Fadli Zon Pamer Prestasi Akademik saat Debat, Faizal Assegaf: Mestinya Anda Malu sama Menteri Susi

Ketua Progres 98 Faizal Assegaf menanggapi debat antara Wakil Ketua DPR Fadli Zon dengan Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya.

Faizal Assegaf - Kompas.com/Sherly Puspita

TRIBUNWOW.COM - Ketua Progres 98 Faizal Assegaf menanggapi debat antara Wakil Ketua DPR Fadli Zon dengan Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya.

Hal tersebut ia sampaikan melalui akun Twitter miliknya, @faizalassegaf, yang diunggah pada Minggu (9/12/2018).

Dalam perdebatan tersebut, Fadli Zon sempat memamerkan sejumlah prestasi akademiknya kepada Yunarto Wijaya.

Yang mana Fadli Zon mengaku juara umum sejak kelas 1 SD hingga lulus S3 dengan IPK 3,8.

"Ini bukan sombong ya Bro cuma analisa sendiri deh.

Yg jelas sy juara umum dr kelas 1 SD, lulus SMA summa cum laude, mahasiswa berprestasi 1 Universitas Indonesia, mawapres 3 nasional, alhamdulillah S3 selesai dg IPK klu gak salah 3,8. Lumayanlah," ungkap Fadli Zon saat IQ-nya dipertanyakan Yunarto Wijaya.

Menanggapi hal itu, Faizal Assegaf mengatakan mestinya Fadli Zon malu dengan Menteri Kelautan dan Perikananan Susi Pudjiastuti yang berprestasi dan memiliki banyak terobosan untuk kebijakan-kebijakan baru, meski tak memiliki pendidikan akademik yang tinggi.

"Mesti anda malu sama bu @susipudjiastuti, sekolah pas2an tp sangat berprestasi, terobosan2 kebijakannya mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, membuat rakyat bangga & tdk jd beban negara.

Klu anda mah politisi upahan dari negara tp kerjanya cuma asbun, doyan gombalin rakyat," ungkap Faizal Assegaf.

Sementara itu, sebelumnya Fadli Zon dan Yunarto Wijaya terlibat perdebatan hingga saling mempertanyakan kualitas kecerdasan atau IQ masing-masing.

Hal itu terjadi pada Sabtu (8/12/2018), ketika mereka menanggapi pernyataan Fahri Hamzah soal debat kandidat capres-cawapres di Pilpres 2019.

Fahri menganggap debat antar capres tak perlu diselenggarakan karena dianggap sangat singkat dan para pendukung telah terbentuk untuk mendukung capres mereka.

"Sering, diujungnya nanti sebagai cara memahami isi otak calon pemimpin, maka demokrasi menyelenggarakan debat.

Tapi sangat singkat. Debat pendek itu berhasil membuat segelintir cerdik pandai memahami siapa kandidat yang mampu.

Tapi histeria telah terbentuk. Debat tak berguna," kicau Fahri Hamzah.

Tweet dari Fahri Hamzah ini pun mendapatkan komentar dari sesama Wakil Ketua DPR, Fadli Zon.

Sambil menjawab tweet dari Fahri, Fadli mengatakan sebaiknya IQ setiap capres dicantumkan.

"Meskipun tidak jadi patokan, ada baiknya IQ diumumkan. Jangan sampai 200 sekolam. @rockygerung," kata Fadli Zon.

Tweet ini juga mendapatkan komentar dari Mantan Ketua Umum Pemuda PP Muhamadiyah, Dahnil Simanjuntak.

"Sepertinya perlu juga diumumkan, supaya kualitas nalar nasional meningkat," kata Dahnil.

Tweet Fadli Zon dan Dahnil Anzar (Capture Twitter)

Menjawab tweet dari Fadli Zon dan Fahri Hamzah, Yunarto Wijaya pun turut berkomentar soal pengumuman IQ.

Ia memberikan tantangan untuk membuka test IQ saat sekolah, namun, jika ternyata IQ mereka lebih rendah, maka harus mundur dari DPR.

"Yuk kita buka tes IQ kita zaman sekolah, siapa yang lebih tinggi... sekalian @Dahnilanzar & @Fahrihamzah punya...

kalo anda lebih rendah boleh juga mundur dari dpr," jawab Yunarto Wijaya melalui Twitter @yunartowijaya.

Tweet dari Yunarto dijawab oleh Fahri Hamzah yang berharap para capres bisa berdebat dengan tema yang lebih banyak.

"Saya hanya berharap capres bisa berdebat dalam tema yang lebih banyak... itu saja... itu harapan saya kepada @KPU_ID sebab negara kita besar jangan disederhanakan isunya," jawab Fahri.

Di sisi lain, terkait diadakannya debat capres, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan menyebut, pihaknya telah membuat rancangan tersebut.

Rancangan itu misalnya, pelaksanaan debat yang diagendakan dilakukan sebanyak lima kali.

Debat baru akan dimulai pada tahun 2019 dengan rentang waktu yang sedang dalam pembahasan.

Formatnya ada tiga, yaitu debat pasangan capres-cawapres, debat capres, dan debat cawapres.

"Tetapi saat debat capres, cawapresnya hadir. Pada waktu debat cawapres, capres hadir. Jadi saling hadir semua," kata Wahyu di kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (22/10/2018), seperti yang dikutip dari Kompas.com.

Wahyu, pihaknya saat ini sudah mulai mengidentifikasi isu-isu utama yang akan dijadikan sebagai materi debat.

Panelis dan sejumlah narasumber dalam hal ini juga akan dilibatkan untuk merumuskan isu.

Lebih lanjut, Wahyu mengatakan, KPU akan mengadakan penggodokan rencana debat capres-cawapres bersama tim pakar.

"Jadi rancangan waktunya sudah, isunya sudah, tim pakar sudah, calin panelis sudah, calon moderator sudah, jadi rancangan itu sudah, hanya memang itu baru akan dilakukan di 2019, tapi rancangan2 itu sudah ada," jelasnya.

Sementara itu, saat ini tahapan Pemilu 2019 sedang dalam masa kampanye.

Terhitung 23 September 2018 hingga 13 April 2019 mendatang, seluruh peserta pemilu diperbolehkan untuk mengampanyekan visi, misi, program, dan citra diri.

Setelahnya, selama tiga hari, terhitung 14-16 April 2019, akan dilakukan masa tenang.

Sedangkan 17 April 2019 merupakan hari pemungutan suara, yang akan dilanjutkan dengan penghitungan suara. (TribunWow.com/Lailatun Niqmah)

READ SOURCE