7 Pawang dan 'Orang Pintar' Ikut Cari Korban, Terungkap Penyebab Buaya Terkam 2 Warga
Pencarian terhadap korban terkaman buaya yang kedua terus dilakukan setelah
Penulis: Natalia Bulan Retno Palupi
Editor: Maya Nirmala Tyas Lalita
TRIBUNWOW.COM - Pencarian terhadap korban terkaman buaya yang kedua terus dilakukan.
Seperti yang diketahui, tengah ramai diperbincangkan peristiwa pawang buaya yang disambar buaya di Muara Jawa, Hadil, Kutai Kartanegara, Kalimantan Tumur beberapa waktu yang lalu.
Melansir dari Tribun Kaltim, diketahui buaya muara tersebut menyambar sang pawang yang sedang berenang di kawasan pinggiran dermaga untuk membantu mencari korban yang sebelumnya diterkam buaya, Arjuna (16) pada Jumat (15/9/2017).
Namun, pria yang awalnya diduga adalah seorang pawang buaya, Supriyanto (39) ini akhirnya menghilang tanpa jejak.
Segala upaya pencarian telah dilakukan.
Bukan Pawang Buaya, Supriyanto Ternyata Orang Pintar, Aksinya yang Berakhir Maut Sempat Ditertawakan
Mulai dari melakukan penyisiran dnegan menggunakan kapal maupun speedboat bahkan hinggan dilakukan dengan cara supranatural dan juga menggunakan jasa pawang buaya maupun orang pintar.
Melansir dari Tribun Kaltim, bahkan, guna segera menemukan korban kedua, bernama Supriyanto, petugas maupun warga yang berkepentingan, telah mendatangkan pawang dari berbagai daerah, diantaranya berasal dari Balikpapan, Kutai Lama dan pawang asal daerah sekitar.
Total, hingga hari ketiga pencarian, sudah terdapat tujuh pawang yang didatangkan, namun belum juga dapat menemukan korban.
Bahkan, seorang 'orang pintar' yang turut dalam pencarian korban, Aji Mansyah (47) yang berasal dari Balikpapan ini menjelaskan terkait penyerangan beruntun buaya kepada manusia.
Menurutnya, buaya tidak akan melakukan penyerangan apabila ia tidak merasa terganggu.
Tragis! Bukan Pawang, Ternyata Ini Ritual yang Dilakukan Supriyanto sebelum Tewas Diterkam Buaya
Gangguan yang dirasakan buaya pun juga beragam, bisa mulai dari yang langsung dilakukan manusia hingga hal-hal yang berbau mistis.
"Biasanya ada yang ganggu, buaya tidak akan menyerang kalau tidak mendapat gangguan," ucap pria yang selalu membawa mandau itu, Minggu (17/9/2017) dilansir dari Tribun Kaltim.
Lalu, kenapa buaya melakukan penyerangan kembali kepada manusia, padahal baru sehari buaya menyerang di tempat yang sama. Menurutnya, hal itu lebih disebabkan karena korban (Supriyanto) menantang buaya untuk mendatanginya.
"Masing-masing orang yang memiliki kemampuan, punya cara yang berbeda dalam penerapanya, mungkin cara yang dilakukan korban tidak disukai," tuturnya.
"Dan, dari pengalaman yang lalu lalu, pawang buaya itu tidak turun ke air, di atas saja," tambahnya.
Ia pun menjelaskan metode yang ia gunakan yaitu dengan berdoa lalu menyiapkan sesajen berupa tujuh buah telur, bunga, dan kopi hitam.
Hal ini terbuktid dari tubuh Arjuna, korban pertama yang termakan buaya dapat ditemukan pada Minggu (17/9/2017).
"Selain bahan bahan itu, saya juga melakukan sayatan sebanyak tujuh kali ke air. Kita tidak janji, tapi kami mencoba menolong keluarga korban," ucapnya.
Lanjut dia menjelaskan, dalam kasus ini, tubuh korban biasanya muncul paling cepat dua hari dan paling lama bisa sampai seminggu. Dia pun tidak dapat memastikan, tubuh korban utuh atau tidak saat ditemukan.
"Mudah mudahan seperti korban pertama, tubuhnya ditemukan utuh, karena biasanya juga tubuh korban sudah tidak utuh, dan ditemukan terpisah," tuturnya. (TribunWow.com/Natalia Bulan Retno Palupi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/ilustrasi-buaya_20170619_212158.jpg)