Vaksin Covid

41 Persen Masyarakat Tolak Vaksinasi Covid-19, Burhanuddin Muhtadi: Mengagetkan Saya secara Pribadi

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Direktur Eksekutif Indikator, Burhanuddin Muhtadi mengungkapkan hasil survei soal kesiapan masyarakat menerima vaksin Covid-19, dalam YouTube KompasTV, Minggu (21/2/2021),

TRIBUNWOW.COM - Meski program vaksinasi Covid-19 oleh pemerintah sudah berlangsung, rupanya ada masyarakat yang masih tidak bersedia untuk divaksinasi.

Kepastian itu disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indikator, Burhanuddin Muhtadi berdasarkan hasil survei yang pihaknya dilakukan.

Dilansir TribunWow.com dalam YouTube KompasTV, Minggu (21/2/2021), Burhanuddin menyebut terdapat total 41 persen masyarakat yang tidak bersedia atau sangat tidak bersedia disuntik vaksin Covid-19.

Foto tangkapan layar Presiden Joko Widodo didampingi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin tinjau vaksinasi Covid-19 pedagang Pasar Tanah Abang, Jakarta, Rabu (17/2/2021). (Kompas.com/Fitria Chusna Farisa)

Baca juga: Seseorang Masih Bisa Terjangkit Virus Corona meski Sudah Vaksinasi Covid-19, Begini Penjelasannya

Baca juga: Targetkan Vaksinasi Covid-19 Selesai Akhir Tahun, Jokowi: Harusnya Setiap Hari Bisa 1,2 Juta Orang

Dirinya mengatakan angka tersebut tergolong cukup tinggi karena hampir setengah dari yang bersedia.

"Mengangetkan saya secara pribadi, meskipun surveinya sudah dilakukan setelah Presiden sendiri langsung menjadi orang pertama untuk divaksin," ujar Burhanuddin.

"Itu masih banyak yang enggak bersedia, total itu 41 persen, kurang bersedia atau sangat tidak bersedia," terangnya.

Bahkan menurutnya, langkah dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi orang yang pertama disuntik vaksin tidak berpengaruh banyak terhadap kepercayaan masyarakat.

Hal itu dibuktikan dengan hanya ada penurunan 2 persen dari survei yang dilakukan sebelum Jokowi menjalani vaksinasi dengan sesuahnya.

"Survei kami di bulan Desember yang tidak bersedia atau sangat tidak bersedia 43 persen," kata Burhanuddin.

"Jadi turun hanya 2 persen. Efek Presiden Jokowi ada, tetapi cuman 2 persen," imbuhnya.

Maka dari itu menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk bisa menyakinkan masyarakat terkait vaksinasi tersebut.

Baca juga: Ini 5 Hal yang Wajib Diketahui soal Vaksinasi Covid-19 untuk Lansia, Daftar Lewat 2 Cara Ini

Ia menilai dengan kondisi saat ini bisa menjadi masalah mengingat vaksinasi merupakan kepentingan bersama.

"Tetapi yang kurang besedia atau sangat tidak bersedia ini terlalu besar buat saya," ucapnya.

"Karena masih ada 4,2 persen yang enggak mau jawab," pungkasnya.

Simak video lengkapnya:

Jokowi Targetkan Vaksinasi Covid-19 Selesai Akhir Tahun

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan proses vaksinasi Covid-19 di Indonesia bisa selesai pada akhir tahun ini.

Dilansir TribunWow.com, Jokowi mengatakan terdapat 182 juta penduduk yang harus divaksinasi untuk menekan penyebaran Virus Corona.

"Vaksinasi target kita 182 juta penduduk kita. Saya sampaikan harus bisa diselesaikan pada akhir tahun ini," harap Jokowi dalam perayaan Imlek 2021, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (20/2/2021).

Baca juga: Penjelasan Kemenkes soal Vaksin Nusantara: Masih Mau Masuk Uji Klinis, Jadi Masih Penelitian

Baca juga: Khusus di Jakarta, Vaksinasi Covid-19 ke Lansia akan Dilakukan di Seluruh Kota, Ini Alasan Kemenkes

Dilihat dari jumlah vaksinatornya, Jokowi mengatakan harusnya hal itu bisa direalisasikan.

Dikatakannya bahwa sudah ada 39 ribu vaksinator yang siap menyuntikkan vaksin kepada penerima vaksin.

"Memang bukan sesuatu yang mudah, tetapi itung-itungan saya, kita memiliki 30 ribu vaksinator ditambah lagi saya mendapatkan laporan dari Panglima dan Kapolri, ada tambahan lagi 9 ribu vaksinator dari TNI-Polri," jelas Jokowi.

"Artinya kita memiliki 39 ribu vaksinator."

Meski begitu, Jokowi menyebut ada satu persoalan untuk bisa menyelesaikan vaksinasi pada akhir tahun.

Menurutnya, persoalannya bukan dari jumlah vaksinator, melainkan dari ketersediaan vaksinya itu sendiri.

"Kalau satu orang (vaksinator) bisa 30 orang disuntik, artinya sehari kita sudah bisa harusnya 1,2 juta orang bisa disuntik," ungkapnya.

"Tetapi memang problem besarnya adalah ketersediaan vaksin itu sendiri yang tidak bisa dalam jumlah yang kita inginkan dalam waktu sekarang ini," pungkasnya.

Dikatakannya bahwa sebanyak 3 juta dosis vaksin tahap pertama sudah selesai disuntikkan kepada para nakes.

Selain itu juga sebanyak 7 juta dosis vaksin dalam minggu ini akan diselesaikan kepada para pelayan publik, serta lanjut usia (lansia).

Baca juga: Setelah Vaksinasi Covid-19, Seseorang Masih Bisa Terjangkit Virus Corona, Simak Penjelasannya

Sebagaimana diketahui, untuk menyikapi hal itu, pemerintah juga telah mengembangkan Vaksin Nusantara.

Menurut Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan ( Kemenkes) Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, Vaksin Nusantara yang saat ini masih berada dalam tahap penelitian.

Kemenkes menyatakan mendukung pengembangan vaksin ini.

Vaksin yang juga dikenal dengan nama AV-Covid-19 tersebut dikembangkan melalui kerja sama antara Kemenkes, RSUP dr Kariadi Semarang, dan Universitas Diponegoro (Undip).

"Kemenkes mendukung pengembangan terapi (Vaksin Nusantara) ini ya. Karena ini masih area penelitian," ujar Nadia, Jumat (19/2/2021), dikutip dari Kompas.com.

"Masih mau masuk uji klinis. Jadi masih penelitian," kata dia. (TribunWow/Elfan Fajar Nugroho)