama kalinya dan terendah," ujar Kepala BPS Suhariyanto, di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (16/7/2018).
Apabila dibandingkan dengan periode sebelumnya yakni September 2017, angka kemiskinan tercatat sebesar 10,12 persen atau setara dengan 26,58 juta orang.
Jika dilihat lebih rinci penurunan angka kemiskinan ini terjadi di perkotaan dan perdesaan, penduduk miskin di perkotaan pada Maret 2018 sebesar 7,02 persen, turun dibandingkan September 2017 sebesar 7,26 persen. (TribunWow.com/Tiffany Marantika)