Wow! Ternyata Kesalehan Seseorang Bisa Dilihat dari Komentar di Facebook
Apakah Anda lebih cenderung memasang kalimat kebahagiaan atau hal yang berhubungan tentang keluarga di media sosial Anda?
Editor: Galih Pangestu Jati
Pendekatan "bottom-up," atau Differential Language Analysis (DLA) memungkinkan sebuah algoritma untuk mengelompokkan kata-kata dan dapat memberikan "pandangan transparan" yang mendalam ke dalam bahasa.
Hasil penelitian mengungkapkan, orang-orang religius menggunakan lebih banyak kata-kata religius, seperti "iblis," "berkat," dan "berdoa" daripada orang-orang nonreligius.
Mereka juga menunjukkan penggunaan kata-kata positif yang lebih tinggi, seperti "cinta”, serta kata-kata keluarga dan sosial, seperti "ibu" dan "kita".
Di sisi lain, individu nonreligius menggunakan kata-kata yang cenderung mengungkapkan kemarahan, seperti "benci”.
Mereka juga menunjukkan penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan emosi negatif dan proses kognitif dengan frekuensi tinggi, seperti "akal sehat”.
Kata-kata lain yang sering digunakan oleh orang-orang nonreligius adalah kata-kata umpatan, mengungkit-ungkit fisik, seperti “kepala” dan “leher”, serta kata-kata yang berhubungan dengan kematian, seperti “mati”.
Peran Agama
Sementara sekularisme meningkat di barat, para penulis penelitian mencatat bahwa lebih dari 80% populasi dunia mengidentifikasi beberapa jenis agama, yang tampaknya kini menjadi sebuah tren di masyarakat.
"Agama dikaitkan dengan kesejahteraan dan kehidupan yang lebih lama, tetapi hal itu juga dapat dikaitkan dengan tingkat obesitas dan rasisme yang lebih tinggi,” tutur para peneliti.
Bagi mereka, memahami penggunaan bahasa adalah bagian dari gambaran yang lebih besar tentang pemahaman bagaimana afiliasi keagamaan berkaitan dengan kehidupan selanjutnya.
Yaden dan rekan-rekannya tidak mengetahui apakah perilaku linguistik yang berbeda antara orang-orang religius dan nonreligius mencerminkan keadaan psikologis orang-orang dalam kelompok tersebut.
Dikritik Habis-habisan, Begini Pembelaan Keras Hansamu Yama! Saya Sebagai Kapten Tim Berhak
Di samping itu, mereka juga tidak mengetahui apakah penggunaan bahasa itu mencerminkan norma sosial sebagai bagian dari kelompok tersebut, atau beberapa kombinasi di antara kedua pertanyaan besar itu.
Mereka berharap, penelitian lebih lanjut akan menawarkan lebih banyak wawasan.
Awalnya, Yaden dan rekan-rekannya berharap untuk membandingkan berbagai afiliasi keagamaan satu sama lain, yaitu bagaimana umat Budha berbeda dari orang Hindu, orang Kristen dari Muslim, dan Ateis dari Agnostik. Namun, mereka tidak memiliki cukup data spesifik untuk melakukan analisis ini. "Kami berharap bisa melakukannya begitu ada data yang lebih besar tersedia untuk kami," ucap Yaden.
Berita ini telah diterbitkan Kompas.com dengan judul "Begini Perbedaan Bahasa Orang Religius dan Nonreligius di Facebook"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/ilustrasi_20170825_151359.jpg)