Mitos Batu Bleneng di Tol Cipali, Tak Bisa Dipindahkan apalagi Dihancurkan!
Para pemudik pun diharapkan untuk tetap berhati-hati saat melintasi jelang pintu gerbang Cipali.
Penulis: Natalia Bulan Retno Palupi
Editor: Galih Pangestu Jati
TRIBUNWOW.COM - Tak terasa musim mudik telah tiba.
Sudah banyak orang yang mempersiapkan diri untuk mudik untuk merayakan hari raya Lebaran di kampung halamannya masing-masing.
Tak terkecuali untuk pemudik yang didominasi warga Jabodetabek yang berkendara di jalur darat tersebut hampir dipastikan memilih melalui Tol Cipali.
Para pemudik pun diharapkan untuk tetap berhati-hati saat melintasi jelang pintu gerbang Cipali.
Melansir dari Tribunnews.com, jika memperhatikan sebelah kanan dari arah Cikampek atau Jakarta, terdapat tebing tinggi yang dibelah untuk jalan tol.
Inilah Surat Pengacara Rizieq Shihab Kepada Presiden Jokowi Soal Permintaan Penghentian Kasus
Diketahui, tebing tersebut memiliki panjang sekitar 300 meter.
Jika diperhatikan lebih lagi, ada yang ganjil di atas tebing tersebut.
Pasalnya, ada batu besar yang berada di tebing cadas itu.
Terlihat batu besar itu berada di pinggir tol dan sekilas batu tersebut bisa jatuh ke jalan tol.
Namun, sampai sekarang batu besar itu tetap berdiri kokoh.
Dikabarkan mayoritas warga setempat menganggap batu itu keramat dan memang tidak bisa diutak-atik.
Itulah sebabnya kontruksi jalan di tol wilayah itu dibuat berbelok-belok membentuk huruf S.
"Gunung yang tinggi bisa dibelah untuk jalan tol, tapi batu itu tidak bisa," ujar Romli (55), warga di pinggir Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali), ketika ditemui Tribunnews awal jalan Tol Cipali dioperasikan.
Bentuk jalan yang menikung dan membelah bukit di Jalan Tol Cipali hanya ada di Km 181-182.
Lokasi itu termasuk wilayah Desa Walahar, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Secara turun temurun, warga Walahar menyebut bukit itu sebagai Gunung Salam.
Sementara itu, batu yang bertengger di punggung bukit dinamai Batu Bleneng.
Bahkan, Romli yang tinggal di kaki Gunung Salam mempercayai Batu Bleneng memiliki kekuatan gaib sehingga batu seukuran bus kota itu tidak dapat dipindahkan maupun dihancurkan.
Pekerja proyek sudah pernah mencoba memindahkan dan menghancurkan Batu Bleneng menggunakan alat-alat berat, tetapi selalu gagal.
Kabarnya, setiap ada pekerja yang hendak memindahkan batu, maka terjadi insiden atau kecelakaan kerja.
Bahkan, kabarnya ada operator alat berat yang meninggal dunia setelah nekat berupaya memindahkan Batu Bleneng.
Warga-warga pun juga percaya mitos Batu Bleneng adalah sumbat mata air raksasa.
Jika batu tersebut dipindahkan, maka air akan menyembur tanpa henti.
Lokasi Batu Bleneng itu pun pernah dijadikan lokasi syuting acara televisi tentang lokasi-lokasi angker.
Saat ditelusuri, jalan setapak di punggung Gunung Salam tersebut akan didapati sekitar 10 makam di dekat Batu Bleneng.
Selain itu, juga terdapat sebuah saung atau gubuk yang menempel pada Batu Bleneng.
Namun saung tersebut tidak terlihat dari jalan tol karena tersembunyi di balik batu.
Untuk pemudik yang melintasi Tol Cipali dari arah Cirebon menuju Jakarta, Batu Bleneng terdapat di sisi kiri sedangkan pelintas dari Jakarta, batu itu ada di sisi kanan.
Akibat pemotongan Gunung Salam, Batu Bleneng kini berada di bibir tebing sisi selatan.
Pemotongan Gunung Salam menciptakan tebing yang mengapit jalan tol.
Kedua tebing itu telah disemen sehingga menutup kemungkinan guguran batu dan tanah ke badan jalan.
Panjang masing-masing tebing sekitar 300 meter sedangkan puncak tebing tingginya sekitar 40 meter.
Haryanto, warga Walahar, tak percaya Batu Bleneng memiliki kekuatan gaib.
Menurutnya, Batu Bleneng adalah batu gunung biasa yang kebetulan berukuran sangat besar.
Secara kebetulan pula, batu itu terletak di dekat sekumpulan makam.
"Kalau saya tidak percaya, itu hanya kebetulan saja," katanya.
Gubernur Bengkulu Diringkus Dalam OTT KPK, Begini Fakta Lengkapnya!
Tentang alasan jalan tol di kawasan itu berbentuk letter S, Haryanto mengatakan bahwa hal itu terjadi karena tidak adanya kesepakatan harga antara pemilik lahan dan panitia pembebasan tanah.
Saat yang sama, pemilik lahan di lokasi alternatif bersedia menerima harga yang ditawarkan panitia pembebasan lahan.
Oleh karena itu, konstruksi jalan pun berbelok mengikuti letak lahan yang bisa dibebaskan.
Namun penjelasan Romli maupun Haryanto belum bisa dikonfirmasikan ke pihak-pihak yang terlibat pembebasan tanah dan pembangunan Jalan Tol Cipali di wilayah Walahar. (TribunWow.com/Natalia Bulan Retno Palupi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/batu-bleneng-di-tol-cipali_20170620_150409.jpg)