Isu Kudeta Partai Demokrat

Akhirnya Buka Suara, Moeldoko Bongkar Alasan Bersedia Jadi Ketum Demokrat Versi KLB: Ada Kekisruhan

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko buka suara terkait kekisruhan dua kubu dalam badan partai Demokrat, Minggu (28/3/2021).

TRIBUNWOW.COM - Setelah beberapa saat enggan tampil, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko kini memberikan penjelasan.

Hal ini terkait penunjukkan dan pelantikannya menjadi ketua umum (Ketum) Partai Demokrat versi kongres luar biasa (KLB) di Deliserdang, Sumatera Utara.

Menurut Moeldoko ia mencium adanya problem di tubuh partai, sehingga tergerak untuk memperbaikinya.

Pidato Perdana Moeldoko Usai Terpilih Jadi Ketum Demokrat Versi KLB Deli Serdang, Jumat (5/3/2021). (YouTube Kompastv)

Baca juga: Kubu Moeldoko dan AHY Cekcok Bertemu Satu Acara, sampai Minta Maaf Debat di TV: Edukasi yang Jelek

Baca juga: Tanggapi Ucapan Max Sopacua soal Hambalang, Demokrat: Seperti Kumpulan Anak TK yang Mau Reunian

Seperti dalam video yang diterima TribunWow.com, Minggu (28/3/2021), Moeldoko memberikan keterangan lengkap.

Ia menegaskan bahwa dirinya didaulat untuk memimpin melalui pilihan para kader yang hadir di KLB.

"Saya ini orang yang didaulat untuk memimpin Demokrat," tegas Moeldoko.

Kemudian, Moeldoko menyebutkan adanya polemik dalam badan partai Demokrat.

Hal ini disinyalir terkait perbedaan pendapat mengenai keberpihakan dalam pemilihan umum presiden tahun 2024 mendatang.

Menurut Moeldoko, hal ini menjadi ancaman bagi Indonesia ke depannya.

"Kekisruhan sudah terjadi, arah demokrasi sudah bergeser di dalam tubuh Demokrat," sebut Moeldoko.

"Ada sebuah situasi khusus dalam perpolitikan nasional, yaitu telah terjadi pertarungan ideologis yang kuat menjelang 2024."

"Pertarungan ini terstruktur dan gampang dikenali."

"Ini menjadi ancaman bagi cita-cita menuju Indonesia Emas 2045."

Oleh sebab itu, demi menyelamatkan partai dan segenap bangsa, Moeldoko bersedia mengemban amanat penting menjadi ketua umum.

"Ada kecenderungan tarikan ideologis itu terlihat di tubuh Demokrat, jadi ini bukan sekedar menyelamatkan Demokrat, tapi juga menyelamatkan bangsa dan negara," terang Moeldoko.

"Untuk itu semua berujung pada keputusan saya menerima permintaan untuk memimpin Demokrat," imbuhnya.

Namun, ia tidak serta merta menerima penunjukan menjadi ketua umum.

Moeldoko awalnya meminta ketegasan para pengikutnya melalui tiga buah pertanyaan.

"Tetapi setelah tiga pertanyaan kepada peserta KLB yang saya ajukan dijawab dengan baik oleh rekan-rekan sekalian," beber Moeldoko.

Pertanyaan tersebut mengenai kesesuaian KLB dengan AD/ ART partai, serta keseriusan para kader yang memintanya.

"Yang ketiga adalah bersediakah kader Demokrat bekerja keras dengan integritas," tutur Moeldoko.

"Semua pertanyaan itu dijawab oleh peserta KLB dengan gemuruh, maka baru saya membuat keputusan," pungkasnya.

Baca juga: Sebut Tawuran Demokrat Kubu Moeldoko dan AHY Makin Panas, Adi Prayitno: Bobotnya Lebih Serius

Baca juga: Sebut Alasan Tak Minta Persetujuan Jokowi soal KLB, Moeldoko: Saya Juga Khilaf Tak Beritahu Keluarga

Alasan KLB Pinang Moeldoko Menjadi Ketua Umum

Dalam konferensi pers di Hambalang, Bogor, Jawa Barat pada Kamis (25/3/2021), kubu Demokrat versi KLB menceritakan mengapa Demokrat versi KLB meminang Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko sebagai Ketua Umum (Ketum) Partai.

Demokrat versi KLB itu juga terang-terangan mengutarakan tujuannya untuk mengakhiri masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam tubuh Partai Demokrat.

Hal itu disampaikan oleh Juru bicara Partai Demokrat versi KLB, M Rakhmad yang ditayangkan dalam kanal YouTube Kompastv, Kamis (25/3/2021).

Ia menyebut, Moeldoko memiliki komitmen untuk memajukan Partai Demokrat.

"Beliau memiliki komitmen yang sangat kuat untuk membesarkan partai dan merangkul semua kader ke dalam rumah besar Partai Demokrat," kata Rakhmad.

"Bapak Moeldoko memiliki komitmen untuk menghapus ketentuan-ketentuan yang memberatkan kader dan memberikan reward atau penghargaan kepada kader yang berjasa kepada partai," sambungnya.

Rakhmad juga menyebut bahwa Moeldoko berniat untuk menjadikan Demokrat partai yang terbuka, demokratis dan modern.

Kemudian, Rakhmad juga menyampaikan keinginan Demokrat versi KLB untuk mengakhiri masa kepemimpinan SBY dan AHY yang dinilai menjadikan Demokrat partai keluarga.

"Partai Demokrat yang mengarah kepada tirani, otoritarian, dan keluargais yang dilakukan SBY dan AHY harus segera diakhiri," kata Rakhmad.

Ia menyebut, apa yang dilakukan oleh SBY dan AHY sebagai bencana luar biasa dalam pembangunan demokrasi di Indonesia.

Selanjutnya, Rakhmad menegaskan bahwa Moeldoko terpilih menjadi Ketum Demokrat versi KLB melalui mekanisme yang demokratis.

"Pemilihan ketua umum di KLB Deliserdang, dilakukan dengan sangat demokratis, terbuka," ungkap Rakhmad.

Sebelumnya diberitakan, pada KLB Deliserdang, Moeldoko sempat memberikan pidato perdana.

Seperti yang diketahui, dari KLB itu, Moeldoko berhasil menjadi ketua umum (Ketum) partai Demokrat mengungguli Marzuki Alie.

Moeldoko pada pidatonya menyampaikan bahwa ia diminta oleh para peserta KLB untuk menjadi ketum Demokrat.

Dikutip dari YouTube Kompastv, mulanya Moeldoko memberikan apresiasi terhadap para peserta KLB.

Purnawirawan Jenderal TNI itu mengatakan bahwa dirinya berterima kasih telah dipilih sebagai Ketum Demokrat.

"Atas permintaan kalian, kalian telah meminta saya untuk menjadi ketua umum Demokrat," kata Moeldoko.

"Untuk itu saya sungguh mengapresiasi dan terima kasih, dan itu saya terima," sambungnya.

Di akhir pidato perdananya sebagai Ketum Demokrat versi KLB, Moeldoko menyerukan kejayaan untuk Demokrat sebanyak tiga kali.

"Demokrat!" teriak Moeldoko sambil mengacungkan tangannya ke atas.

"Jaya!" jawab audiens sembari mereka mengacungkan tangan. (TribunWow.com/ Via, Anung)

Berita lain terkait Moeldoko