TRIBUNWOW.COM - Israel telah menduduki Tepi Barat Gaza yang biasanya digunakan umat Kristen untuk mengadakan perayaan Natal.
Dikutip dari Midde East Eye, tahun ini perayaan Natal juga akan sepi tak seperti tahun biasanya di Gaza, Senin (11/12/2023).
Di Palestina, warga berduka atas hilangnya lebih dari 18 ribu orang yang tewas akibat pemboman Israel.
Baca juga: Risiko yang Harus Diperhitungkan Israel jika Berniat Membanjiri Terowongan Gaza dengan Banjir Buatan
Mayat-mayat berhamburan di bawah reruntuhan bangunan, sementara orang terus mencari keluarga mereka.
Hal itu terjadi saat umat Kristen tengah mempersiapkan musim perayaan Natal.
Namun, untuk pertama kalinya sejak dimulainya Natal Modern, tak akan ada perayaan di Betlehem, tempat kelahiran Yesus.
Seorang warga Kristen Palestina yang tinggal di California mengatakan kepada Middle East Eye: "Kami tidak memasang lampu tahun ini. Tidak ada yang perlu dirayakan.”
Mereka saat ini tengah dalam kedukaan yang mendalam.
Baca juga: Ironi Warga Palestina yang Ditahan Israel, Ditutup Mata hingga Ditelanjangi hanya Pakai Celana Dalam
Begitu juga yang terjadi di Israel di mana para pemimpin gereja sepakat untuk mengajukan permintaan tak ada perayaan.
Di Galilea telah meminta umat Kristiani untuk menahan diri dari kegiatan perayaan Kegiatan Natal.
Presiden Dewan Gereja Injili Lokal di Tanah Suci, Munir Kakish mengatakan keputusan itu telah diambil secra mufakat.
"Ribuan orang telah terbunuh dan karena itu doa ini untuk perdamaian," kata Munir.
"Kami hanya akan mengadakan kebaktian tradisional dan kebaktian tentang makna Natal," tambahnya.
Begitu juga dengan Ryan al-Natour, seorang Kristen Palestina dari Australia.
Ia mengatakan merasa perlu untuk membatalkan perayaan di sekitar Palestina yang diduduki.
"Saya merasa hal ini perlu karena akan sangat menjijikkan jika merayakannya di tengah genosida," katanya.
"Saya tahu mereka kelaparan dan dibom tanpa henti."
"Saya ragu bahwa perayaan Tuhan dan penyelamat kita adalah prioritas mereka ketika mereka saat ini sedang disiksa oleh negara kolonial apartheid yang rasis yang berdedikasi untuk menghapus mereka," dia menambahkan.
Baca juga: Peta Kekuatan Anies-Imin Versi Survei Litbang Kompas, Elektabilitas Naik di Jateng dan Kalimantan
Dikutip dari BBC, warga umat Kristen juga tak luput dari serangan Israel di Gaza.
Seperti yang terjadi pada 5 November 2023 lalu di mana gereja turut jadi sasaran tentara Israel.
Saba yang merupakan Sekretaris Dewan Gereja Ortodoks Arab menderita luka di kepala, punggung, dan kaki.
Dia bercerita bahwa sebuah roket jatuh tepat di gedung kantor dewan gereja.
Roket itu dalam sekejap menewaskan sembilan orang dari satu keluarga yang sama.
"Pengeboman itu begitu dashyat, seperti gempa bumi," kata Saba. (TribunWow.com/ Tiffany Marantika)