Nasib Dedi Putra, TKI Indonesia di Taiwan, Depresi Berat hingga Gigit Lidah Sendiri
Warga Kampung Sungai Berbari, kecamatan Pusako, kabupaten Siak, Dedi Putra (28) terbaring lemas di Ministry of Health and Welfare Nontou Hospital.
Editor: Fachri Sakti Nugroho
Terlebih untuk ibunya Rahmi dan dua orang anaknya, yang ditinggal istrinya.
Sekitar akhir tahun 2017 lalu, langkah Dedi seketika terhenti saat hendak pulang dari kebun.
Pihak berwewenang Taiwan mengadakan razia ketat, sehingga Dedi tertangkap.
Saat diperiksa, Dedi tidak mempunyai dokumen yang lengkap, sehingga ia ditahan.
Pada masa tahanan, Dedi mengalami tekanan yang lebih kuat. Ia memilih untuk tidak makan berminggu-minggu.
Gejolak psikologisnya membuncah sekitar sebulan lalu. Ia melawan kepada petugas saat mengantarkan jatah makan.
Saking tidak sadarkan dirinya, ia pun menggigit-gigit lidahnya sampai terluka-luka.
Ia tidak dapat menelan apapun. Sedangkan tubuhnya sangat lemas, dan terpaksa dirawat di rumah sakit.
"Jatah gaji yang masih tersisa di perkebunan dijadikan untuk membiayainya di rumah sakit. Tetapi uang itu tidak cukup," kata Juprizal, abang kandung Dedi, Senin (12/3/2018).
Populer: Tak Jadi Dilamar, TKW Indonesia di Malaysia Ini Ditikam 28 Kali oleh Kekasihnya
Juprizal dari kampung halaman terpaksa mencari uang untuk dikirim. Akhirnya terkumpul sebanyak Rp 6 juta lalu dikirimkan ke Taiwan. Tetapi, kondisi Dedi semakin hari semakin parah.
Orangtuanya, Rahmi (52) juga sudah sangat cemas. Ia meminta bantuan kepada pemerintahan desa dan camat Pusako untuk mengurus pemulangan anaknya.
Pada Jumat (9/3/2018) Juprizal dan adiknya berangkat ke Jakarta menanti kepulangan Dedi.
Namun, informasi dari Taiwan, Dedi tidak bisa pulang karena kondisinya belum memungkinkan.
"Kami terpaksa mencari rumah kos di Jakarta menanti kepulangannya. Mudah-mudahan nanti dibantu pihak Imigrasi,"kata dia.