Konflik Rusia Vs Ukraina

Mantan Kanselir Jerman Dikecam karena Bertemu Presiden Rusia Putin, Zelensky: Sungguh Menjijikkan

Editor: Lailatun Niqmah
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Mantan Kanselir Jerman, Gerhard Schroeder. Terbaru, Gerhard Schroder mendapat kecaman karena pertemuan pribadi yang diadakan dengan pemimpin Rusia, Vladimir Putin.

TRIBUNWOW.COM - Mantan kanselir Jerman Gerhard Schroder ogah meminta maaf atas tindakannya yang melakukan pertemuan pribadi dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Dikutip dari Kompas.com, pertemuan Gerhard Schroder dan Vladimir Putin ini lantas menjadi perbincangan.

Bahkan, Gerhard Schroder mendapat kecaman karena pertemuan pribadi yang diadakan dengan Vladimir Putin itu.

Baca juga: 53 Tahanan Perang Tewas Korban Serangan Misil, AS Tuduh Rusia Rekayasa Bukti untuk Salahkan Ukraina

Ini dilakukan saat Schroder pergi berlibur ke Moskwa.

Dilansir Guardian, Schroder mengatakan kepada media Jerman dalam sebuah wawancara panjang bahwa dia tidak perlu meminta maaf atas persahabatannya dengan Putin, yang dia temui minggu lalu saat berkunjung ke ibu kota Rusia.

Schroder sebelumnya mendapat kecaman keras karena hubungan bisnisnya dengan perusahaan gas milik negara Rusia, Gazprom.

Dia adalah salah satu sosok pendorong di balik pembangunan dua jalur pipa Laut Baltik untuk membawa gas ke Eropa, dimana salah satunya terhenti setelah invasi ke Ukraina.

Yang lainnya, Nord Stream 1, hanya menghasilkan 20 persen dari tingkat gas yang diharapkan.

Schroder menghadapi penyelidikan oleh Sosial Demokrat, di mana ia telah menjadi anggota sejak 1963, atas hubungan Kremlin dan penolakannya untuk menjauhkan diri dari Putin.

Sampai saat ini dia belum dikeluarkan dari partai.

Dalam wawancara selama lima jam dengan majalah Stern dan penyiar RTL, dia tidak memberikan pandangan langsung tentang pola pikir pemimpin Rusia itu.

Baca juga: Minta Tolong ke China, Zelensky Ingin Xi Jinping Desak Rusia Akhiri Perang di Ukraina

Namun, dia mengatakan setelah berdiskusi dengan Putin, dia pikir konflik dengan Rusia “dapat diselesaikan” tetapi membutuhkan lebih banyak negosiasi, yang harus dipimpin oleh Jerman dan Perancis.

Schroder juga merekomendasikan status netralitas gaya Austria untuk Ukraina untu wilayah Donbass di Ukraina timur.

Dia juga mengatakan bahwa kedua belah pihak perlu menunjukkan kesediaan untuk berkompromi.

Tapi Schroder tampaknya tidak akan tertarik untuk berbicara tentang kekejaman pasukan Rusia sejak dimulainya tahap terbaru dalam konflik, termasuk pembantaian di Bucha, juga kematian ribuan warga sipil di seluruh negeri, saat pendudukan wilayah timur dan selatan.

Deportasi paksa ribuan orang Ukraina dan tuduhan bahwa Kremlin berusaha membasmi penduduk juga tampaknya tak akan dibahas Schroder.

Zelensky Kritik Tindakan Schroder

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyambut baik keputusan Dewan Uni Eropa yang setuju menjadikan negaranya kandidat anggota organisasi, Jumat (24/6/2022). (Instagram @zelenskiy_official)

Sementara itu dilansir Tribunnews.com, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecap tindakan mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroeder menjijikkan, buntut pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Gerhard Schroeder merupakan salah satu rekan Vladimir Putin.

Eks pemimpin Jerman itu mengaku bertemu dengan pemimpin Rusia pekan lalu.

Ia mengatakan kepada media lokal bahwa Rusia menginginkan solusi yang dinegosiasikan terkait perang di Ukraina.

"Kabar baiknya adalah bahwa Kremlin menginginkan solusi yang dinegosiasikan," kata Schroeder kepada media lokal RTL/ntv, Rabu (3/8/2022).

"Keberhasilan pertama adalah kesepakatan biji-bijian, mungkin itu bisa perlahan diperluas menjadi gencatan senjata," imbuhnya.

Namun, pernyataan Schroeder justru mendapat kritik keras dari Zelensky.

Presiden Ukraina itu menyayangkan hal tersebut.

"Sungguh menjijikkan ketika mantan pemimpin negara-negara besar dengan nilai-nilai Eropa bekerja untuk Rusia, yang berperang melawan nilai-nilai ini," kata Zelensky dalam pidato video malam, Rabu (3/8/2022), lapor Reuters.

Baca juga: Kesepakatan Ekspor Gandum Dinilai Bisa Berujung pada Gencatan Senjata, Rusia dan Ukraina Damai?

Penasihat presiden Ukraina, Mykhailo Podolyak, sebelumnya menolak saran Schroeder soal negosiasi perang.

Ia mengatakan setiap penyelesaian damai yang dinegosiasikan dengan Moskow akan bergantung pada gencatan senjata dan penarikan pasukan Rusia.

Dikutip dari Reuters, Schroeder menjabat Kanselir Jerman dari tahun 1998 hingga 2005.

Terkait konflik di Ukraina, ia mengritik adanya perang, namun menolak mengecam tindakan Putin.

Schroeder dan Putin memang dikenal teman dekat.

Bahkan menurutnya, menjauhkan diri dari Putin saat ini tidak akan membantu situasi.

Selain mendapat cemoohan dari publik Jerman karena sikap pro-Rusia, Schroeder telah dilucuti haknya atas jabatan yang didanai publik.

Saat menjabat kanselir, Gerhard Schröder adalah pendukung kuat proyek pipa Nord Stream yang digunakan untuk memasok gas Rusia langsung ke Jerman.

Ia menjadi petinggi di beberapa perusahaan energi Rusia seperti Nord Stream AG, Rosneft, dan Gazprom seusai mundur dari jabatannya.

Namun, setelah kritik keras, Schroeder pada bulan Mei mundur dari dewan perusahaan minyak milik negara Rusia Rosneft dan menolak nominasi untuk posisi dewan di Gazprom.

Baca juga: Rusia Bantah Tuduhan Mulai Konflik di Ukraina, Pejabat Kremlin: Respons Paksa terhadap Kekejaman

Zelensky Ingin Bicara dengan Xi Jinping

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mengaku ingin bicara secara langsung dengan Presiden China Xi Jinping mengenai konflik Rusia dan Ukraina.

Zelensky juga menegaskan, Kyiv sejak sebelum konflik telah berusaha menjalin hubungan dekat dengan Beijing.

Keinginan ini diutarakan Zelensky dalam wawacara eksklusif dengan media South China Morning Post (SCMP) yang terbit pada Kamis (4/8/2022).

Ia mendesak China menggunakan pengaruh politik dan ekonominya kepada Rusia agar perang berakhir.

"(China) adalah negara yang sangat kuat. Ini adalah ekonomi yang kuat. Jadi (itu) secara politik, ekonomi dapat mempengaruhi Rusia. Dan China (juga) anggota tetap dewan keamanan PBB," kata Zelensky.

Wawancara dengan SCMP merupakan interviu pertama Zelensky dengan media Asia sejak invasi Rusia ke Ukraina.

Ia mengaku terakhir kali berbicara dengan Xi Jinping setahun yang lalu.

"Saya ingin berbicara langsung. Saya melakukan satu percakapan dengan Xi Jinping setahun yang lalu," kata presiden dalam laporan SCMP.

"Sejak awal agresi skala besar pada 24 Februari, kami telah meminta secara resmi untuk melakukan percakapan, tetapi kami (belum) melakukan percakapan dengan China meskipun saya yakin itu akan membantu," tambahnya.

Dikutip dari The Hill, Zelensky menyebut China sebagai negara yang kuat serta ekonomi tangguh.

Ia menegaskan perekonomian Rusia akan sangat menderita jika Beijing mengambil langkah-langkah ekonomi untuk melawan Moskow.

"Saya yakin, saya yakin bahwa tanpa pasar China untuk Federasi Rusia, Rusia akan merasakan isolasi ekonomi sepenuhnya," kata Zelensky kepada surat kabar. (*)

Baca berita lainnya

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Zelensky Mengecap Tindakan Mantan Kanselir Jerman Menjijikkan Buntut Pertemuan dengan Putin dan di Kompas.com dengan judul "Bersahabat dengan Putin, Mantan Kanselir Jerman Ogah Minta Maaf"