Janji Dedi Mulyadi jika Terpilih Menjadi Wakil Gubernur Jabar, Gratiskan Sekolah dari SD-SMA
Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akan menggratiskan kembali biaya sekolah dari SD hingga SMA/SMK jika memenangkan Pilkada Jabar nanti.
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
TRIBUNWOW.COM, BEKASI - Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akan menggratiskan kembali biaya sekolah dari SD hingga SMA/SMK jika memenangkan Pilkada Jabar nanti.
Seperti saat dirinya memimpin Kabupaten Purwakarta.
Di Purwakarta siswa SD hingga SMA/SMK tidak dipungut biaya alias gratis. Namun ketika kewenangan SMA/SMK diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Jabar, siswa harus membayar kembali.
Dedi menyampaikan rencananya tersebut saat blusukan di Desa Karangpatri, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Rabu (7/3/2018).
BACA: Hebohkan Penggemar Karena Jadi Mualaf, Artis Terkenal India Ini Ungkapkan Alasannya
"Masalah itu muncul saat SMA di bawah kewenangan pemprov, muncul lagi biaya. Karena itu, saya berkomitmen menghapuskan biaya tersebut, agar SMA kembali gratis," ujar Dedi saat blusukan di Desa Karangpatri, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Rabu (7/3/2018).
Pendidikan Berkarakter Dalam blusukannya, Dedi bertemu Iyang (16). Sepulang sekolah Iyang membantu orangtuanya bekerja sebagai perajin kayu.
"Ini contohnya, bukan tidak mungkin hari ini bapaknya jadi tukang kayu, tapi besok anaknya jadi pengusaha mebel. Anak ini sangat mungkin juga menjadi Presiden kelak," tambahnya.
Kebiasaan Iyang tersebut, telah diterapkan Dedi di sekolah di Purwakarta.
Konsep pendidikan tersebut dikenal dengan sebutan pendidikan berkarakter di Purwakarta.
Konsep sederhana tersebut berupa penyesuaian kurikulum dengan lingkungan dan karakter wilayah. Dengan cara ini, sekolah dapat mencetak pelajar produktif dan tidak gagap dalam menghadapi perkembangan zaman.
"Kalau wilayah tempat tinggal anak-anak kita itu basis peternakan, maka di sekolah diajarkan beternak. Kalau seperti di sini, sentra kerajinan kayu, maka di sekolahnya pun diajarkan juga.
Saya yakin potensi masing-masing wilayah akan tergali dengan cara ini," ujarnya.
Sampai sekarang pun di Purwakarta, pendidikan berkarakter vokasional tersebut masih diberlakukan.
Sebanyak dua kali dalam sebulan, para pelajar diharuskan untuk membantu pekerjaan yang dilakoni orangtuanya.