Sindiran 'Maut' nan Nyeleneh ala Kaesang Putra Bungsu Jokowi, Caranya Unik Lho
Kaesang Pangarep sempat diolok-olok karena tinggal di Apartemen dengan kamar kelas pembantu alias pencitraan sok sederhana.
Penulis: Rendy Adrikni Sadikin
Editor: Rendy Adrikni Sadikin
TRIBUNWOW.COM , JAKARTA - Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden RI Joko Widodo, memang pribadi nan unik.
Pria berkacamata yang berprofesi sebagai vlogger tersebut juga memiliki cara yang tak biasa saat menyindir sesuatu hal.
Salah satunya ketika sebuah akun jejaring sosial Facebook yang diduga dikelola putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, latah mengajukan pertanyaan nyeleneh untuk menyindir kicauan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Sebelumnya, SBY berkicau seperti ini melalui akun Twitter @SBYudhoyono, "Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak utk tinggal di negeri sendiri,dgn hak asasi yg saya miliki? *SBY*".
Cuitan tersebut ditirukan oleh akun Facebook yang diduga dikelola oleh Kaesang melalui unggahan seperti ini:
"Saya bertanya kepada Bapak Presiden dan Kapolri, apakah rasa sakit karena mencintai diam-diam itu ditanggung oleh BPJS?" tulis akun Kaesang Pangarep tersebut.
Tak hanya itu, berikut sindiran-sindiran nyeleneh Kaesang yang dirangkum Tribunnews:
1. Sindir kerabat menteri
Surat permintaan fasilitas yang diduga dibuat oleh kerabat mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Yuddy Chrisnandi pun tak luput dari sindiran Kaesang.
Berawal dari surat Wahyu Dewanto yang diunggah pemilik akun jejaring sosial Twitter @ArieKriting ke ke akun milik Kaesang Pangarep @kaesangp.
Isi surat tersebut adalah permintaan fasilitas akomodasi dan transportasi selama berkunjung ke Sydney, Australia.
Kicauan Arie Kriting tersebut kemudian ditanggapi Kaesang.
"Enak ya bang, aku di singapore aja gak dapet fasilitas apa2. Tapi aku orapopo malah seneng," cuit Kaesang yang diposting beberapa waktu silam.
Wahyu tak lain adalah kerabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi.
Namanya kemudian beredar luar ke publik saat surat dengan kop Kemenpan RB yang dilayangkan ke Konsulat Jenderal RI di Sydney.