Inilah Orang Pertama yang Telpon Polisi saat Terjadi Peristiwa Penyerangan Gereja St Lidwina Sleman
Bagaimana aparat Polsek Gamping bisa bergerak cepat, tiba hanya dalam tempo 10 menit sejak peristiwa dilaporkan?
Editor: Wulan Kurnia Putri
"Saya membimbing istri saya keluar, suasana panik, gaduh. Di luar saya cari telepon, dan saya minta bantu anak muda cari nomer Polsek Gamping," katanya di komplek Gereja St Lidvina Bedog.
"Halo, di Gereja Bedog ada kerusuhan. Minta bantuan kirim personel segera," kata warga Bedog Wetan ini menceritakan percakapan teleponnya dengan petugas piket jaga.

"Oh ya, segera kami kirim personel. Itu jawab petugas di sana. Sekitar sepuluh menitan mereka tiba," lanjut pensiunan Polri yang terakhir dinas di Polresta Yogyakarta.
Sambil menunggu petugas, Suharto yang di jemaat ikut ambil bagian di tim keamanan, meminta jemaat dan warga yang datang mengisolasi pelaku supaya tidak bisa keluar gereja.
BACA JUGA: Soal Penyerangan di Gereja St Lidwina Sleman, Buya Syafii Maarif: Saya Kecewa Berat
"Sengaja kita buat supaya dia tersudut di dalam gereja saja. Biarkan saja dia merusak, yang penting tidak keluar karena korban bisa bertambah," paparnya.
Pelaku yang teriak-teriak di sekitar mimbar dilempari warga menggunakan apa saja yang ada di sekitar mereka.

Kursi, pecahan keramik, batako, bambu dan benda-benda dilemparkan ke arah Suliono.
Taktik itu benar-benar bisa mengisolasi pemuda asal Banyuwangi itu tetap berkeliaran di bagian depan ruang ibadah.
BACA JUGA: Dijaga Aparat Bersenjata, Terduga Pelaku Penyerangan di Gereja St Lidwina Sleman Dirawat di RS UGM?
Ia terus berteriak-teriak mengancam sembari merusak patung, kitab, mimbar dan apa saja di sekitarnya.
Begitu anggota Polsek Gamping datang, dan juga sudah ada anggota TNI dan warga sekitar, situasi mulai berubah.

Suliono terpancing begitu melihat seorang polisi yang berkaus datang menenteng revolvernya.
Ia memburu Aiptu Munir yang sebetulnya baru lepas piket pagi itu.
Tembakan terarah melumpuhkan Suliono.