Analis Politik LIPI: Ada Fenomena Pembodohan Pilpres Kita, Ironis
Anallis politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris mengungkapkan ada fenomena pembodohan pada pemilihan presiden (pilpres).
Penulis: Tiffany Marantika Dewi
Editor: Wulan Kurnia Putri
"Visi misi menjadi secarik kertas yg tdk berarti jika niat busuk elite politik adalah membodohi rakyat.
Namun visi misi yg terucap & tertulis adalah janji sekaligus utang politik para elite yg akan mengejar mrk hingga liang kubur.
Krn itu kita wajib mengingatkan hal itu," jawab Syamsuddin.
Sebelumnya, Syamsuddin pun turut berkomentar mengenai cawapres yang akan dipilih Prabowo.
Syamsuddin membeberkan sejumlah kendala yang dialami Prabowo Subianto dalam memilih cawapes untuk mendampingi dirinya maju pilpres 2019.
Menurut Syamsuddin, tidak mudah bagi Prabowo untuk menentukan cawapres pilihannya.
Hal itu dikarenakan kendala syarat presidential threshold (ambang batas pencalonan presiden) serta problem finansial di pihak lain.
"Tidak mudah bagi @prabowo tentukan cawapres krn kendala syarat presidential threshold di satu pihak & problem finansial di pihak lain," tulis Syamsuddin.
Selain itu, dilansir TribunWow.com dari Kompas.com, Syamsuddin juga menambahkan walaupun PKS telah mencalonkan 9 nama untuk dipinang jadi cawapres Prabowo, namun elektabilitas juga perlu dipertimbangkan.
Pertimbangan lainnya adalah terkait pembiyaan pilpres apakah PKS juga bersedia membantu Gerindra.
"Pertama apakah elektabilitasnya akan meningkat, kedua apakah PKS mau membantu pembiayaan pilpres itu sendiri. Itu juga menjadi hitungan sehingga sampai saat ini tidak kunjung memutuskan siapa cawapresnya," kata Syamsuddin, Senin (9/7/2018).
Syamsuddin menambahkan, alih-alih mempertimbangkan kesembilan cawapres tersebut, Prabowo malah tampak mempertimbangkan nama lain seperti Anies Baswedan maupun Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (TribunWow.com/Tiffany Marantika)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/syamsuddin-haris_20180709_195101.jpg)