Terkini Nasional

Partai Lain Ikut Koalisi, Mardani Berharap PKS Tak Sendiri: Niatnya Pendukung Prabowo Jadi Oposisi

Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Wakil Ketua Komisi II Mardani Ali Sera di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/7/2019).

TRIBUNWOW.COM - Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera berharap ada partai lain yang tetap berada di jalur oposisi.

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan saat dihubungi dalam tayangan Kompas Petang, Selasa (21/7/2020).

Diketahui sebelumnya pengurus Partai Gelora Fahri Hamzah menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Senin (20/7/2020) di Istana Negara.

Fahri Hamzah beberkan keluhan Jokowi padanya, Senin (20/7/2020) (Twitter @fahrihamzah)

Datangi Jokowi untuk Perkenalkan Partai Gelora, Anis Matta: Satu Kewajiban Moral Kami

Tidak hanya itu, Pengurus PAN Eddy Soeparno turut mendatangi Jokowi.

Dengan demikian, PKS menjadi satu-satunya partai besar yang tidak tergabung dalam koalisi penguasa.

Menanggapi hal itu, Mardani berharap PKS masih mendapat dukungan dari partai oposisi lainnya dalam pemilihan kepada daerah (pilkada) serentak mendatang.

"Yang pertama tentu PKS berharap jadi oposisi tidak sendirian," komentar Mardani Ali Sera.

Ia menilai demokrasi tidak sehat jika kekuatan koalisi terlalu besar.

Sebelumnya Mardani juga sempat menegaskan PKS akan tetap pada jalur oposisi.

"Yang sehat buat demokrasi itu antara oposisi dengan koalisi seimbang, 60-40 atau 55-45," ungkapnya.

Mardani kemudian menyinggung koalisi yang sebelumnya sempat dibentuk untuk mendukung pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pemilihan Presiden 2019.

Namun beberapa partai yang berkoalisi kemudian bergabung dengan pemerintahan.

Mardani mengaku PKS berharap partai-partai lain tetap menjadi oposisi setelah pilpres berakhir.

"Sebetulnya PKS dari awal niatnya seluruh partai pendukung Prabowo-Sandi jadi barisan oposisi," ungkap Mardani.

"Kenapa? Karena waktu itu 44 hampir 45, Pak Jokowi menang 55. Monggo Pak Jokowi memimpin, kita akan kontrol," jelasnya.

Gerindra Dukung Gibran di Pilkada Solo, Refly Harun: Makin Mesra Rupanya Prabowo dengan Jokowi

"Waktu itu kita punya platform yang berbeda, pembangunan yang berbeda, tawaran yang berbeda," lanjut Mardani.

Meskipun tidak lagi memiliki rekan oposisi, Mardani menegaskan partainya akan tetap pada sikap awal.

"Tapi sekarang kondisi seperti ini PKS akan belajar istiqomah, bahwa ayo kita jaga bersama apa janji kita dengan menjadi oposisi," tegasnya.

Mardani kemudian menyinggung Pilkada Desember 2020.

Ia membantah jika PKS tidak memiliki elektabilitas pada pilkada mendatang.

Menurut dia, justru banyak partai yang ingin menggaet PKS.

"Terkait dengan pilkada, PKS justru cukup kebanjiran tawaran untuk berkoalisi karena rata-rata partai itu, 'Ampun dah kalau ngelawan PKS, habis kita habis-habisan'," papar Mardani.

"PKS ini soliditas kadernya luar biasa, strukturnya kokoh. Itu membuat mesin politik kita menjadi sangat powerful," jelasnya.

Tidak hanya itu, Mardani menilai pilkada kali ini menjadi momentum kaderisasi bagi PKS.

"Kebanyakan minta kita nomor dua, tapi di beberapa tempat kita pengen saatnya mengajukan kader buat PKS," tambah Mardani.

Lihat videonya mulai menit 3:40

Effendi Gazali Sebut PKS 'Terkecoh' dalam Pilkada Solo

Pakar Komunikasi Politik, Effendi Gazali memberikan pandangannya terkait kondisi politik di Kota Solo menuju Pilkada 2020.

Dilansir TribunWow.com, Effendi Gazali mengatakan Partai Kesejahteraan Sosial (PKS) dibuat terkecoh.

• Peluang Gibran Lawan Kotak Kosong, Pangi Chaniago Sarankan Pilkada Solo 2020 Tak Perlu Digelar

Dikutip dari acara Apa Kabar Indonesia Malam 'tvOne', Senin (20/7/2020), Effendi Gazali membagi perjalanan PDIP ke dalam tiga panggung.

Di mana di panggung pertama tersebut pandangan masih tertuju pada Achmad Purnomo yang akan maju di Pilkada Solo 2020.

Termasuk dukungan penuh dari pengurus DPC PDIP Kota Solo, tidak terkecuali dari Wali Kota saat ini, FX Hadi Rudyatmo.

"Yang menarik ada tiga panggung, panggung pertama dalam hal ini PKS agak dalam tanda kutip agak terkecoh di panggung pertama," ujar Effendi Gazali.

PDI Perjuangan resmi mengusung Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakosa sebagai pasangan bakal calon wali kota dan wakil wali kota Solo pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. (Instagram @fx.rudyatmo)

"Panggung pertama itu adalah di Solo hampir sebagian besar termasuk bapak Wali Kotanya itu seperti mendukung Pak Purnomo ini, barangkali sampai tiga minggu yang lalu masih mendukung itu," jelasnya.

Namun rupanya hal itu berubah setelah memasuki panggung kedua, yakni ketika diadakannya pertemuan di istana bersama juga Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rangka membicarakan calon yang akan diusung oleh PDIP.

Dan hasilnya waktu itu Jokowi mengatakan bahwa PDIP akan memberikan rekomendasi kepada Gibran.

Keputusan tersebut sempat menyakini ada kekecewaan dari Achmad Purnomo.

• Pesan Ganjar Pranowo untuk Gibran Rakabuming: Soliditas Partai Paling Nomor Satu, Dikumpulkan Lagi

"Kemudian ada panggung kedua di istana, ini banyak yang bilang enggak boleh didiskusikan di istana," kata Effendi.

"Terus dibicarakan di situ."

Kemudian memasuki panggung ketiga.

Effendi Gazali membagi panggung ketiga menjadi dua panggung, yakni tiga A dan tiga B.

Dikatakannya bahwa panggung tiga A ini menyusul sikap kekecewaan dari Achmad Purnomo setelah keluarnya rekomendasi kepada Gibran.

Lantas mencuat kabar jika dirinya bakal tetap maju ke Pilkada Solo 2020 dengan diusung partai lain.

Sedangkan panggung tiga B yakni justru yang terjadi sekarang adalah sebaliknya, kabarnya sudah ada rekonsiliasi antara pihak Achmad Purnomo dengan Gibran.

"Panggung ketiga ini ternyata terbagi dua, 3A dan 3B, 3A adalah pak Achmad Purnomo dari istana itu masih marah-marah kelihatannya," ungkap Effendi.

"3B nya sekarang katanya sudah ada rekonsiliasi sudah mendukung untuk memenangkan," imbuhnya.

"Kita tidak tahu di panggung 3B ini apa yang terjadi."

• Risma Dukung Gibran Rakabuming Jadi Calon Wali Kota Solo, Harap Mimpi Anak Jokowi Jadi Kenyataan

Menurut Effendi, PKS merasa terkecoh dengan apa yang terjadi di panggung tiga A menyusul kecewanya Achmad Purnomo.

"3A itu yang membuat PKS itu seperti terkecoh," katanya.

"Tadi kata Pak Nus Irwan, harusnya PKS bisa mengajukan sendiri kan, jangan-jangan PKS berpikir PDIP akan maju sendiri dengan misalnya Pak Achmad Purnomo dengan Teguh Prakosa, jadi PKS tenang-tenang," pungkasnya. (TribunWow.com/Brigitta Winasis/Elfan)