Jalan Terbungkuk-bungkuk, Begini Perjuangan Kakek 81 Tahun, Pedagang Asinan dari Zaman Soekarno
Di tengah panas terik matahari, kakek Ahmad masih semangat menjajakan asinan buah buatan istrinya.
Penulis: Maya Nirmala Tyas Lalita
Editor: Maya Nirmala Tyas Lalita
Visi Babe, "Pantang Pulang sebelum Asinan Laku Terjual".
Lebih lanjut, ketika diwawancara oleh reporter Kompas TV, Desi Hartini, Babe mengaku melakukan pekerjaan ini sejak 1985.
Namun, sebelumnya Babe mengawali usahanya dengan berjualan buah sejak zaman Soekarno.
"Waktu itu (Jualan buah) masih Presiden Soekarno, tahunnya lupa" kata Babe yang duduk didampingi sang istri, Ibu Nenah.
Dalam sehari, Babe mengantongi Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu dari hasil jualan asinan.
Setiap bungkus asinan ia beri harga Rp 10 ribu.
Saat ditanya soal rencana untuk berhenti bekerja, Babe mengaku tidak akan berhenti selama masih diberi kesehatan dan umur panjang.
"Nggak (berhenti kerja) selagi masih ada nafas di badan, masih ada umur," kata Babe.
Sebagai istri, Nenah mengagumi semangat suaminya itu.
Namun, sesekali ia pun prihatin dengan keadaan Babe.
Apalagi usia dan kondisi tubuh Babe tidak memungkinkan untuk berjualan keliling.
"Ibu sih bangga, (Babe) pantang menyerah."
"Tapi ibu suka sedih. Sedinya ngeliat jalannya itu, sudah bongkok," kata Nenah.
Setiap harinya, usai berjualan, Babe dijemput menggunakan ojek, sementara Nenah menggantikannya menuntun gerobak ke rumah.
Simak videonya di bawah ini!
(TribunWow.com/Maya Nirmala Tyas Lalita)