TRIBUNWOW.COM - Aktivis Sosial, Geisz Chalifah membandingkan sikap menteri pada pemerintahan Jokowi dengan era Soeharto.
Dilansir TribunWow.com, Geisz Chalifah mengatakan para menteri pada era Soeharto tidak lebih buruk dengan menteri aktif saat ini.
Menurut Geisz Chalifah dalam acara Indonesia Lauwyers Club, Selasa (12/5/2020), pada masa pemerintahan Soeharto semua menteri justru mempunyai pandangan dan suara yang sama.
• Geisz Chalifah Sebut Pemerintah Terus Sudutkan Anies dan Jadi Oposisi Pemprov DKI: Dari Awal Corona
• Disentil 3 Menteri Jokowi soal Bansos, Anies Baswedan di ILC: Kita yang Ada di Lapangan Tahu Persis
Awalnya, Geisz meminta semua pihak, termasuk pejabat negara untuk bersatu dengan fokus yang sama, yakni melawan pandemi Virus Corona.
Geisz bahkan mengatakan dalam krisis ini, sudah sepantasnya masyarakat Indonesia untuk saling membantu.
Bukan malah ada pihak-pihak yang justru memanfaatkan situasi untuk mencari kesempatan.
Dirinya menyinggung soal kewajiban zakat dari yang semula 2,5 persen untuk sebisa mungkin lebih ditingkatkan.
Menurutnya bukan lagi soal hitung-hitungan harta kekayaan, karena tentunya masyarakat bawah sangat merasakan dampak dari wabah Corona ini dan membutuhkan bantuan.
"Udahlah, sekarang waktunya tidak mengeluarkan zakat 2,5 persen, sekarang waktunya kita mengeluarkan zakat 25 persen kalau perlu 50 persen," kata Geisz.
"Karena kondisi sekarang sedemikian rupa, jangan lagi berhitung dalam keadaan begini," ujar Geisz.
"Toh pada saat kita meninggal juga enggak bawa apa-apa."
• Teguran Ngabalin untuk Pendukung Anies, Minta Tak Lagi Bahas Pemilu: Logika Apa yang Anda Pakai?
Geisz menilai situasi di bawah sudah sangat memperihatinkan, khususnya soal ekonomi.
Ia mengaku geram ketika para elit pemerintah malah menyepelekan ataupun hanya memikirkan kepentingan sepihak.
"Jadi situasinya sudah sangat berbahaya bagi masyarakat dan itu yang kita lakukan di bawah," terang Geisz.
"Tapi di atas jadi panggung."
Lebih lanjut, Geisz kemudian secara terang-terangan mengaku bahwa dirinya merindukan pemerintahan era Soeharto.
Meski disadari pada saat itu sangat otoriter, namun setidaknya tujuan dari pemerintah untuk kesejahteraan rakyat.
Jadi tidak ada perbedaan pandangan ataupun kebijakan pada era Soeharto, semua dalam satu komando.
"Enggak normal kok tiba-tiba saya menjadi kangen terhadap yang sama-sama kita lawan bersama dengan Pak Ali Ngabalin zaman dulu. Soeharto itu," ungkap Geisz.
"Moerdiono itu kalau bocara hati-hati, kalem sampai kita bosen dengarnya."
"Tapi semua menteri sama suaranya, enggak beda," tegasnya.
• Mengaku Tersinggung Jakarta Disebut Tak Punya Uang, M Taufik Buka Anggaran Corona di DKI
Sedangkan sebaliknya saat ini, Geisz menilai mereka bekerja tidak untuk kepentingan rakyat.
Mereka dinilai sibuk dengan kepentingannya sendiri-sendiri.
Padahal di satu sisi, publik sedang berusaha untuk sama-sama menyelematkan dari wabah Corona.
"Dan kalau sekarang masing-masing menteri jadi panggung," kata Geisz.
"Kita yang di publik sedang berusaha mengupayakan masyarakat untuk diselamatkan berkolaborasi dengan pemerintah, pemerintah pusat maupun pemprov," tegasnya.
"Tetapi setiap hari santapan yang kita lihat adalah bagaimana keributan-keributan itu dijadikan segregasi di antara para pejabat itu sendiri."
"Kan lucu, tata kelola pemerintah kita seperti apa sebenarnya," kata Geisz menutup.
• Menangis di ILC, Warga DKI Jakarta Ngaku Tak Dapat Bansos Corona karena KTP: Gadaikan BPKB Dulu
• Pemerintah Naikkan Iuran BPJS Kesehatan di Tengah Pandemi Corona, Ini yang Jadi Alasannya
Simak videonya mulai menit ke- 2.19
(TribunWow/Elfan Fajar Nugroho)