TRIBUNWOW.COM – Taliban perintahkan wanita yang berkuliah di universitas swasta Afghanistan harus mengenakan baju abaya dan niqab yang menutupi sebagaian besar wajah.
Kelas untuk perempuan dan laki-laki juga harus dibuat berbeda atau pun dipisahkan dengan tirai.
Pemberitahuan itu diungkapkan dalam dekrit yang dikeluarkan oleh otoritas pendidikan Taliban, seperti dikutip TribunWow.com dari AFP pada Minggu (5/9/2021).
Baca juga: Taliban Cari Warga Amerika Serikat dari Pintu ke Pintu setelah Ambil Alih Kekuasaan di Afghanistan
Baca juga: Tak Dievakuasi Jepang, Sejumlah Penduduk Afghanistan Ungkap Kekesalan: Saya Sangat Kecewa
Siswa perempuan hanya boleh diajar oleh sesama perempuan dan harus menggunakan pintu masuk dan keluar yang terpisah dengan laki-laki.
"Universitas diharuskan merekrut guru perempuan untuk siswa perempuan berdasarkan fasilitas mereka," kata keputusan itu.
Tetapi jika kondisi tidak memungkinkan, Taliban memperbolehkan guru laki-laki dewasa yang berkarakter baik untuk mengisi pelajaran di kelas.
Selain itu, mereka juga harus mengakhiri pelajaran lima menit lebih awal dari laki-laki untuk menghentikan kemungkinan bertemu di luar kelas.
Siswa perempuan harus tinggal di ruang tunggu sampai siswa laki-laki meninggalkan gedung universitas.
Peraturan itu dikatakan cukup sulit untuk dilakukan di universitas, terutama karena kurangnya fasilitas.
"Praktiknya, ini adalah rencana yang sulit, kami tidak memiliki cukup guru wanita ataupun kelas untuk memisahkan siswa perempuan," kata seorang profesor universitas yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.
"Tetapi fakta bahwa mereka (Taliban) mengizinkan anak perempuan bersekolah dan universitas adalah langkah positif yang besar," tambahnya.
Dekrit itu berlaku untuk perguruan tinggi swasta yang banyak berdiri di Afghanistan sejak 2001.
Sebelumnya, Taliban menerapkan aturan syariah ketat saat berkuasa pada 1996 hingga 2001 dan melarang perempuan bersekolah dan bekerja.
Baca juga: Taliban Segera Umumkan Mullah Baradar sebagai Pemimpin Baru Afghanistan, Ini Sosoknya
Baca juga: Taliban Klaim Kuasai Panjshir, Lepaskan Tembakan dan Tewaskan 17 Orang, Oposisi Bakal Tetap Melawan
Namun, penguasa baru Afghanistan telah berjanji untuk mendirikan pemerintahan yang lebih inklusif dan memperbolehkan perempuan mendapat pendidikan, meskipun di bawah aturan Taliban, dilansir dari AFP.
"Orang-orang Afghanistan akan melanjutkan pendidikan tinggi mereka berdasarkan hukum syariah dengan aman tanpa berada dalam lingkungan campuran laki-laki dan perempuan," ungkap pejabat menteri pendidikan tinggi Taliban, Abdul Baqi Haqqani dalam pertemuan dengan para tetua pada Minggu (29/8/2021).
Abdul Baqi Haqqani juga mengatakan akan membuat kurikulum yang masuk akal dan sejalan dengan nilai-nilai Islam, nasional, sejarah dan mampu bersaing dengan negara lain.
Puluhan wanita Afghanistan juga sempat melakukan protes di jalanan Herat, meminta Taliban melindungi hak mereka atas pendidikan, pekerjaan dan kehidupan sosial pada Kamis (2/9/2021), dikutip dari The New York Times.
"Tujuan dari protes itu adalah untuk memberitahu Taliban agar memasukkan perempuan dalam pemerintahan," kata Basira, seorang aktivis hak asasi manusia yang membantu mengorganisir protes tersebut.
"Kami akan membela hak kami sampai mati," tambahnya.
Zabihullah Mujahid, juru bicara utama Taliban mengatakan keputusan untuk tidak mengizinkan perempuan mulai bekerja adalah sementara.
Dia berjanji semua wanita akan dapat kembali bekerja setelah Taliban melatih para pejuangnya untuk menghormati wanita.
Tetapi para pengunjuk rasa meminta Taliban untuk mengizinkan semua wanita kembali bekerja sesegera mungkin. (TribunWow.com/Alma Dyani P).
Berita terkait Afghanistan lain