Terkini Nasional

Soal Megawati Soroti Ibu-ibu Antre Minyak Goreng, Ini Kata Pengamat

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam acara Peresmian Patung Bung Karno, Sekolah Partai, Kantor DPD dan DPC PDI Perjuangan, Rabu (28/10/2020).

TRIBUNWOW.COM - Ucapan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri soal banyaknya ibu-ibu yang mengantre minyak goreng menjadi sorotan.

Seperti Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam yang turut menanggapi komentar Megawati Soekarnoputri itu.

Umam mengatakan, apa yang disampaikan Megawati blunder besar.

Baca juga: Dorce Gamalama Sebut Nominal Bantuan yang Diberikan Jokowi dan Megawati: Saya Nggak Minta

Lantaran, menurut Umam, Megawati berkomentar menggunakan istilah 'njelimet' (rumit).

Bahkan, Umam menilai pernyataan Megawati tersebut seolah-olah tidak sensitif dengan realitas sosial karena faktanya antrean minyak goreng telah menyebabkan korban jiwa.

Diketahui, sudah ada dua orang ibu-ibu yang meninggal akibat mengantre minyak goreng, yakni di Kabupaten Berau dan Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

"Pernyataan Bu Mega yang melabeli perilaku ibu-ibu yang mengantri beli minyak goreng dengan istilah 'njelimet', jelas itu blunder besar."

"Apalagi sudah jatuh 2 korban nyawa ibu-ibu. Seolah tidak sensitif pada realitas sosial yang sesungguhnya," kata Umam, Sabtu (19/3/2022), dilansir Kompas.com.

Lebih lanjut, Umam menuturkan, penyataan Megawati soal antrean minyak goreng ini tidak sejalan dengan jargon 'pro wong cilik' yang selama ini selalu digaungkan oleh Megawati atau PDI-P.

Baca juga: Kekecewaan Warga saat Minyak Goreng Melimpah setelah HET Dicabut, Heran Pemerintah Kalah sama Mafia

Umam menegaskan masyarakat megonsumsi minyak goreng bukan karena tidak paham aspek kesehatan dari penggunaan minyak goreng.

Namun, dikarenakan keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk sehari-hari.

"Blunder statement Bu Mega membuka ruang interpretasi publik, bahwa jargon 'pro wong cilik' itu ternyata hanya sebatas permainan bahasa elite, yang sejatinya tidak nyambung dengan napas kehidupan rakyat yang sesungguhnya," ujar Umam.

Umam menambahkan blunder semacam ini harus dikelola dengan baik oleh PDI-P jika tidak ingin elektabilitasnya tergerus.

Selain itu, Umam beranggapan, Megawati seharusnya memahami bahwa masalah kelangkaan minyak goreng ini adalah masalah kebijakan publik.

Umam menilai Megawati seharusnya bisa memperhatikan ketidakberdayaan instrumen negara dan pemerintah yang dibuat tak berdaya oleh instrumen pasar.

"Mega seharusnya lebih kritis dalam mencermati dan mengurai persoalan tersebut, bukan mempermasalahkan ibu-ibu mengantre membeli minyak goreng," ungkap Umam.

Megawati Singgung soal Ibu-ibu Antre Minyak Goreng, Sebut Sampai Ngelus Dada

Diwartakan Tribunnews.com sebelumnya, kelangkaan serta mahalnya harga minyak goreng di Indonesia mendapatkan respons banyak pihak.

Termasuk juga Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang sempat menyinggung persoalan ini ke publik.

Di tengah langka dan tingginya harga minyak goreng di Indonesia, Megawati mengaku heran ternyata banyak warga yang rela mengantre untuk membeli barang tersebut.

Bahkan, mereka rela mengantre dengan berdesak-desakan.

Megawati Singgung Soal Minyak (Tangkap Layar Youtube Tribunnews) (Tangkap Layar Youtube Tribunnews)

 

Terkait hal itu, Mega mempertanyakan apakah para ibu-ibu yang berebut minyak goreng setiap hari mengolah makanan dengan memasak.

Sampai pada akhirnya mereka rela berebut minyak goreng di pasaran.

"Saya sampai mengelus dada, bukan urusan masalah nggak ada atau mahalnya minyak goreng."

"Saya sampai mikir, jadi tiap hari ibu-ibu itu apakah hanya menggoreng sampai begitu rebutannya?" kata Megawati dalam webinar "Cegah Stunting untuk Generasi Emas" yang disiarkan Youtube Tribunnews.com, Jumat (18/3/2022).

Padahal, menurut Mega, ada banyak cara untuk mengolah makanan selain dengan cara digoreng.

Seperti di antaranya dilakukan dengan direbus, dibakar, atau dikukus.

"Apa tidak ada cara untuk merebus, lalu mengukus, atau seperti rujak, apa tidak ada? Itu menu Indonesia lho. Lha kok njelimet (rumit) gitu," sambung Mega.

Mega mengatakan, seandainya ia berada di posisi ibu-ibu itu, ia pilih tidak mau untuk mengantre atau berebut membeli minyak goreng.

Ketimbang menggoreng, Mega bilang lebih memilih memasak di rumah dengan cara lainnya.

Selain enggan menghabiskan waktu untuk mengantre, menurut Mega, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang digoreng juga tak baik untuk kesehatan.

"Saya emoh (tidak mau). Aku lebih baik masak di rumah, direbus kek, dikukus kek. Kalau minyak goreng itu nutrisinya dimana, proteinnya berapa, saya sampai lihat ibu-ibu sekarang kok gemuk-gemuk ya?"

"Tapi persoalannya ini gemuk sehat apa enggak, itu perlu dipertanyakan. Katanya kan makanan yang berminyak itu nggak baik," singgung Mega.

Mega tak menampik keberadaan minyak goreng penting dalam urusan rumah tangga.

Kendati demikian, menurut dia, minyak goreng bukanlah kebutuhan primer.

"Nanti dipikirnya saya tidak membantu rakyat kecil. Lho, padahal, ini kebutuhan apa tidak? Sebetulnya ini kan bukan primer sebetulnya, kalau mikirnya kita kreatif," jelas Mega.

Untuk itu, Mega berharap ibu-ibu kreatif dapat mencari cara lain dalam mengolah makanan selama ketersediaan minyak goreng langka di pasaran.

(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani/Galuh Widya Wardani)(Kompas.com/Ardito Ramadhan)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews dengan judul "Megawati Singgung Ibu-ibu Antre Minyak Goreng, Pengamat: Bu Mega Blunder Besar."