Konflik Rusia Vs Ukraina

Isi Pelajaran Perang Ukraina di Sekolah Rusia, Diduga untuk Doktrin Anak soal Pembenaran Invasi

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Rekarinta Vintoko
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI belajar. Terbaru, Rusia memasukkan kurikulum khusus mengenai perang Ukraina di sekolah, diduga untuk mendoktrin anak-anak, Minggu (24/3/2022).

TRIBUNWOW.COM - Departemen pendidikan Rusia dilaporkan telah memasukkan materi Perang Ukraina dalam kurikulumnya.

Propaganda seputar isu-isu tersebut akan diajarkan ke anak-anak mulai sekolah dasar hingga SMA.

Selain itu, pemerintah mendorong upaya indoktrinasi bela negara dengan memberi materi mengenai kebangsaan.

Warga Rusia berfoto menirukan pose mayat di Bucha, Ukraina. (Twitter/@holodmedia)

Baca juga: Gagal Bujuk Bos Kantor Berita Ukraina, Rusia Rilis Koran Tiruan Berisi Propaganda

Baca juga: Sebut Putin Berbohong, Arnold Schwarzenegger Ungkap Propaganda Rusia terhadap Perang Ukraina

Dilansir TribunWow.com dari The Guardian, Sabtu (23/4/2022), Menteri Pendidikan Sergey Kravtsov mengatakan pihaknya telah mulai mengembangkan pelajaran tentang tujuan 'operasi khusus'.

Ditekankan bahwa alasan Rusia menyerang Ukraina adalah untuk membantu rakyat, menggalakkan denazifikasi, dan demiliterisasi Donbas.

Adapun tujuan materi khusus itu diajarkan di sekolah adalah untuk melawan badai disinformasi palsu tentang Rusia.

Pelajaran-pelajaran itu secara kondisional disebut ‘Percakapan tentang topik-topik penting’.

"Kami tidak akan pernah membiarkan (sejarah ditulis dengan catatan) bahwa kami memperlakukan negara lain, negara persaudaraan kami, Ukraina dan Belarus, dengan buruk," tutur Kravtsov.

"Kami akan melakukan segalanya dengan kekuatan kami sehingga memori sejarah tetap terjaga."

"Dan mulai 1 September, selain itu, akan ada pengibaran bendera nasional di awal minggu sekolah, menampillkan lagu kebangsaan," katanya.

Bocoran manual untuk kuliah khusus tahun ini telah menunjukkan bahwa guru Rusia diberitahu untuk mengajari siswa bahwa Rusia tidak menginvasi Ukraina.

Alih-alih, Rusia disebut mempraktikkan pertahanan diri terhadap ancaman yang diciptakan dan mencegah bencana yang bahkan lebih besar daripada hari ini.

Dalam pelajaran terpisah tentang 'sanksi anti-Rusia', para guru diminta untuk bertanya kepada siswa apakah sanksi itu adil, apakah sanksi itu justru akan memperkuat ekonomi Rusia, dan siapa yang akan dirugikan.

"Guru bersama siswa menyimpulkan bahwa kebijakan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir ditujukan untuk meningkatkan perlindungan produsen dalam negeri, memastikan keberlanjutannya dalam menghadapi krisis eksternal," bunyi intruksi dalam dokumen tersebut.

Denis Lanshchikov, seorang guru sejarah di sebuah sekolah swasta di Moskow mengatakan buku pedoman pelajaran, atau metodichki baru itu, sejauh ini tidak wajib digunakan.

Tetapi banyak guru dan administrator di sekolah negeri tampaknya memakainnya atas kemauan mereka sendiri.

Baik karena mereka mendukung perang atau karena mereka pikir sedang diawasi pemerintah.

"Tampaknya bagi saya itu belum merupakan upaya top-down untuk membuat sekolah totaliter," katanya.

"Tapi kemudian setiap orang menciptakan totalitarianisme ini sendiri."

Bahkan siswa sekolah dasar dilaporkan telah menghadapi beberapa tingkat indoktrinasi.

"Di semua sekolah mereka mengadakan acara khusus yang didedikasikan untuk membahas topik peperangan Rusia dengan fasis,” kata Marina Litvinovich, seorang politisi oposisi di Moskow.

Di kelas putranya yang masih duduk di bangku kelas 4 SD, anak-anak diberi sejarah versi ringan.

"Mereka tidak begitu mengerti. Jadi mereka melewati blokade Leningrad (perang dunia kedua), dan selama pelajaran mereka juga mengatakan bahwa 'lihat, ini adalah bagaimana Rusia terus berjuang melawan fasisme'," tutur Litvinovich.

"Anak-anak tampak santai dalam menghadapi hal itu," katanya tentang putranya.

Dia membandingkannya dengan indoktrinasi yang dia alami sebagai mahasiswa di akhir periode Soviet.

"Ketika Uni Soviet jatuh, semua indoktrinasi ini menghilang, jadi saya tidak terlalu khawatir tentang itu. Doktrin itu akan hilang ketika mereka bertemu kenyataan. (Doktrinasi) itu buruk tapi bukan malapetaka," pungkas Litvinovich. 

Baca juga: Zelensky Peringatkan Warga Ukraina Tak Sembarangan Beri Informasi ke Rusia, Ini Alasannya

Baca juga: Strategi Cerdik Putin, Inggris Ungkap Tujuan Rusia Pilih Blokade Mariupol dibanding Menyerangnya

Isi Berita yang Disiarkan Rusia

Jurnalis asal Amerika Serikat (AS) Raf Sanchez sempat tinggal selama tiga minggu di Moskow, Rusia ketika konflik terjadi di Ukraina.

Lewat akun Twitter-nya @rafsanchez Kamis (17/3/2022), ia menjelaskan seperti apa berita yang disebar oleh pemerintah Rusia.

Berdasarkan cuitan Sanchez, berita yang disebar oleh pemerintah Rusia hanya berisi argumen atau berita yang bernada positif terhadap Rusia.

Dikutip TribunWow.com dari cuitan Raf Sanchez, ada beberapa contoh berita yang dicuitkan oleh Sanchez.

Berita pertama, pemerintah Rusia hanya menunjukkan prosesi penghormatan terhadap tentara yang gugur di medan perang.

Selain itu pemerintah Rusia turut menayangkan bagaimana pejabat senior memasangkan medali kepada prajurit yang ada di rumah sakit.

Namun tidak dijelaskan berapa prajurit Rusia yang telah tewas.

Satu-satunya angka yang pernah diumumkan oleh pemerintah Rusia hanya terjadi pada 2 Maret 2022 lalu yakni 498 tentara Rusia telah tewas.

Pemerintah Rusia juga memberitakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin menuding negara-negara Barat hanya mengira-ngira jumlah tentara Rusia yang tewas.

Kemudian, stasiun TV milik pemerintah Rusia terus-terusan membahas bagaimana harga minyak di AS melonjak tinggi sebagai efek samping memberikan sanksi ke Rusia.

Stasiun TV pemerintah Rusia juga terus-terusan menyetel kritik politisi Republik di Amerika yang menyerang Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Terakhir, stasiun TV pemerintah Rusia juga memberitakan bagaimana Ukraina saat ini dikuasai oleh kelompok ultra nasionalis neo nazi.

Rusia Sebut Terjadi Perang Informasi

Pada Rabu (16/3/2022) sebuah gedung teater di Mariupol, Ukraina yang difungsikan sebagai tempat penampungan warga sipil hancur seusai dibombardir.

Pemerintah Ukraina menyebut serangan dilakukan oleh pesawat tempur Rusia.

Sementara itu pemerintah Rusia tegas membantah telah melakukan serangan ke gedung teater tersebut.

Dikutip TribunWOw.com dari Sky News, bantahan ini disampaikan oleh duta besar pemerintah Rusia untuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Vasily Nebenzya.

"Perang informasi sedang terjadi dalam skala yang lebih besar dibanding perang fisik," ujar Nebenzya.

Menurut Nebenzya siapa yang memenangkan perang informasi maka akan memenangkan peran secara keseluruhan.

Nebenzya lalu menyampaikan berdasarkan keterangan para warga sipil yang telah lebih dulu mengungsi keluar dari Mariupol, ada keterlibatan batalion Azov yang menyandera para warga sipil.

Nebenzya juga mengungkit bahwa pemerintah Rusia telah menyadari ada tulisan 'anak-anak' di luar gedung teater di Mariupol.

Seluruh pasukan militer Rusia telah diberitahu bahwa gedung teater tersebut adalah tempat yang dipenuhi warga sipil.

"Tidak pernah dijadikan target serangan," kata Nebenzya.

Nebenzya menyebut, pihak yang harus bertanggungjawab dalam hal ini adalah kelompok ultra nasionalis Ukraina batalion Azov.

Keterangan serupa disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.

"Jelas ini adalah kebohongan. Semuanya tahu bahwa pasukan militer Rusia tidak membombardir kota. Tidak peduli seberapa banyak video yang disebar oleh struktur NATO dan berapa banyak foto dan video klip bohong disebar, kebenaran akan terungkap," jelas Zakharova.(TribunWow.com/Via/Anung)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina