TRIBUNWOW.COM- Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan tidak akan menghadiri KTT G20 para pemimpin dunia di Bali, Indonesia minggu depan.
Dilansir TribunWow.com, Putin digantikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov yang akan bertugas memimpin delegasi Rusia.
Namun, ada potensi bahwa Putin akan bergabung dalam satu sesi di KTT G20 secara virtual.
Baca juga: Buka Pertemuan para Menlu G20, Retno Marsudi Langsung Serukan Perdamaian Rusia-Ukraina
Sementara itu, masih belum jelas apakah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang juga diundang akan hadir memenuhi ajakan tersebut.
Adapun Zelensky sebelumnya pernah mengatakan dia tidak akan hadir jika Putin bergabung dalam pertemuan itu.
Dilaporkan Al Jazeera, Kamis (10/11/2022), pertemuan internasional yang berlangsung pada 15-16 November mendatang adalah kali pertama para pemimpin ekonomi terbesar dunia berkumpul sejak Putin melancarkan perangnya di Ukraina.
Baca juga: VIDEO Reaksi Sinis PM Inggris soal Putin ke KTT G20, Ajak Negara-negara Barat Lakukan Ini
Sementara itu, Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) pada awal pekan ini mengatakan kepada Financial Times bahwa dia memiliki 'kesan kuat' bahwa Putin akan melewatkan pertemuan itu.
KTT G20, yang mempertemukan para pemimpin 19 negara dan Uni Eropa, diperkirakan akan didominasi oleh dampak perang Ukraina, yang telah memicu kelangkaan pangan dan bahan bakar global.
Indonesia, sebagai tuan rumah KTT, telah menolak seruan negara-negara Barat dan Ukraina untuk mengecualikan Rusia, berjanji untuk menjaga netralitas dan menyoroti potensi kerja sama di bidang ketahanan pangan dan energi.
Jokowi mengaku menyesali ketegangan geopolitik seputar KTT, yang menurutnya seharusnya fokus pada pembangunan ekonomi dan tidak dimaksudkan untuk menjadi forum politik.
Pasalnya, di Majelis Umum PBB bulan lalu, 16 anggota G20 mendukung resolusi yang mengutuk upaya pencaplokan Moskow atas empat wilayah di Ukraina timur.
Anggota G20 China, India dan Afrika Selatan abstain dalam pemungutan suara, sementara Uni Eropa tidak terwakili di badan PBB.
Baca juga: Menteri Putin dan Biden akan Bertemu saat G20 di Indonesia? Pemerintah Rusia Menjawab
Kata Jokowi soal Kehadiran Rusia dan Ukraina
Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) memenuhi undangan wawancara bersama media asing untuk membahas mengenai persiapan KTT G20.
Dilansir TribunWow.com, Jokowi dimintai keterangan terkait rencana kehadiran Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Ia juga dicecar mengenai kecenderungan untuk berpihak pada Rusia maupun Ukraina yang tengah berperang.
Baca juga: Putin Diklaim Sudah Coba Tembakkan Nuklir ke Ukraina, Namun Gagal Karena Adanya Sabotase
Sebagaimana diketahui, sejumlah negara sempat menekan Jokowi sebagai tuan rumah KTT G20 yang akan diselenggarakan pada 15 -16 November 2022.
Beberapa pemimpin negara hendak memboikot pertemuan tersebut jika Putin sebagai kepala negara Rusia mendapat undangan.
Untuk menengahi perseteruan, Jokowi akhirnya turut mengundang Zelensky sebagai perwakilan Ukraina, meskipun negara tersebut bukan anggota G20.
Sempat bertemu langsung dengan Putin dan Zelensky, Jokowi mengatakan keduanya masih menyatakan kesanggupan untuk hadir.
Ia pun berharap kedua pemimpin negara tersebut bisa menemukan solusi untuk perdamaian.
"Sampai detik ini, mereka masih mengungkapkan keinginan untuk hadir di pertemuan tersebut," kata Jokowi dikutip kanal YouTube Al Jazeera, Minggu (22/10/2022).
"Situasinya tidak mudah, diimbuhi kegaduhan yang semakin terasa, namun kami tetap berharap Presiden Putin dan Presiden Zelensky dapat menghadiri pertemuan ini untuk menumbuhkan ruang dialog dan mencari solusi."
Baca juga: Beri Bantahan, Media Rusia Soroti Perkataan Jokowi soal Kedatangan Putin dan Xi Jinping ke KTT G20
Rusia dituding melakukan sejumlah kejahatan perang terkait penganiayaan pada masyarakat sipil dan sejumlah pelanggaran lain.
Menanggapi hal ini, Jokowi mengatakan bahwa kondisi perang bukanlah sesuatu yang bisa dinilai secara gamblang.
Ia menekankan bahwa menciptakan ruang dialog merupakan penyelesaian satu-satunya di tengah upaya saling tuding yang dilakukan dua negara.
"Ini adalah situasi yang sangat menantang, ini bukan masalah yang mudah," ucap Jokowi.
"Menciptakan ruang dialog juga bukanlah pekerjaan yang mudah secara persaingan semakin intens, ini yang ingin kami jembatani. Tapi sekali lagi, ini tidak mudah."
Sejumlah negara seperti Amerika dan Australia sempat meminta agar Rusia dilarang datang ke KTT G20.
Jokowi pun ditanya terkait apakah pemikiran untuk mengucilkan Putin seperti yang dilakukan sejumlah negara itu pernah terlintas di kepalanya.
"Mengucilkan tidak menyelesaikan masalah, tapi justru menambah masalah," ucap Jokowi.
"Yang penting di sini adalah bagaimana untuk menciptakan dialog, sebuah perundingan untuk menciptakan kesepakatan."
Jokowi kembali ditanya mengenai persetujuannya mengenai tudingan bahwa Rusia sudah melakukan kejahatan perang saat menyerang Ukraina.
Tak memberikan jawaban terang, Jokowi hanya menegaskan bahwa perundingan adalah satu-satunya jalan untuk berdamai.
Bahkan menurutnya, sanksi seperti yang dijatuhkan negara-negara Barat kepada Rusia tidak akan menyelesaikan masalah.
"Kembali lagi, ini akan lebih baik diselesaikan melalui meja perundingan, dengan duduk bersama mencari solusi bersama, bukan sanksi," tandasnya.(TribunWow.com/Via)