Breaking News:

Wow! Sampah Plastik Bisa Jadi Campuran Aspal, Kelebihannya Mengagumkan!

Tahukah Anda, jumlah sampah plastik laut di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

Editor: Galih Pangestu Jati
Hilda B Alexander/Kompas.com
Badan Pengembangan dan Penelitian (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengembangkan teknologi pemanfaatan sampah plastik untuk material pembangunan infrastruktur jalan. Uji coba perdana aspal plastik ini dilakukan di Kampus Universitas Udayana, Bali, Sabtu (29/7/2017). 

TRIBUNWOW.COM - Tahukah Anda, jumlah sampah plastik laut di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

Secara global produksi sampah plastik laut kita nomor dua setelah Cina.

Kontribusinya sekitar 57 persen atau 3,32 juta metrik ton per tahun. 

Hingga 2019 saja, limbah tak terurai ini diperkirakan mencapai 9,52 juta ton.

Jumlah ini merupakan 14 persen dari total sampah yang diproduksi. 

Fakta tersebut mendasari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menggagas aksi nasional mereduksi limbah plastik dengan menjadikannya bahan yang bermanfaat serta bernilai ekonomi tinggi.

Gagasan ini disambut positif Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), dikembangkan teknologi pemanfaatan limbah plastik untuk material perkerasan jalan atau aspal.

Berhasil Gagalkan Teroris Ledakkan Pesawat, Begini Upaya Australia Perketat Keamanan

Kepala Balitbang Kementerian PUPR Danis Hidayat Sumadilaga menuturkan, penelitian dan pengembangan teknologi pemanfaatan limbah plastik, sejatinya sudah berlangsung sejak lama.

Namun, uji cobanya baru diimplementasikan perdana di area Universitas Udayana, Bali, dan Jalan Raya Sri Ratu Mahendradatta, pada 28-29 Juli 2017. 

Uji coba terhadap jalan dengan total panjang 700 meter ini dilakukan untuk mengetahui seberapa tinggi daya tahan, dan seberapa kuat daya rekat aspal plastik.

"Hasil sementara ini, aspal dengan tambahan material sampah plastik jauh lebih lengket, secara teknis stabilitasnya pun lebih baik. Keuntungannya akan lebih tahan terhadap deformasi, dan daya lekat tinggi," tutur Danis kepada KompasProperti, Sabtu (29/7/2017).

Suasana sampah yang menumpuk di Kali Gendong, Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (14/3/2017). Kurangnya kesadaran masyarakat membuang sampah sembarangan mengakibatkan sampah plastik dari rumah tangga nyaris menyerupai daratan tersebut menumpuk di sepanjang Kali Gendong. (Foto: Ilustrasi)
Suasana sampah yang menumpuk di Kali Gendong, Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (14/3/2017). Kurangnya kesadaran masyarakat membuang sampah sembarangan mengakibatkan sampah plastik dari rumah tangga nyaris menyerupai daratan tersebut menumpuk di sepanjang Kali Gendong. (Foto: Ilustrasi) (KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG)

Dana yang dibutuhkan untuk mengaspal jalan sepanjang 700 meter tersebut sekitar Rp 600 juta untuk satu kali lapisan dengan ketebalan 4 sentimeter.

Tentu saja, kata Danis, biaya ini jauh lebih murah dengan tingkat stabilitas 40 persen lebih tinggi dibanding aspal tanpa plastik.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Tags:
CinaBaliSurabaya
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved