Kedatangan Raja Arab Saudi
Bisht, Jubah Raja Arab Saudi yang Harganya Bikin Kamu Tercengang!
Kedatangan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud, ke Indonesia memang menyita perhatian publik, Rabu (1/3/2017).
Penulis: Natalia Bulan Retno Palupi
Editor: Galih Pangestu Jati
Seorang penjahit bisht bernama Abu Salem pun menjelaskan bahwa bisth pertama kali dijahit di Persia, kemudian diperkenalkan di Arab Saudi saat pedagang datang untuk berhaji atau umrah.
Daerah Al-Ahsa menjadi pusat penjahit terbaik bisht selama lebih dari 200 tahun dan juga menjadi produsen bisht terkemuka sejak tahun 1940.
Beberapa keluarga di Al-Ahsa mewarisi keterampilan nenek moyang mereka dan terus menggerakan bisnis pembuatan bisht ini menggunakan nama keluarga mereka.
Bisa ditemukan merek-merek bisht di sana seperti Al-Qattan, Al-Kharas Al-Mahdi, ataupun Al-Bagli.
Bisht ini awalnya menggunakan tiga jenis bordir yaitu emas, perak, dan sutra.
Benang yang digunakan disebut zari memadukan warna emas dan perak.
Bisht yang paling populer di sana adalah bisht berwarna hitam dengan jahitan emas, krem, dan putih.
Namun pada tahun 90'an warna baru seperti biru, abu-abu, dan merah marun mulai diperkenankan dan lebih banyak digunakan oleh kaum muda di Arab Saudi.
Harga jual jubah ini pun juga bervariasi, mulai dari 100 real atau sekitar Rp350 ribu, sampai dengan 20 ribu real atau sekitar Rp70 juta, tergantung pada jenis kain, jahitan, warna, dan gaya dari bisht tersebut.
Bisht yang paling mahal tentunya yang dirancang khusus untuk raja, pangeran, politisi, dan petinggi negara Saudi atau disebut dengan Royal Bisht.
Ada tiga desain dari bisht ini, yaitu Darbeyah, Mekasar, dan Tarkeeb.
Darbeyah merupakan bisth buatan tangan dengan bordir zari asli dan memiliki pola tradisional.
Mekasar desain, juga disebut Gasbi, memiliki bordir sutra sepanjang tepi kain.
Sementara itu, Tarkeeb menggunakan bordir zari emas pada kain bisht.
Ada satu desain lagi yang khusus berasal dari Al-Ahsa, yaitu Hasawi, merupakan desain paling mahal karena menggunakan bulu unta dan wol kambing sebagai kainnya dan dipadu padankan bordir emas pada kerah dan lengannya. (Arabnews.com/TribunWow.com/Natalia Bulan Retno Palupi)