TRIBUNWOW.COM - Seorang mahasiswa tingkat 1 Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) di Cilincing, Jakarta Utara, tewas setelah dianiaya seniornya.
Sesuai motif penganiayaan, Putu Satria Ananta Rustika (19) merupakan korban arogansi senior, atau kehidupkan senioritas.
Diketahui, berdasarkan hasil autopsi, ada beberapa luka di bagian tubuh korban, termasuk organ dalam.
Pelaku pun telah ditangkap, dan kini terancam hukuman 15 tahun penjara.
Secara lengkap, berikut fakta-fakta Taruna dianiaya senior hingga tewas di STIP Cilincing:
Baca juga: Nasib Ajudan Bupati Kubar yang Aniaya Sopir Truk, Dinonaktifkan dan Jalani Proses Hukum Militer
1. Sosok Pelaku
Pelaku adalah Tegar Rafi Sanjaya (21), mahasiswa tingkat 2 STIP Jakarta.
Tegar pun kini telah ditetapkan sebagai tersangka.
Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Gidion Arif Setyawan mengatakan, pihaknya telah memeriksa sebanyak 36 orang, di antaranya taruna dan pengasuh di STIP, dokter serta ahli.
Selain itu, polisi pun sudah mempelajari rekaman CCTV yang menunjukkan kejadian penganiayaan tersebut.
"Maka kami menyimpulkan tersangka tunggal di dalam peristiwa ini yaitu TRS. Salah satu taruna STIP Cilincing tingkat 2," kata Gidion, kepada wartawan di kantor Polres Metro Jakarta Pusat, pada Sabtu (4/5/2024).
2. Motif
Gidion mengatakan kehidupan senioritas menjadi motif dari kasus ini.
Ia menilai ada arogansi senior yang ditemukan pihaknya.
"Motifnya tadi kehidupan senioritas. Kalau bisa disimpulkan mungkin ada arogansi senioritas," ucapnya.
Baca juga: Jeritan Istri sebelum Dimutilasi Suami, Pelaku Terekam Kamera Santai Bawa Potongan Tubuh di Jalanan
3. Lidah Ditarik
Menurut Kombes Gidion Arif Setyawan mengatakan Putu tewas karena penyelamatan yang dilakukan tersangka idak sesuai prosedur.
"Ternyata yang menyebabkan matinya atau hilangnya nyawa korban adalah paling utama adalah ketika dilaksanakan upaya-upaya yang menurut tersangka ini adalah penyelamatan," kata Gidion, kepada wartawan di kantor Polres Metro Jakarta Utara, pada Sabtu (4/5/2024).
Gidion menjelaskan, korban pingsan setelah dihujam lima kali pukulan di bagian ulu hati.
Mengetahui hal tersebut, tersangka dan keempat rekan satu tingkatnya panik dan membawa korban ke ruang kelas yang berada di samping toilet tempat kejadian perkara (TKP).
Ia mengatakan, tersangka melakukan penyelamatan dengan memasukan tangan ke bagian mulut, sehingga organ vital korban tidak mendapatkan asupan oksigen.
"Menurut tersangka nih ya, penyelamatan (dengan cara) memasukkan tangan di mulut untuk menarik lidahnya. Tapi itu justru yang menutup saluran (pernapasan), korban meninggal dunia," jelas Gidion.
Baca juga: Detik-detik MUA di Sukabumi Dianiaya Orangtua Pengantin Pria saat Tagih Sisa Rias, Alami Luka Parah
4. Hasil Autopsi
Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Polri Brigjen Hariyanto menyebut autopsi jenazah korban dilakukan selama kurang lebih tiga jam lamanya.
"Hari ini telah dilakukan autopsi terhadap jenazah laki-laki inisial P, kelahiran Juni 2005 (19 tahun). Pelaksanaan autopsi sekitar pukul 09.00 WIB dan selesai sekitar pukul 12.00 WIB," kata Hariyanto saat dihubungi, Sabtu (4/5/2024).
Secara umum, kata Hariyanto, korban mengalami luka-luka memar di bagian luar maupun dalam tubuhnya.
"Secara umum didapatkan berupa memar pada mulut, lengan atas dan dada, luka lecet di bibir, memar pada paru, dan perbendungan organ dalam," ucapnya.
Meski begitu, Hariyanto belum bisa memastikan penyebab kematian korban dalam kasus ini karena masih dalam pendalaman penyidik.
"Cara kematian dari autopsi sedang didalami penyidik," ungkapnya. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Tampang dan Sosok Tersangka Kasus Taruna STIP Tewas Dianiaya Senior, Pelaku Mahasiswa Tingkat 2, dan Terungkap Penyebab Utama Taruna STIP Tewas Usai Dianiaya Senior, Tersangka Tarik Lidah Korban