TRIBUNWOW.COM - Politisi PDI Perjuangan, Adian Napitupulu merasa tersinggung dengan ucapan bernada tudingan dari mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu.
Dilansir TribunWow.com, Adian tersinggung lantaran pemerintah termasuk para parlemen dituding bersembunyi di balik pandemi Covid-19.
Terlebih Said Didu menyinggung soal adanya oligarki kekuasaan di tengah musibah tersebut.
Hal itu terjadi dalam acara Kabar Petang 'tvOne', Kamis (20/8/2020).
• Adian Napitupulu Kritik Balik KAMI yang Mengaku Gerakan Moral: Saya Lihat Pak Said Didu Sudah Emosi
• Tak Masalah KAMI Deklarasikan Diri di Solo, Adian Napitupulu Lebih Persoalkan Poin 5 Jatidiri KAMI
Dalam kesempatan itu, Adian mulanya meminta dalam kondisi Covid-19 saat ini harusnya semua pihak bisa bersatu untuk bekerja sama dalam menanganinya.
Dirinya tetap tidak mempermasalahkan dengan adanya banyak kritik.
Namun, Adian berharap tidak hanya kritik saja yang diberikan, melainkan juga masukan atau solusi yang tepat.
"Ada momentum wabah penyakit, kenapa sih kita tidak fokus sama-sama di situ," ujar Adian.
"Kita selamatkan rakyat bersama-sama, kritiklah kinerja pemerintah tetapi berikan solusinya bagaimana," jelasnya.
Meski membenarkan ucapan dari Adian, Said Didu mengingatkan bahwa hal itu tidak lantas membuat keputusan ataupun kebijakan dari pemerintah bisa dikatakan sudah benar semua.
Tetapi dirinya menolak ketika Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) lantas disebut pihak yang paling benar.
"Oke, saya setuju tapi jangan juga menganggap bahwa kebeneran adalah milik penguasa, itu jangan juga," kata Said Didu.
"Kebeneran juga bukan milik KAMI, jadi seakan-akan menyalahkan pemerintah sudah benar," lanjutnya.
• Rizal Ramli Ungkap Akibat jika Tuntutan KAMI Tak Didengarkan: Tidak Aneh Nanti Bisa Terjadi Sesuatu
Selain itu, Said Didu meminta kepada pemerintah untuk tidak lantas mengkambinghitamkan adanya Covid-19 untuk menutupi keburukan kinerjanya.
Apalagi, jika digunakan untuk memuluskan oligarki kekuasaan.
"Yang kedua tadi soal Covid bahwa sudah bekerja untuk Covid. Kami juga minta jangan bersembunyi di balik Covid untuk melakukan oligarki kekuasaan, karena kami membaca itu," ungkapnya.
Merasa geram dan tersinggung mendengar ucapan dari Said Didu, Adian pun balik menyerang dengan menyinggung organisasi yang dideklarasikan belum lama ini, yakni KAMI.
Politikus kelahiran Manado itu tidak segan mengatakan bahwa KAMI tidak ada bedanya dengan oligarki.
Dirinya membuktikan dengan menyoroti struktur organisasi KAMI yang disebutnya hanya ada beberapa orang saja yang mempunyai kekuasaan penuh.
"Pak Said Didu, kita bicara oligarki sedikit saja, tentang asal usul oligarki dan definisi awal oligarki itu adalah kekuasaan kecil yang mengatur banyak orang," kata Adian.
"Kalau kemudian saya manifestasikan dalam struktur organisiasi KAMI, tiga orang mengatur sekian banyak orang itu juga oligarki Bang," pungkasnya.
• KAMI Gelar Deklarasi di Kampung Halaman Jokowi, Gatot Nurmantyo: Saya Bangkit karena Telah Bersumpah
Simak videonya mulai menit ke-7.45:
Adian Napitupulu Lebih Persoalkan Poin ke- 5 Jatidiri KAMI
Politisi PDI Perjuangan (PDIP), Adian Napitupulu memberikan tanggapan terkait deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) di Kota Solo.
Dilansir TribunWow.com, deklarasi KAMI di Solo yang digelar di Gedung Umat Islam, Kartopuran Solo itu turut dihadiri oleh sang deklamator Mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo, Kamis (20/8/2020).
Dalam acara Kabar Petang 'tvOne', Kamis (20/8/2020), Adian Napitupulu mengaku tidak terlalu mempermasalahkan aksi tersebut.
Menurutnya, hal itu menjadi hak dari KAMI, termasuk siapa yang akan mendeklamasikannya.
"Ya enggak apa-apa (deklarasi di Solo), enggak masalah boleh deklarasi di sana, di sini," ujar Adian.
Tetapi dikatakannya, ada hal yang lebih penting dari sekadar proses deklarasi di kampung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu.
Dirnya mengaku masih merasa binggung dengan maksud dan tujuan dari kemunculan KAMI.
Termasuk jati diri atau proses terbentunya KAMI itu sendiri.
• KAMI akan Jadi Parpol? Gatot Nurmantyo: Kalau KAMI Berubah, Saya Tak akan Ada di Sini
Dia menilai KAMI ini bukanlah hanya sebatas memiliki tujuan untuk menyampaikan pendapat maupun kritik terhadap pemerintah penguasa.
Dikatakannya setelah melihat KAMI yang justru semakin melebarkan sayap dengan membentuk cabang di mana-mana, maka seperti mempunyai tujuan lain.
"Tapi menurut saya persoalan terbesar saya adalah organisasi KAMI ini saya masih belum mengerti," katanya.
"Cara bentuk organisasi seperti apa, kepemimpinannya, kalau apakah dia gerakan moral seperti Petisi 50 saja menyampaikan misalnya pendapat, pandangan, kritik dan segala macam," terang Adian.
"Tetapi ternyata tidak seperti itu, dia membangun jejaring di mana-mana dan bentuk cabang atau istilah apapun itu," sambungnya.
Kondisi seperti itu menurut Adian ada kemungkinan justru berubah menjadi partai politik ataupun gerakan massa.
"Kalau dia banyak cabang apakah nanti menjelma menjadi partai politik atau kemudian dia menjadi sebuah gerakan massa," ungkap Adian.
Oleh karenanya, dirinya secara tegas mempertanyakan kejelasan dari didirikannya KAMI yang menamai diri sebagai gerakan moral.
Adian lantas mempersoalkan butir kelima dari jatidiri KAMI yaitu berkaitan dengan kedudukan dan hak dari setiap anggota.
• Gatot Nurmantyo Datangi Kampung Halaman Jokowi, Ketua KAMI Solo: Diam Ditindas atau Melawan
"Menurut saya harus dijelaskan dulu, kalau saya baca misalnya, dari poin kelima jatidiri KAMI, dijelaskan bahwa yang bisa berbicara mengatasnamakan KAMI itu hanyalah dewan deklarator yang membuat pernyataan tertulis," terangnya.
"Di luar pernyataan tertulis itu dianggap tidak mewakili KAMI sebagai sebuah organisasi."
Selain itu, dengan melihat poin tersebut, politikus kelahiran Manado itu beranggapan ada ketidakadilan di dalam organisasi KAMI, khususnya dalam penunjukkan presidium.
"Terus kedua, bentuk organisasinya ada presidium tiga orang atau berapa orang."
"Dasar dari pembentukan presidium ini apa, apakah berdasarkan wilayah, berdasarkan organisasi yang terlibat, kan harus ada alat ukurnya," tanya Adian.
"Kalau ini sebagai gerakan moral, dia harus berlaku adil dong," pungkasnya.
(TribunWow/Elfan Fajar Nugroho)