TRIBUNWOW.COM - Nasib nyesek di Bumi Mataram, Persis Solo dan PSS Sleman di ambang Liga 2 2024 dan ditinggal para pemain bintangnya.
Dilansir TribunWow.com, Persis Solo dan PSS Sleman kini tengah dalam permasalahan pelik.
Persis Solo dan PSS Sleman di ambang mempertaruhkan eksistensinya di gelaran Liga 1 karena faktor yang berbeda.
Jika tak kunjung menemukan solusi, tak menutup kemungkinan keduanya akan sama-sama terdegradasi ke Liga 2 2024/2025.
Baca juga: Respon Kontras Bonek-Pasoepati soal Nasib Persebaya-Persis Solo: Singgung Medioker dan Iba Desak Out
Berikut ulasan sebabnya:
Persis Solo
Persis Solo kembali alami nasib tak mengenakan di pekan ke-23 Liga 1 2023/2024.
Persis Solo dilibas di depan para suporternya Pasoepati oleh Dewa United dengan skor 1-2 di Stadion Manahan Solo, Jawa Tengah, Minggu (17/12/2023).
Sempat catatkan gol cepat melalui Ramadhan Sananta (1').
Persis Solo harus puas dibalas kontan dua gol oleh Dewa United melalui Ricky Kambuaya (14') dan juga Egy Maulana Vikri (74').
Kekalahan itu membuat Persis Solo tertahan di posisi ke-15 klasemen sementara dengan raihan 24 poin.
Beruntung bagi Persis Solo, di saat yang bersamaan, Arema FC juga digilas tuan rumah Barito Putera dengan skor 2-0.
Praktis, margin mereka dengan Arema FC di batas ambang zona merah masih terjaga 4 poin.
Di sisi lain, imbas kekalahan itu, Pasoepati merasa iba dengan 3 pemain Persis Solo.
Pasoepati merasa, ketiga pemain yang bermain apik itu sudah selayaknya angkat kaki dan desak out ketiganya musim depan.
Umpatan bernada kritikan untuk manajemen Persis Solo itu diungkap Pasoepati pada Instagram resmi tim seusai pertandingan kontra Dewa United.
"Messidoro karo riyandi ndang pindah ya, mesakne ndak nilai juale dadi elek," tulis @bag****
"Mesakke Sananta," tulis @revaaaa****
"Sananta musim ngarep pindah wae mesakke, " tulis @ipacii****
"dadio dodolan jersey wae sis, nek ngene mesakne karir e sananta," tulis '@billal****
"Persis solo itu hanya bermain dengan SANANTA & MESSIDORO," @yosre****
"Persis solo itu hanya bermain dengan SANANTA & MESSIDORO," tulis @arif_fidi****.
Jika tak kunjung memperbaiki performa, tak menutup kemungkinan Persis Solo bakal turun kasta dan banyak ditinggal oleh para pemain bintangnya.
Baca juga: Persis Solo Dibuat Malu Dewa United, Pasoepati Sindir Tajam 2 Sosok di Luar Dugaan Ini, Ungkit PSIS
PSS Sleman
Berbeda dengan Persis Solo, PSS Sleman sejatinya masih berada di posisi ke-12 dan berjarak 5 poin dari Arema FC yang bertengger di batas zona degradasi.
PSS Sleman saat ini mengoleki 26 poin dari 23 pertandingan dengan rincian 6 kali catat kemenangan, 8 seri dan 9 kali kalah.
Terkini, ancaman nyata PSS Sleman terjerembab zona merah degradasi justru datang dari kasus yang kini menerpa tim berjuluk Laskar Super Elja tersebut.
Sebagaimana diketahui, PSS Sleman kini harus menelan pil pahit terseret dalam kasus dugaan match fixing.
Match fixing tersebut terjadi di laga PSS Sleman kontra Madura FC di babak 8 besar Liga 2 2018 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, 6 november 2018.
Dalam jalannya laga, terlihat beberapa kejanggalan terjadi.
Mulai dari gol pemain Madura FC, Usman Pribadi yang dianulir wasit karena dianggap offside namun sejatinya on-side.
Dan juga adanya pergantian wasit M. Reza Pahlevi yang digantikan oleh wasit cadangan Agung Setiawan di tengah laga akibat cededera yang dialami wasit utama.
Hingga gol PSS Sleman di menit ke-81 yang terjadi melalui gol bunuh diri bek Madura FC, Choirul Rifan yang salah menghalau bola umpan silang pemain PSS Sleman, Ilhamus Irhas.
Kontroversi terjadi ketika proses terjadinya gol Ilhamul Irhas yang sejatinya lebih dulu berada dalam posisi offside ketika mendapatkan umpan terobosan.
Namun, pada saat itu, asisten wasit tidak mengangkat bendera pertanda offside terjadi.
Dari rentetan bukti yang diungkap, ada delapan tersangka yang pada akhirnya sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Satgas Antimafia Bola.
Para tersangka tersebut di antaranya adalah Vigit Waluyo yang disebut dengan inisial (VW), serta para wasit yang bertugas di laga itu yakni M. Reza Pahlevi, Agung Setiawan, Khairuddin, dan Ratawi.
Sementara tiga orang lainnya adalah Dewanto Rahadmoyo Nugroho (yang ketika itu menjabat sebagai asisten manajer klub PSS), Kartiko Mustikaningtyas (LO wasit), dan satu orang yang masih berstatus DPO yaitu Gregorius Andy Setyo.
"Pengungkapan pertama adalah kasus match fixing yang kemudian kami temukan ada upaya pengaturan skor agar klub lolos degradasi. Ini semua adalah hasil data intelijen, ada salah satu aktor intelektual, namanya cukup malang melintang, inisial VW. Alhamdulillah ini bisa kami ungkap," kata Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo di Mabes Polri, minggu lalu.
"Secara umum kami mengindikasi pihak klub melobi perangkat pertandingan untuk bisa memenangkan klub, pihak klub telah mengeluarkan uang Rp1 miliar untuk melobi wasit, ada 19 saksi, dan 8 tersangka," ucap Kasatgas Antimafia Bola Asep Edi Suheri yang menimpali dikutip TribunWow.com dari Tribunnews.com.
Adapun, pada kasus itu, sosok Vigit dinilai sebagai aktor utama sudah diberikan sanksi PSSI tidak boleh terlibat dalam sepak bila seumur hidup pada 2019 lali.
Dan kali ini, sosoknya juga mendapatkan jeratan hukuman negara akibat ulahnya itu.
"Kami telah mengamankan barang bukti, berkas perkara sudah kami kirimkan ke Kejaksaan Agung, kami menunggu perintah berkas P21. tersangka VW akan kami perlihatkan," kata Asep.
Adanya temuan tersebut membuat PSS Sleman turut terseret hingga berpotensi besar terkena imbas degradasi ke Liga 2 secara otomatis dan denda sekurang-kurangnya Rp150.000.000.
“Siapa saja yang melakukan tingkah laku buruk terlibat suap, baik dengan cara menawarkan, menjanjikan atau meminjam keuntungan tertentu dengan memberikan atau menerima sejumlah uang atau sesuatu yang bukan uang tetapi dapat dinilai dengan uang dengan cara dan mekanisme apapun kepada atau oleh perangkat pertandingan, pengurus PSSI, ofisial, pemain, dan/atau siapa saja yang berhubungan dengan aktivitas sepak bola atau pihak ketiga baik yang dilakukan atas nama pribadi atau atas nama pihak ketiga itu sendiri untuk berbuat curang atau untuk melakukan pelanggaran terhadap regulasi PSSI termasuk Kode Disiplin PSSI ini dengan maksud mempengaruhi hasil pertandingan, harus diberikan sanksi.”
Kemudian pada poin 5 dituliskan, “Klub atau badan yang anggotanya (pemain dan/atau ofisial) melakukan pelanggaran sebagaimana diatur dalam ayat (1) dan pelanggaran tersebut dilakukan secara sistematis (contoh: dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa anggota dari klub atau badan tersebut) dapat dikenakan sanksi: A. Diskualifikasi, untuk klub non-Liga 1 dan non-Liga 2, B. Degradasi, untuk klub partisipan Liga 1 dan Liga 2. C. Denda sekurang-kurangnya Rp150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah).”
Selain itu, potensi lain yang dapat terimbas akibat adanya permasalahan tersebut adalah para pemain bintang PSS Sleman yang potensi hengkang jika Laskar Super Elja benar terdegradasi.
(TribunWow.com/Adi Manggala S)