Kabar Tokoh

Pengamat Minta Mensos Risma Reshuffle Staf, Singgung Rawan Korupsi: Tempatkan Orang yang Ibu Percaya

Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Rekarinta Vintoko
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Menteri Sosial Tri Rismaharini di Jakarta (29/12/2020). Terbaru, Mensos Risma memberikan sambutan di awal tahun 2021, Senin (1/1/2021).

TRIBUNWOW.COM - Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio memberi saran terkait kebijakan yang harus diambil Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini atau Risma.

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan Kompas TV, Kamis (7/1/2021).

Diketahui pergantian posisi Menteri Sosial ke Risma karena mantan Menteri Sosial Juliari Batubara tersandung kasus korupsi.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menanggapi aksi blusukan yang dilakukan Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini, Kamis (7/1/2021). (Capture YouTube Kompas TV)

Baca juga: Ridwan Saidi Tak Percaya Risma Temukan Tunawisma di Sudirman-Tamrin: Pakai Rasio Dong

Agus lalu mengingatkan distribusi bantuan sosial (bansos) memang rawan dijadikan lahan korupsi karena data di lapangan tidak sesuai.

"Tugas Mensos me-reshuffle eselon satunya, coba direposisi," saran Agus Pambagio.

"Karena eselon satunya tentu yang bekerja dan memberitahu kepada Bu Mensos," terangnya.

Ia menyebut banyak kasus kejanggalan data masyarakat miskin yang tidak sesuai antara pusat dengan kenyataan.

Agus bahkan mengaku curiga data tersebut sengaja diubah sehingga rawan menjadi lahan korupsi.

"Data-data patut diduga, atau saya curiga, data yang selama ini diberikan kepada Mensos itu bukan data riil," kata Agus.

"Jadi menurut saya tingkat korupsinya itu mohon diselidiki. Tidak saja dari data, tapi juga dari pengguna anggarannya di internal Kemensos," jelas dia.

Ia menyimpulkan saat ini ada dua tugas utama yang harus dilakukan Risma.

Baca juga: Soal Mensos Risma Blusukan, Aria Bima: Apa Perlu Setingkat Wali Kota Surabaya Butuh Pencitraan?

Diketahui saat ini Risma tengah sibuk melakukan aksi blusukan ke berbagai wilayah di DKI Jakarta.

Agus menilai aksi itu tidak perlu dilakukan karena ada tugas lain yang lebih genting.

"Jadi Mensos pertama pastikan data itu beres. Kedua, reshuffle eselon satu-duanya supaya menempatkan orang-orang yang Ibu percaya," pesan Agus.

"Karena ini uang banyak, data ngawur, jadi kemungkinan korupsinya besar," lanjut dia.

Sebelumnya Agus mengingatkan akan pentingnya data ini diolah dengan benar.

Ia menyarankan Kementerian Sosial (Kemensos) dapat bekerja sama dengan lembaga lain.

"Tugas Mensos membereskan data yang ada. Mungkin bisa koordinasi dengan Bappenas karena Perpres 39 tahun 2018, data Indonesia itu ada di Bappenas," papar Agus.

"Saya tidak tahu sampai di mana Kepala Bappenas menangani hal ini, tapi itu tugas Mensos," tegas pengamat kebijakan publik ini.

Lihat videonya mulai menit 2.00:

Ridwan Saidi Tak Percaya Risma Temukan Tunawisma saat Blusukan

Nama Menteri Sosial Tri Rismaharini tidak hentinya menjadi perbincangan dan sorotan publik.

Terbaru, dalam aksi blusukan yang dilakukan, Risma menemukan tunawisma atau gelandangan di sekitaran jalan protokol Sudirman-Tamrin, Jakarta Pusat.

Menanggapi hal itu, Budayawan Ridwan Saidi mengaku tidak percaya dengan temuan dari Risma yang menyebut masih ada gelandangan di kawasan tersebut.

Baca juga: Viral Ditemui Risma, Pemulung Ini Bantah Benda yang Dipegang saat Itu Smartphone: Enggak Ada HP

Baca juga: Risma Blusukan, Pengamat Teringat Ucapan Jokowi sebelum Jadi Gubernur DKI: Manuver Semakin Kencang

Dilansir TribunWow.com dalam acara Kabar Petang, Kamis (7/1/2021), Ridwan Saidi menilai Jalan Sudirman-Tamrin bukan tempat ideal bagi seorang tunawisma untuk menyambung hidup.

"Tunawismanya kagak ada, kayaknya kita rumuskan dulu masalahnya dengan benar," ujar Ridwan Saidi.

"Baru tinggal di Jakarta belum cukup sebulan tidak bisa menentukan Jakarta."

Meski tidak mengelak bahwa di Jakarta masih ada persoalan gelandangan, Ridwan Saidi memastikan bahwa keberadaannya tidak di Sudirman-Tamrin.

Menteri Sosial Tri Rismaharini mengungkapkan hasil rapat terbatas (ratas) terkait pembagian bantuan sosial (bansos), Selasa (29/12/2020). (Capture YouTube Sekretariat Presiden)

Menurutnya tidak masuk akal ketika gelandangan justru memilih berkeliaran di estalase Ibu Kota tersebut.

"Saya 78 tahun tinggal di Jakarta, kalau menjadi tunawisma pencariannya apa, di Sudirman-Tamrin speednya tinggi orang bergerak," kata Ridwan Saidi.

"Tidak bisa minta-minta, enggak ada lagi mobil mogok, cari makan di mana?" jelasnya.

"Itu enggak bener, pakai rasio dong sekarang zaman cloud system."

Baca juga: Bantah Risma Pencitraan Blusukan demi Maju di Pilpres 2024, KSP: Mau Bekerja Baik Kok Direcokin

Selain mengomentari soal temuan tunawisma di Sudirman-Tamrin, Ridwan Saidi juga menanggapi soal adanya gelandangan yang tidur di kolong jembatan.

Dikatakannya bahwa kondisi kolong jembatan saat ini sudah tidak memungkinkan untuk ditempati.

"Saya ini orang sini, yang tidur di kolong jembatan juga kagak ada karena tubir kali itu sekarag curam dan licin tidak bisa dipanjat kayak dulu," ungkapnya.

Lebih lanjut, dirinya tidak ingin Risma sembarangan dalam membuat kesimpulan tentang Kota Jakarta.

"Saya researcher 30 tahun saya research dan saya tinggal di sini puluhan tahun," kata Ridwan Saidi.

"Jadi jangan mengambil kesimpulan sembrono, kita di sini orang-orang yang terpelajar di Jakarta," tegasnya menutup. (TribunWow.com/Brigitta/Elfan)