TRIBUNWOW.COM - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa membantah tuduhan adanya memanipulasi data kematian akibat Virus Corona (Covid-19).
Khofifah menyatakan pihaknya telah melakukan penyesuaian data dengan baik.
Dilansir TribunWow.com, sebelumnya disinyalir ada ketidak sesuaian data kematian di Pemprov Jatim dan pusat.
Baca juga: Fakta Viral Foto Vaksin Covid-19 Dosis Ketiga untuk Influencer, Ini Penjelasan Sekwan DPRD DKI
Khofifah lantas menjelaskan bahwa pihak provinsi tidak melakukan pencatatan langsung.
Provinsi hanya menerima laporan kasus kematian Covid-19 dari Kabupaten/Kota.
"Soal kematian. Tidak ada dinas kematian di Povinsi, tidak ada dinas pemakaman di Provinsi."
"Maka, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melapor ke pusat dan melapor ke provinsi," kata Khofifah dalam acara Mata Najwa, Rabu (28/7/2021) malam.
Khofifah lantas mengambil contoh angka kematian di Kota Surabaya yang diduga berbeda dengan yang dirilis oleh Pemprov Jatim.
Khofifah mengaku telah menglarifikasi ke Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, terkait perbedaan data kematian yang dicatat pusat dengan pemakaman di TPU Keputih.
Baca juga: BREAKING NEWS - Blitar Jawa Timur Diguncang Gempa 6,2 SR, Tidak Berpotensi Tsunami
Baca juga: Gubernur Jatim Khofifah Umumkan Dirinya Kembali Positif Covid-19, Begini Kondisinya Kini
Ia mengatakan, Wali Kota sudah memberi penjelasan terkait data kematian yang disetorkan ke Pemprov.
Hanya saja, diduga ada ketidak sinkronan penerimaan data kematian dari Dinkes Kabupatan/Kota kepada Provinsi.
Kematian pasien terduga atau suspek atau suspect dan probable yang belum disertai hasil pemeriksaan positif berdasarkan tes swab PCR biasanya tak bisa tercatat dalam laporan.
"Kata Pak Wali nih, bahwa ini belum di-swab baik Antigen maupun PCR. Jadi mereka sifatnya suspek," ujarnya.
Mantan Menteri Sosial itu juga menepis tudingan perbedaan angka kematian yang jauh antara Provinsi dengan pusat.
Ia mengklaim bahwa pencatatan data di Jatim sudah sinkron sengen Kementerian Kesehatan.
"Ini Dinkes yang input. Dari inputnya Dinkes baru kita unggah di web-nya Pemprov."
"Insyaallah data paling sinkron. Data paling sinkron dengan Kemenkes paling dekat itu data Pemprov Jatim," katanya.
Baca juga: Covid-19 Varian Delta Ditemukan di Titik Penyekatan Jembatan Suramadu, Ini Kata Khofifah
Khofifah Pamerkan Kondisi Rumah Sakit
Beberapa minggu yang lalu, RSUD Dr Soetomo sempat viral di media sosial karena ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di dalamnya dipenuhi oleh jenazah pasien Covid-19.
Foto tersebut diketahui diambil pada Rabu (1/7/2021) kemarin.
Lewat akun Instagram miliknya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membagikan foto terbaru penampakan RSUD Dr. Soetomo, khususnya di ruang Unit Gawat Darurat (UGD).
Foto tersebut diketahui diambil melalui kamera CCTV di dalam rumah sakit pada Kamis (29/7/2021) dan Rabu (28/7/2021).
Terdapat total lima foto dalam unggahan tersebut yang menampilkan ruang UGD RSUD Dr. Soetomo dan ruang kontainer RSUD Dr. Soetomo.
Nampak pada foto-foto yang dibagikan oleh Khofifah, ruangan terlihat sepi dari pasien.
Ruang kontainer di RSUD Dr. Soetomo juga terpantau sepi dari pasien.
Hanya ada tempat tidur atau bed dan sejumlah tabung oksigen di sekitarnya.
Khofifah optimis kondisi di Jawa Timur akan terus membaik.
Berikut caption lengkap yang ditulis oleh Khofifah:
"Alhamdulillah sudah tiga hari ini UGD dan triase UGD di kontiner RSUD Dr. Soetomo sudah kosong. Semoga terus membaik. Pasien covid-19 di Jatim terus menurun. Mohon semua dulur Jawa Timur tetap disiplin protkes dan segera vaksin bagi yang belum. Mugi sami sehat. Amin."
Baca juga: Covid-19 Varian Delta Ditemukan di Titik Penyekatan Jembatan Suramadu, Ini Kata Khofifah
Viral Dipenuhi Jenazah
Sebelumnya, pada foto IGD RSUD Dr. Soetomo yang viral dipenuhi jenazah, kabar tersebut dikonfirmasi oleh Direktur RSUD dr Soetomo, dr. Joni Wahyuhadi SpBS (k).
Dokter Joni menyebut, foto itu diambil pada Rabu (1/7/2021).
Dikatakannya jenazah itu menunggu proses protokol pemulasaraan jenazah Covid memakan waktu 1,5 hingga dua jam per jenazah.
"Iya (gambar kondisi IGD), progres penyakitnya cepat sekali, datang sudah dalam kondisi desaturasi," ujar dr. Joni, Kamis (1/7/2021).
"Bahkan ada yang meninggal di ambulans, kemarin sehari meninggal 27. Mohon masyarakat disiplin protokol kesehatan," sambungnya.
Joni mengungkapkan kondisi ini tidak terjadi setiap harinya. Hanya pada Rabu (1/7/2021), banyak pasien datang dalam kondisi parah.
"Iya, 27 yang meninggal itu total dengan yang dirawat di ruang isolasi. Tidak pernah seperti itu tahun lalu," urainya.
(TribunWow.com/Rilo/Anung)