TRIBUNWOW.COM - Tragedi Arema FC melawan Persebaya Surabaya meninggalkan bekas yang mendalam bagi seorang Silvio Junior.
Dilansir TribunWow.com, Silvio Junior yang merupakan striker asing baru Persebaya Surabaya sendiri sempat mencetak satu gol saat Bajul Ijo menang atas Arema FC dengan skor 3-2.
Bermain di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu (1/10/2022), kemenangan Persebaya Surabaya atas Arema FC tersebut malah harus dibayar mahal dengan meninggalnya ratusan orang akibat kerusuhan yang terjadi.
Disinyalir, ratusan suporter yang turun ke lapangan membuat pihak keamanan kewalahan untuk mengontrol keadaan dan terpaksa melepaskan gas air mata, sehingga malah menyebabkan jatuhnya korban jiwa yang tak sedikit.
Baca juga: Buntut Tragedi Arema FC Vs Persebaya Surabaya, Ketum PSSI Ramai-ramai Diminta Mundur dari Jabatannya
Seusai pertandingan berakhir, para pemain Persebaya Surabaya juga langsung masuk ke dalam stadion.
Dilansir TribunWow.com dari Globo, Silvio Junior menceritakan pengalamannya tersebut saat mencoba menyelamatkan diri dari Stadion Kanjuruhan bersama pemain-pemain Persebaya Surabaya.
Silvio Junior sempat bercerita bahwa ia bersama pemain Persebaya Surabaya sebelum harus dibubarkan oleh pihak kepolisian.
"Di ruang ganti, kami merayakan kemenangan, tetapi polisi datang dan berkata: "Tidak, tidak ... lari, kalau tidak kami tidak akan pergi". Kemudian kami mulai berganti pakaian, semuanya dengan cepat, bahkan tanpa mandi dan polisi mengejar kami."
"Terburu-buru, gila... lalu kami berhasil kabur, masuk ke mobil lapis baja dan menunggu," ujar Silvio Junior, dikutip TribunWow.com dari Globo.
Baca juga: Ceritakan Tragedi Arema FC Vs Persebaya ke Media Brasil, Adilson Maringa: Saya akan Kehilangan Nyawa
Silvio Junior menyatakan bahwa ia bersama pemain Persebaya Surabaya yang lain sempat tertahan di Stadion Kanjuruhan selama dua jam.
Keadaan yang ada di Stadion Kanjuruhan juga membuat Silvio Junior teringat kembali saat ia masih bermain di Azerbaijan, di mana pada saat ia di sana, sempat terjadi perang.
"Kami tinggal di sana selama dua jam, masih menonton adegan itu. Itu nyata. Saya melewati Azerbaijan pada saat perang dengan Armenia dan saya tidak melihat hal-hal yang saya lihat di sana. Kami melihat melalui kaca depan mobil lapis baja. Itu tampak seperti adegan perang," lanjut Silvio Junior.
Setelah sempat keluar dari Stadion Kanjuruhan, Silvio Junior juga melihat betapa kacaunya keadaan di luar kandang Arema FC tersebut.
"Mereka melempar barang. Mereka melemparkan sesuatu yang memecahkan kaca mobil lapis baja itu. Hal-hal gila. gila. Mereka melempar batu... berakhir dengan mobil polisi. Ada mobil polisi di sebelah kami. Mereka merusak segalanya," pungkas Silvio Junior.
Baca juga: Bersamai Aremania hingga Meninggal, Gelandang Arema FC Ungkap 2 Permintaan Terakhir di Kanjuruhan
Cerita Abel Camara tentang Keributan di Laga Arema FC Vs Persebaya
Striker Arema FC, Abel Camara, menyaksikan sendiri jatuhnya korban pada laga pekan ke-11 Liga 1 2022 tersebut.
Dilansir TribunWow.com dari media Portugal, Mais Futebol, pada Minggu (2/10/2022), Abel Camara bercerita tentang pengalaman buruknya seusai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya tersebut.
Abel Camara bercerita tentang pentingnya kemenangan Arema FC atas Persebaya Surabaya yang sudah menjadi rival sejak lama di gelaran Liga Indonesia.
“Ini adalah derby yang sangat lama dan selama seminggu sudah terasa di seluruh kota bahwa itu adalah pertandingan dengan lebih dari tiga poin. Mereka bilang ini adalah permainan hidup dan mati, bahwa kita bisa kalah di setiap pertandingan kecuali yang ini."
"Ada ketegangan di udara. Setelah kami kalah, kami pergi untuk meminta maaf kepada para penggemar. Mereka mulai memanjat pagar, pagar, kami pergi ke ruang ganti," ujar Abel Camara, dikutip TribunWow.com dari Mais Futebol, Minggu (2/10/2022).
Seusai peluit panjang laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya dibunyikan, Abel Camara dkk langsung meminta maaf kepada Aremania yang hadir.
Namun, suasana mencekam langsung terjadi dan membuat Abel Camara serta tim Arema FC lainnya masuk ke dalam stadion untuk menyelamatkan diri.
“Sejak saat itu kami mulai mendengar tembakan, mendorong. Kami memiliki orang-orang di dalam ruang ganti yang terkena gas air mata dan meninggal tepat di depan kami. Kami memiliki sekitar tujuh atau delapan orang tewas di ruang ganti,” ungkap Abel Camara.
Bahkan, para pemain Arema FC harus tertahan di Stadion Kanjuruhan selama empat jam sebelum akhirnya bisa keluar dengan selamat dalam insiden tersebut.
“Kami harus tinggal di sana selama empat jam sebelum mereka berhasil mendorong semua orang menjauh. Ketika kami pergi, ketika semuanya lebih tenang, ada darah, sepatu kets, pakaian di seluruh aula stadion."
"Ketika kami meninggalkan stadion dengan bus, ada mobil sipil dan polisi yang terbakar, tetapi kami memiliki perjalanan yang mulus ke pusat pelatihan kami, kami mengambil mobil dan pulang. Sekarang kami berada di rumah, menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi," pungkas Abel Camara. (TribunWow.com/Aulia)