TRIBUNWOW.COM - Awan mendung tengah menggelayuti Bumi Mataram, dua tim besar, PSS Sleman dan Persis Solo kini tengah kesakitan, BCS-Pasoepati cek sebabnya.
Dilansir TribunWow.com, gelaran Liga 1 2023/2024 bisa jadi mimpi buruk bagi PSS Sleman dan juga Persis Solo.
Ya, dua tim asal Bumi Mataram kini tengah dibayangi permasalahan pelik yang bisa merusak eksistensi PSS Sleman dan Persis Solo di gelaran Liga 1.
Ancaman nyata terlihat dan berpotensi membuat PSS Sleman dan Persis Solo bakal semakin kesakitan di akhir musim.
Baca juga: PSS Sleman Rasa Borneo FC? Risto Vidakovic Potensi Boyong 3 Mantan Anak Emasnya, BCS-Pusamania Cek
Lantas, apa sebab awan mendung tengah menggelayuti PSS Sleman dan Persis Solo?
BCS-Pasoepati cek sebabnya berikut ini:
PSS Sleman
PSS Sleman memang tak dalam ancaman nyata zona merah degradasi.
Klub berjuluk Laskar Super Elja itu mampu mengoleksi 26 poin dari 23 pertandingan dengan rincian 6 kali kemenangan, 8 hasil seri dan 9 kali menelan kekalahan.
Hasil itu membuat PSS Sleman sementara bertengger di posisi ke-12 klasemen sementara.
Terpaut lima poin dari Arema FC yang bertengger di posisi zona merah degradasi.
Lantas, apa yang sebabkan PSS Sleman kini tengah digelayuti awan mendung?
Sebagaimana diketahui, awan mendung tengah menggelayuti PSS Sleman disebabkan karena dugaan kasus match fixing yang membelenggu tim Super Elang Jawa tersebut.
Match fixing tersebut terjadi di laga PSS Sleman kontra Madura FC di babak 8 besar Liga 2 2018 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, 6 november 2018.
Dalam jalannya laga, terlihat beberapa kejanggalan terjadi.
Mulai dari gol pemain Madura FC, Usman Pribadi yang dianulir wasit karena dianggap offside namun sejatinya on-side.
Dan juga adanya pergantian wasit M. Reza Pahlevi yang digantikan oleh wasit cadangan Agung Setiawan di tengah laga akibat cededera yang dialami wasit utama.
Hingga gol PSS Sleman di menit ke-81 yang terjadi melalui gol bunuh diri bek Madura FC, Choirul Rifan yang salah menghalau bola umpan silang pemain PSS Sleman, Ilhamus Irhas.
Kontroversi terjadi ketika proses terjadinya gol Ilhamul Irhas yang sejatinya lebih dulu berada dalam posisi offside ketika mendapatkan umpan terobosan.
Namun, pada saat itu, asisten wasit tidak mengangkat bendera pertanda offside terjadi.
Dari rentetan bukti yang diungkap, ada delapan tersangka yang pada akhirnya sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Satgas Antimafia Bola.
Para tersangka tersebut di antaranya adalah Vigit Waluyo yang disebut dengan inisial (VW), serta para wasit yang bertugas di laga itu yakni M. Reza Pahlevi, Agung Setiawan, Khairuddin, dan Ratawi.
Sementara tiga orang lainnya adalah Dewanto Rahadmoyo Nugroho (yang ketika itu menjabat sebagai asisten manajer klub PSS), Kartiko Mustikaningtyas (LO wasit), dan satu orang yang masih berstatus DPO yaitu Gregorius Andy Setyo.
"Pengungkapan pertama adalah kasus match fixing yang kemudian kami temukan ada upaya pengaturan skor agar klub lolos degradasi. Ini semua adalah hasil data intelijen, ada salah satu aktor intelektual, namanya cukup malang melintang, inisial VW. Alhamdulillah ini bisa kami ungkap," kata Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo di Mabes Polri, minggu lalu.
"Secara umum kami mengindikasi pihak klub melobi perangkat pertandingan untuk bisa memenangkan klub, pihak klub telah mengeluarkan uang Rp1 miliar untuk melobi wasit, ada 19 saksi, dan 8 tersangka," ucap Kasatgas Antimafia Bola Asep Edi Suheri yang menimpali dikutip TribunWow.com dari Tribunnews.com.
Adapun, pada kasus itu, sosok Vigit dinilai sebagai aktor utama sudah diberikan sanksi PSSI tidak boleh terlibat dalam sepak bila seumur hidup pada 2019 lali.
Dan kali ini, sosoknya juga mendapatkan jeratan hukuman negara akibat ulahnya itu.
"Kami telah mengamankan barang bukti, berkas perkara sudah kami kirimkan ke Kejaksaan Agung, kami menunggu perintah berkas P21. tersangka VW akan kami perlihatkan," kata Asep.
Adanya temuan tersebut membuat PSS Sleman turut terseret hingga berpotensi besar terkena imbas degradasi ke Liga 2 secara otomatis dan denda sekurang-kurangnya Rp150.000.000.
“Siapa saja yang melakukan tingkah laku buruk terlibat suap, baik dengan cara menawarkan, menjanjikan atau meminjam keuntungan tertentu dengan memberikan atau menerima sejumlah uang atau sesuatu yang bukan uang tetapi dapat dinilai dengan uang dengan cara dan mekanisme apapun kepada atau oleh perangkat pertandingan, pengurus PSSI, ofisial, pemain, dan/atau siapa saja yang berhubungan dengan aktivitas sepak bola atau pihak ketiga baik yang dilakukan atas nama pribadi atau atas nama pihak ketiga itu sendiri untuk berbuat curang atau untuk melakukan pelanggaran terhadap regulasi PSSI termasuk Kode Disiplin PSSI ini dengan maksud mempengaruhi hasil pertandingan, harus diberikan sanksi.”
Kemudian pada poin 5 dituliskan, “Klub atau badan yang anggotanya (pemain dan/atau ofisial) melakukan pelanggaran sebagaimana diatur dalam ayat (1) dan pelanggaran tersebut dilakukan secara sistematis (contoh: dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa anggota dari klub atau badan tersebut) dapat dikenakan sanksi: A. Diskualifikasi, untuk klub non-Liga 1 dan non-Liga 2, B. Degradasi, untuk klub partisipan Liga 1 dan Liga 2. C. Denda sekurang-kurangnya Rp150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah).”
Selain itu, potensi lain yang dapat terimbas akibat adanya permasalahan tersebut adalah para pemain bintang PSS Sleman yang potensi hengkang jika Laskar Super Elja benar terdegradasi.
Baca juga: PSS Sleman Siaga 1: 5 Pemain Naik Daunnya Kans Kena Goda di Akhir Musim, Persija-Barito Pantau Sikon
Persis Solo
Berbeda dengan PSS Sleman, Persis Solo digelayuti awan mendung karena performa jebloknya di musim ini.
Seperti diketahui, Persis Solo saat ini bertengger di posisi ke-15 klasemen sementara Liga 1 2023/2024.
Persis Solo hanya mampu bukukan 25 poin dari 22 pertandingan.
Bahkan, tim berjuluk Laskar Sambernyawa itu hanya terpaut 4 poin dari Arema FC yang berada di posisi zona merah degradasi.
Jika tak kunjung membaik, bukan menutup kemungkinan Persis Solo bakal terjerembab lebih dalam ke zona degradasi.
Mengingat, performa angin-anginan hingga margin poin yang hanya tipis dari tiga tim yang berada di zona degradasi yang dihuni oleh Arema FC, Persikabo 1973, dan Bhayangkara FC.
Baca juga: Sosok di Luar Dugaan Barito Putera Terancam Out: Persija, PSIS dan PSS Sleman Potensi Turun Tangan
(TribunWow.com/Adi Manggala S)