Terkini Daerah

Sosok Haji Endang, Pemilik Jembatan Perahu di Karawang yang Beromzet Rp 20 Juta, Ungkap Awal Mulanya

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Jembatan penghubung Desa Anggadita Kecamatan Klari dan Desa Parungmulya Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, Jawa Barat viral di media sosial.

TRIBUNWOW.COM - Inilah sosok Muhammad Endang Juanedi atau akrab disapa Haji Endang, pemilik jembatan perahu ponton di Karawang, Jawa Barat yang viral di media sosial.

Dikutip dari Kompas.com, jembatan penghubung Desa Anggadita Kecamatan Klari dan Desa Parungmulya Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, Jawa Barat itu mampu menghasilkan omzet Rp 20 juta. 

Keberadaan jembatan tersebut telah melalui proses panjang hingga menghasilkan omzet puluhan juta rupiah.

Jembatan penghubung Desa Anggadita Kecamatan Klari dan Desa Parungmulya Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, Jawa Barat viral di media sosial. (TribunBekasi.com/Muhammad Azzam)

Baca juga: Sosok Coki, Pelatih Biliar yang Viral, Dulu Pendukung Edy Rahmayadi saat Pilgub, Kini Dipermalukan

Lantas, bagaimana kisah selengkapnya?

Haji Endang itu bercerita, awalnya jembatan yang berada di Dusun Rumambe 1, Desa Anggadita, Kecamatan Klari itu hanyalah perahu penyeberangan biasa yang terbuat dari kayu.

Pembuatan jembatan ini berawal dari permintaan seorang tokoh Dusun Rumambe kepadanya pada 2010 lalu.

"Karena jalan buntu, agar kampungnya enggak terisolasi maka perlu dibangun penyeberangan. Dulu ini tempat menyeberang kerbau," kata dia.

Tak Semuanya Mendukung

Endang mengaku, sempat meminta izin kepada Bupati Karawang saat itu, Dadang S. Muchtar.

Ia menawarkan kerja sama dengan pemda.

Namun karena beberapa alasan, termasuk risiko, Dadang menyarankan Endang menjalankannya sendiri.

Baca juga: Fakta Viral Massa Datangi Gereja saat Ibadah Natal di Tulang Bawang Lampung, Polisi: Telah Kondusif

Endang lalu memberitahukan kepada warga sekitar soal rencana pembangunan penyeberangan.

Termasuk juga kepada warga Desa Parungmulya, Kecamatan Ciampel.

"Enggak semua warga mendukung. Ada yang takut nanti banyak maling dan lain -lain. Tapi sebagian besar tokoh mendukung," ucapnya.

Pak Haji Endang Buat Jembatan Perahu, Omset Rp 25 Juta Per Hari (Tiktok @vayenih via Tribun Solo)

Niat Awal Menolong Warga

Berjalannya waktu, dibangunlah penyeberangan yang menghubungkan Desa Anggadita Kecamatan Klari dan Desa Parungmulya Kecamatan Ciampel.

Jembatan itu berbahan kayu dan menyeberangi Sungai Citarum.

"Awalnya tidak ada kepikiran untuk berbisnis, niatnya menolong masyarakat. Namun membutuhkan perawatan, baik perahu, jalan, penerangan, hingga upah yang kerja," kata dia.

Jasa penyeberangan itu lalu dibanderol Rp 2.000 dan tak naik hingga kini.

Setiap hari ribuan karyawan pabrik hingga warga melintasi jembatan penyeberangan itu.

Baca juga: Viral ABG di Bandung Jadi Korban Rudapaksa Lalu Dijual di MiChat, Polisi Tangkap 2 Pria dan 1 Wanita

Karena pernah karam pada 2014, akhirnya Endang dengan para pekerja berputar otak, memikirkan konsep jembatan penyeberangan yang aman.

Ia mengaku pernah tiga kali mengganti perahu kayu. Kemudian teranyar menggunakan besi alias perahu ponton.

Modalnya jika ditotal dan dibuat sekaligus, menurut Endang, bisa mencapai Rp 5 miliar.

Ia bahkan juga beberapa kali meminjam ke bank.

"Kita otodidak aja. Kita pikirkan juga safety-nya," ucapnya.

Omzet Tak Kurang dari Rp 20 Juta

Pria 62 tahun itu mengatakan, setiap hari tak kurang dari 10.000 pengendara sepeda motor melewati jembatan perahu ponton itu.

Ia menyebut tak kaku mematok pengendara harus membayar Rp 2.000.

Sebab kadang ada yang membayar Rp 1.000 atau jika tidak membawa uang tak masalah jika tak membayar, apalagi jika warga sekitar jembatan.

"Pendapatannya tak kurang Rp 20 juta per hari," ucap dia.

Meski begitu, kata dia, tiap hari biaya operasional berkisar Rp 8 juta.

Mulai dari perawatan, penerangan, hingga upah.

"Perawatan itu termasuk juga perawatan jalan akses ke sini," ucap dia.

Ekonomi Tumbuh

Sejak jembatan penyeberangan itu dibangun, ekonomi di sekitarnya pun turut tumbuh. Banyak warga berjualan di pinggir jalan.

"Sepanjang jalan banyak warga yang jualan," kata dia.

Selain itu, Endang juga merekrut 40 warga sebagai pekerjanya.

Usianya pun tak dibatasi.

"Gajinya macem- macem. Ada yang UMK ada yang tidak. Ada beberapa indikatornya. Misalnya lama kerja dan rajin tidaknya," kata dia.

Salah seorang pengendara, Kardi (52) mengaku sangat terbantu dengan adanya jembatan penyeberangan itu.

Sebab, jika tidak ada ia harus berjalan memutar yang membutuhkan waktu sekitar satu jam.

"Saya bisa enam kali lewat sini (jembatan penyeberangan)," kata dia.

Kardi sendiri merupakan pedagang roti yang menitipkan roti nya di warung-warung dekat kawasan industri. (*)

Baca berita Viral lainnya

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cerita Haji Endang, Pemilik Jembatan Perahu di Karawang yang Beromzet Rp 20 Juta"