Jawab Foto Kedekatannya dengan Jokowi yang Viral, Fahri Hamzah: Politik Bukan untuk yang Jiwanya ABG
Di media sosial ramai diperbincangkannya sebuah foto yang menggambarkan betapa akrabnya Fahri Hamzah dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Penulis: Dian Naren
Editor: Dian Naren
Yang kedua buka puasa ke-12 di rumah ketua DPR RI kemarin. Keduanya adalah momen silaturahim yang biasa.
• Ditanya Pekerjaan BPIP, Rocky Gerung Jawab dengan Satire hingga Sebut Pancasila Diduitin
Gambar ini yang dianggap oleh orang-orang yang tidak paham bahwa KRITIK ITU SEHAT, sebagai gambar yang ganjil.
Mereka mengira bahwa kalau kita saling mengkritik di ruang publik maka kita tidak boleh mesra. Kalau bisa jangan bertemu dan bertegur sapa. Persis ABEGE.
Di sisi lain, bukan karena kita bertemu presiden lalu ruang publik kosong dari kritik. Itu ekstrem yang berbahaya dalam kultur kita.
Kritik dianggap permusuhan tapi pertemuan sering hilangkan sikap kritis. Senang main belakang dan tak mau terus terang.
Kultur ekstrem itu yang melahirkan dua peran ekstrem di sekitar kekuasaan.
Ada peran yang tidak suka kritik lalu ingin membungkamnya dengan segala cara. Wabah ini sedang terjadi.
Lalu ekstrem lainnya adalah penjilat dan ABS (Asal Bapak Senang) padahal Kritik Itu Sehat
Pembungkaman sedang marak, dari sekedar pelarangan (bredel) sampai operasi penangkapan dan kriminalisasi terhadap yang dianggap berbeda dgn rezim.
Ini tidak saja terjadi di media tapi juga terjadi di kampus, tempat mimbar kebebasan akademik seharusnya dijaga.
Para penjilat di sekitar kekuasaan manapun selalu menawarkan jalan pintas pengendalian opini dan kebebasan.
• Ditanya Apakah Sudah Menerima Pendapatan dari BPIP, Mahfud MD: Tidak, Saya Block Saja
Kalau tidak bisa menyuap dan menyogok atau membeli, maka mereka akan menggunakan kekuasaan untuk membungkam dan bahkan membunuh pengkritik.
Dan bagi pemimpin yang bermental feodal, maka PRILAKU orang di sekitar yang suka menjilat dan ABS akan menjamur.
Karena itulah pemimpin harus waspada dan berjiwa egaliter. Itulah mental para pendiri bangsa Indonesia juga para Nabi dan Rasul.
Kita harus mentradisikan kembali kedewasaan berpolitik. Kita harus kembali kepada falsafah Pancasila.