Breaking News:

Dituding sebagai Plagiat, Lihat Perbandingan Tulisan Afi dan Mita Handayani!

Tulisannya yang berjudul 'Belas Kasih Dalam Agama' milik Afi, dikatakan menjiplak tulisanMita Handayani. Lantas seperti tulisan mereka?

Penulis: Natalia Bulan Retno Palupi
Editor: Maya Nirmala Tyas Lalita
KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI
Afi Nihaya Faradisa 

Banyak yang meragukan Islam sebagai ideologi kelembutan, terutama ketika dunia terus dikejutkan oleh serangkaian insiden berdarah yang mengatasnamakan agama ini. Namun jika kita menelisik sedikit lebih dalam saja, kita akan menemukan bahwa salah satu doktrin sentral Islam ternyata memang berputar pada prinsip belas kasih.

Kalimat basmalah, pembuka surat-surat Al-Qur’an dan doa yang paling sering diucapkan umat Islam sedunia, mengandung dua sifat utama Tuhan: “Maha Pengasih” dan “Maha Penyayang”. Kalimat ini menjadi bukti paling tegas bahwa kasih sayang adalah jiwa dari seluruh ajaran Islam.

Kisah pezina yang diampuni karena belas kasihnya ini mengandung banyak pesan. Pertama, anjing adalah hewan yang secara tradisi dianggap najis dalam Islam. Belas kasih terhadap makhluk yang dianggap hina sekali pun ternyata memiliki arti. Kedua, zina juga adalah dosa yang secara tradisi diganjar hukuman berat, mulai dari cambuk hingga rajam. Namun belas kasih senilai seteguk air dianggap mampu menebus ‘dosa’ ini. Yang menarik, tidak ditemukan kisah serupa yang melibatkan dosa lain seperti membunuh dan merampok, yang sudah pasti mengabaikan belas kasih.
Kisah ini bukan lah satu-satunya dalam Islam. Banyak kisah lainnya yang memiliki narasi serupa, yang mengindikasikan bahwa belas kasih dibayar dengan yang amat mahal dalam Islam.

Kitab Tsalasatul Ushul (Tiga Landasan Utama) karya Muhammad Abdul Wahab (yang sering dikaitkan dengan Wahabisme, sekte terkeras dalam Islam saat ini) misalnya menceritakan satu kisah di mana seseorang ditolak seluruh ibadahnya, namun diampuni karena menyelamatkan seekor lalat yang tenggelam di gelasnya. Kitab ini bahkan juga mengutip dorongan untuk berbelas kasih kepada orang kafir sekali pun. “Kasihi lah yang di bumi, maka yang di langit akan mengasihimu,” bunyi lafadz sejumlah hadits yang menjadi dasarnya.

Kitab Tadzkiratul Auliya (Kisah Para Wali) karya Fariduddin Atthar menyitir kisah lain tentang satu-satunya orang yang diterima ibadah hajinya oleh Allah justru karena membatalkan hajinya agar uang bekalnya bisa digunakan untuk menolong tetangganya yang kelaparan.

Kisah semacam ini mungkin akan jarang didengar dan cenderung tidak disukai di kalangan Islam legalistik yang memiliki pendekatan sangat kaku tentang benar dan salah. Aku pribadi mengelompokkan kisah-kisah ini sebagai post-sharia Islam, atau Islam pasca-syariah. Islam yang tidak lagi berdebat soal percabangan hukum hingga ke tataran remeh seperti batas aurat & jumlah rakaat. Sejenis Islam level berikutnya yang telah melampaui aspek legal formal menuju sesuatu yang lebih esensial. Dan esensi itu bernama belas kasih.

Agaknya tidak mengherankan jika tema ini juga ditemukan di semua agama besar dunia. Mulai dari Yesus yang berdiri membela pezina yang nyaris dihakimi massa, hingga Guan Yin yang dipuja luas di Asia Timur sebagai Dewi Belas Kasih yang mendengar penderitaan dunia.

Mungkin ini yang dimaksud sebagian orang ketika berkata bahwa semua agama itu sama. Mungkin berbeda pada tataran syariat dan legal formal, namun melebur dalam esensi yang sama ketika naik ke jenjang berikutnya. Cita-cita rahmatan lil aalamiin (belas kasih bagi semesta alam)."

Mengetahui dirinya dituduh melakukan plagiarisme, Afi pun menjelaskan duduk perkaranya.

Melansir dari KOMPAS.com, Afi menegaskan bahwa dirinya tidak melakukan hal yang dituduhkan tersebut.

Matanya terlihat berkaca-kaca ketika ia dimintai keterangan mengenai dugaan plagiarisme oleh Bayu Sutiyono dari Kompas TV, di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, pada Kamis (1/6/2017).

Dengan cepat dan singkat, Afi menjawab "tidak" saat diwawancarai Bayu Sutiyono.
Saat itu, Afi mengaku belum mengetahui tuduhan plagiarisme yang ditujukan kepadanya. Karena belum membuka media sosial.

"Saya tidak tahu, saya belum banyak bukan sosmed," ucapnya.

Namun, kata dia, dia sudah banyak menulis dan tulisannya banyak yang di-copy orang.

"Saya memang menulis di akun-akun lama, dari tahun 2012 dan beberapa tulisan di akun Afi tulisan lama. Akun lama Afi sudah di-take down," kata Afi.

Sumber: TribunWow.com
Halaman 3/4
Tags:
Afi Nihaya FaradisaFacebookKompas TVJakarta Pusat
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved